Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #8

7 - Rumah Sakit Jiwa Harapan

Manik mata Cinta terpaku menatap selembar kartu nama yang ditemukan oleh Dimas siang tadi, di bawah sinar lampu yang kuning hangat di meja makan. Cowok itu yang memberikannya langsung kepada Cinta selepas makan malam. Oleh karenanya, tiga piring kosong masih tergeletak di atas meja, tetapi tak ada percakapan yang keluar di antara mereka. 

"Bukannya Profesor Dito itu Profesor kamu di rumah sakit, ya, Cin?" tanya Ayu memecah kesunyian.

Cinta mengangguk pelan, manik matanya masih terkunci pada tulisan di kartu tersebut. "Iya, Tan. Beliau adalah pembimbing utamaku."

Dimas pun ikut bersuara setelah sejak tadi hanya diam memperhatikan reaksi Cinta. "Kalau begitu, besok lo harus temenin gue ke Rumah Sakit Jiwa Harapan."

Cinta terpegun. Tatapannya pun beralih ke arah Dimas. Wajah cowok itu tampak serius. "Gue juga bakal ajak Lusi ke sana. Gue yakin banget kalau Profesor Dito tahu sesuatu tentang Devan," ungkap cowok itu tanpa ragu. 

***

Gedung Rumah Sakit Jiwa Harapan berdiri tegak di bawah langit pagi yang kelabu. Angin pagi yang membawa aroma tanah basah berembus pelan melewati jendela-jendela besarnya yang tampak kosong. Di balik kaca-kaca itu, tersimpan ribuan kisah tentang jiwa yang berkelana jauh di dalam labirin pikiran mereka sendiri, tak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia luar yang baru saja terbangun. 

Profesor Dito menyambut kedatangan empat tamunya dari balik meja kerja yang dipenuhi oleh tumpukan buku. Ada aroma kopi yang pekat dan senyum ramah terpampang di wajah pria itu. "Ayo, ayo, silakan masuk! Anggap saja rumah sendiri," sapanya sembari tangannya mempersilakan mereka mendekat. "Cinta sudah memberitahu saya kalau kalian bertiga ingin berkunjung hari ini," tambahnya.

Cinta mengerutkan kening samar. "Maaf, Prof, tapi kami berempat."

Profesor Dito terdiam sejenak. Ia menatap ke arah tamu-tamunya. Kening pria itu berkerut dalam seolah sedang berusaha memfokuskan penglihatan. Detik berikutnya, tawa renyah pecah dari bibirnya. "Hahaha! Astaga, maafkan saya. Sepertinya kacamata tua ini memang sudah harus di LEMBIRU, Lempar, Beli yang Baru. Hahahaha …," celetuknya.

Profesor Dito pun melepas kacamatanya. Lalu, mengelap lensanya dengan ujung kemeja dengan gerakan canggung, setelah itu memakainya kembali. "Nah, sekarang saya bisa melihat kalian semua dengan jelas. Hahaha! Mari, silakan duduk. Cinta, tolong tarikkan satu kursi lagi untuk temanmu."

Ayu dan Dimas duduk bersisian, sementara Cinta menarik kursi tambahan untuk Lusi. 

“Duduk, Lus,” anjur Cinta

Lusi pun duduk. “Thank’s, Ta,” ungkapnya.

Dimas tidak membuang waktu dan langsung memberitahu keinginannya kepada Profesor Dito. "Jadi, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk bertemu dengan Devan Prakoso. Apa benar dia pasien di rumah sakit ini?"

Senyum di wajah Profesor Dito perlahan memudar. Ia melirik Cinta sesaat, seolah mencari petunjuk, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk. "Ya, Devan Prakoso adalah pasien di rumah sakit ini."

Dimas dan Lusi tampak kian antusias. "Kalau begitu, apa saya bisa bertemu dengannya, Prof?" tanya Dimas cepat.

"Tentu," jawab sang Profesor tenang. "Mari, saya ajak kalian ke kamarnya."

***

Dimas berdiri di sebuah ruangan yang tidak lebih dari sebuah kotak putih yang kosong. Dindingnya yang pucat tanpa hiasan memberikan kesan kaku dan steril. Tak banyak perabot di sana; hanya ada ranjang dengan seprai yang tertata rapi, sebuah lemari besi tua, serta nakas kecil yang menemani di sisi tempat tidur.

"Devan adalah pasien saya yang mengidap Skizofrenia," jelas Profesor Dito sambil berdiri–bersisian dengan Dimas–di tengah ruangan.

"Skizofrenia?" Dimas mengulang kata itu dengan nada bingung.

Lihat selengkapnya