"Tante, Cinta berangkat dulu, ya!" seru Cinta riang sembari menutup pintu kamarnya. Kemudian, meraih jemari Ayu, mengecup punggung tangan wanita itu. Sementara, ransel besar bertengger di bahunya, sedikit miring karena beban buku yang berat. Sedangkan, tangannya mendekap erat tumpukan laporan tugas seolah benda itu adalah harta karun yang paling berharga.
Ayu menghentikan kegiatan menyapu lantainya. Ia menatap gadis yang menguncir rambut panjang sebahunya seperti buntut kuda itu dengan binar heran. "Loh, memangnya profesor Dito udah pulang ke Jakarta? Bukannya kamu bilang beliau lagi ke luar kota selama seminggu, ya? Ini, kan, baru tiga hari?”
Cinta terkekeh. "Sudah pulang, Tan. Profesor Dito memang begitu, sulit ditebak. Plus …." Ia mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Ayu tertawa kecil. "Agak aneh," cicitnya.
"Hus, nggak boleh bicara begitu," tegur Ayu, meski senyum di bibirnya tak bisa berbohong.
Tawa mereka mendadak surut, berganti dengan binar hangat saat Dimas melangkah keluar kamar. Cowok itu telah terbalut jaket biru kesayangannya, sebuah jaket pemberian Eyang Putri. Ia menutup pintu.
"Mas, gue berangkat, ya!" sapa Cinta semringah, mencoba memecah dinding es yang masih sering menyelimuti Dimas.
Dimas tidak menoleh. Ia hanya duduk di kursi, tangannya meraih remote televisi untuk mengisi kekosongannya. "Hmm..." gumamnya pendek.
"Titip Dimas ya, Tan," bisik Cinta pada Ayu.
Ayu mengangguk dengan senyum terus terukir di wajahnya. “Iya, Cinta.”
Cinta pun melangkah menuju pintu depan. Namun, sesampainya di ambang pintu, ia kembali menghentikan langkahnya. Kemudian, berbalik dan berkata, "Tan, good luck ya buat rencana kita hari ini! Aku yakin semuanya lancar!"