Matahari siang merayap naik, memanggang atap-atap rumah dengan cahayanya yang menyilaukan. Di teras rumah Eyang yang tenang, kesunyian mendadak pecah oleh suara yang menggelegar layaknya guntur.
Tok! Tok! Tok!
"ASSALAMUALAIKUM, NYAK!" teriak Dara. Suaranya yang melengking membuat burung-burung di dahan pohon mangga beterbangan karena terkejut.
Yoyok, yang sedang asyik merapikan kumis tipisnya dengan sisir kecil, langsung berjingkat kaget. Jantungnya hampir copot. Ia menyikut lengan Dara keras dengan wajah masam. "Heh, badak bercula! Ndak usah mentang-mentang awakmu gede, lambemu yo melu gede koyo toa masjid!"
Dara tidak terima. Ia berkacak pinggang, menatap sepupunya dengan pandangan meremehkan. "Ihh... sirik aja lo, Kumis Lele! Asal lo tahu ye, gue itu pan udah kurusan!"
Yoyok mencibir, sementara matanya menyisir tubuh Dara yang menurutnya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda "kurus". Cowok yang mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan motif yang agak ramai, dan warna yang sedikit mencolok itu sudah akan kembali berdebat dengan Dara ketika pintu depan terbuka. Dimas muncul dari balik pintu, wajahnya tampak terganggu oleh kegaduhan di depan rumahnya.
"Berisik banget, sih, kalian berdua," semprot Dimas.
Ayu yang mendengar keributan dari dalam pun ikut bersuara, "Mas, teman-teman kamu kalau sudah datang, suruh langsung ke dapur saja ya, Nak!"
Dimas menoleh ke belakang, lalu menyahut, "Iya, Mah.”
Namun, cowok itu kembali menatap Dara dan Yoyok yang berdiri sembari tersenyum senang di depannya. Lalu, tatapannya melembut saat melihat Lusi yang berdiri manis di sisi Dara, gadis yang saat ini tampil percaya diri dengan setelan kulot warna kuning terang yang berkibar setiap kali gadis itu melangkah. Rambut kribonya dijepit asal dengan jedai merah, sementara tas kecilnya yang mungil tampak kontras dengan semangat makannya yang luar biasa.
"Ayo masuk, Lus," ajak Dimas sembari membuka pintu lebar-lebar untuk Lusi, mempersilakan gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, begitu Dara dan Yoyok hendak mengekor, Dimas dengan sigap menghadang jalan mereka. Bahunya yang lebar menutupi celah pintu.
"Lo berdua di luar saja. Jaga pintu!" ucap Dimas dingin, lalu braak! pintu ditutup tepat di depan hidung mereka.
Dara dan Yoyok tertegun sejenak. Mereka saling berpandangan dengan mulut menganga, sebelum akhirnya berteriak serempak hingga dinding rumah seolah bergetar. "DIMAAAASSSS!"
***
Aroma gurih semur jengkol dan sambal goreng terasi menguar ke udara, membelai indra penciuman siapa pun yang ada di dapur. Ayu dan Cinta tampak sibuk menata lauk-pauk ke atas meja. Namun, Lusi hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat dua sepupunya itu yang sudah lebih dulu menyantap makan siangnya dengan lahap.
"Kalian makannya pelan-pelan, dong. Nggak enak sama Tante Ayu," bisik Lusi malu.
"Tahu, nih! Rakus banget sih lo berdua! Nyesel gue ajak kalian ke sini," timpal Dimas ketus. Ia duduk di samping Lusi, sementara Cinta sibuk meletakkan piring-piring tambahan ke atas meja sembari maniknya diam-diam memperhatikan interaksi mereka.
Dara menyuap nasi dengan mulut penuh, pipinya menggembung lucu. "Pan aye laper! Lagian masakan Enyak Ayu enak banget!"
Yoyok hanya bisa manggut-manggut setuju, mulutnya terlalu sibuk mengunyah paha ayam bumbu kuning. "Bener. Bener banget," gumamnya tak jelas.
Ayu tersenyum sambil meletakkan mangkuk sayur bening ke atas meja. Lalu, duduk di hadapan Dimas. "Biarkan saja, Mas. Itu artinya masakan Mamah memang cocok di lidah mereka."
"Tuh, dengerin!" ledek Yoyok sambil memeletkan lidah ke arah Dimas. Sementara Dimas hanya bisa berdecak kecil melihat tingkah mereka.
***
"Terima kasih banyak ya, Tante, buat makan siangnya," ungkap Lusi sembari berjalan bersisian dengan Dara dan Yoyok ke depan rumah. Sementara Ayu dan Dimas mengekori ketiganya di belakang.
"Sumpah, ya, Nyak, makanannye juara banget. Apalagi semur jengkolnya, waahh—" Dara mengembuskan napas panjang, menikmati sisa rasa jengkol yang masih tertinggal.
Namun, Yoyok yang berada di samping gadis itu, langsung menutup hidungnya. "Astagfirullahaladzim ... Heh, Dara! Iku cangkem opo kubangan? Kok ambune mambu tenan!"
Dara melotot. "Enak aje lo bilang mulut aye kayak kubangan! Lah, itu kumis lo cocok tuh buat nyapu kubangan! Nih, rasain nih!" Tanpa ampun, Dara mengembuskan napas naga-nya tepat ke wajah Yoyok.
Yoyok limbung, merasa dunianya berputar karena aroma yang begitu dahsyat, lalu memilih lari tunggang langgang. Dara mengejarnya dengan tawa kemenangan.
Dimas hanya mengembuskan napasnya melihat tingkah keduanya. "Begitu tuh mereka, Mah. Berantem terus, nggak pernah akur."
Ayu tersenyum tipis, lalu menoleh pada putranya. "Mas, kamu antar Lusi sampai rumahnya, kan?"