Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #10

9 - Kenyataan Yang Memilukan

Udara pagi yang segar membawa aroma pisang goreng yang manis dan gurih, menguar dari penggorengan besar di depan pagar rumah. Ayu, dengan celemek yang sedikit terkena noda tepung, tampak dengan cekatan membalik adonan di dalam minyak panas. Di sampingnya, Dimas membantu dengan semangat. Mereka tampak kewalahan melayani antrean tetangga yang silih berganti datang. Sementara tawa riang tak lepas dari wajah keduanya.

Dari teras rumah, Cinta memerhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis yang mengembang. Ia duduk dengan ditemani tumpukan kertas laporan tugas yang tengah disusunnya. Jemarinya menari di atas papan ketik, tetapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Dimas yang sedang tertawa lebar. Ada kebahagiaan yang meluap di dada saat melihat cowok itu tampak begitu normal, meski Cinta tahu, kabut di dalam pikiran Dimas bisa datang kapan saja tanpa diundang.

Siang merayap, membawa hawa panas yang mulai menyengat. Dimas duduk mematung di meja belajarnya, di dalam kamar. Pena di tangannya bergerak lincah di atas buku catatan. Wajahnya berseri-basi, dipenuhi oleh kepuasan seorang penulis yang baru saja menemukan muara ceritanya.

"Sebentar lagi tamat," bisiknya dengan binar mata yang terpancar.

Tak lama kemudian, Dimas menutup buku itu, lalu merentangkan kedua tangan ke udara untuk melemaskan otot-ototnya yang tegang, lalu bangkit dengan langkah ringan menuju pintu. Sementara di kepalanya, cowok itu terus merapalkan bahwa dirinya adalah seorang penulis sukses yang baru saja menyelesaikan mahakaryanya.

Di lain sisi, Cinta keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Tas sudah tersampir di bahu, dan setumpuk laporan tugas ia dekap di dada. Ia melirik ke ruang tengah, melihat Ayu yang sedang duduk sembari menonton televisi.

"Tan, Cinta ke rumah sakit dulu, ya?" pamitnya sambil menghampiri dan mencium punggung tangan Ayu.

Ayu menoleh, sedikit terkejut. "Tumben, kok, berangkatnya siang, Cin?"

Cinta mengangguk. "Iya, Cinta kesiangan, Tan. Tadi malam tidurnya telat, karena harus menyelesaikan laporan," jawabnya.

"Ya sudah, hati-hati di jalan, ya."

Cinta berbalik dan berlari kecil menuju ruang depan. Namun, nasib berkata lain. Tubuh mungil Cinta justru membentur tubuh Dimas yang baru keluar kamar. Braakk! Alhasil, tubuh gadis itu terpental pelan dan tumpukan kertas yang didekap erat kini terbang berserakan di lantai layaknya kelopak bunga yang berguguran diterjang badai.

"Ya ampun, laporan gue!" seru Cinta panik. Ia segera berlutut, memunguti lembar demi lembar dengan cekatan.

"Lo gimana, sih? Kalau jalan pakai mata dong!" gerutu Dimas. Meski mulutnya mengomel, cowok itu tetap berlutut membantu Cinta merapikan kertas-kertas itu.

“Iya, sorry.” Cinta masih merapikan berkas-berkasnya.

Dimas pun bangkit dengan tangan yang telah berhasil memungut beberapa laporan milik Cinta. Namun, alis cowok itu bertaut saat melihat satu lembar sampul depan. Kini, matanya terpaku pada sebuah nama yang tertulis besar di sana.

"ARUNA"

Cinta yang menyadari apa yang sedang dibaca Dimas, mendadak pucat pasi dengan jantung berdentum cepat. Gadis itu segera berdiri dan berusaha meraih laporan itu dari tangan Dimas. "Ma-Mas, balikin laporan itu ke gue!" pintanya dengan nada suara ketakutan.

Dimas tak menyahut. Ia menepis tangan Cinta dengan kasar saat gadis itu mencoba meraih kertas tersebut. Lembar demi lembar ia baca dengan saksama. Ayu bangkit dari kursinya dengan wajah panik. Sementara Cinta menoleh sekilas ke arah Ayu, sebelum kembali menatap Dimas.

“Mas, lo nggak boleh baca itu! Serahin laporan itu ke gue!” Cinta kembali berusaha merebut laporannya dari tubuh jangkung Dimas.

Namun, Dimas justru menangkap tangan Cinta ketika manik matanya tertuju pada satu paragraf yang berhasil menghujam jantungnya. Di sana tertulis jelas bahwa Subjek pengamatan: Devan Prakoso. Diagnosis: Skizofrenia. Dan, terdapat pula tanda tangan Ayu serta Eyang Putri sebagai bentuk persetujuan medis di bawahnya.

"APA INI?!" bentak Dimas tiba-tiba. Suaranya menggelegar, merobek keheningan rumah. Ia mencengkeram pergelangan tangan Cinta semakin kuat.

"Mas, sa-sakit. Lepasin tangan gue!" Cinta meringis, matanya mulai berkaca-kaca.

Ayu berlari menghampiri mereka dengan cemas. "Mas, lepasin tangan Cinta!"

"Berisik! Lo nggak usah ikut campur!" Dimas menunjuk wajah Ayu dengan tatapan penuh kebencian dan juga kebingungan.

Ayu tersentak mendengar itu. Wanita itu pun memilih diam dengan air mata yang mulai mengalir.

Dimas kembali menatap Cinta, wajahnya memerah karena emosi yang meluap. "Sekarang gue minta lo jelasin semuanya! Siapa sebenarnya lo?!"

"I-iya, gue bakal jelasin semuanya, tapi lepasin tangan gue dulu, Mas!"

Dimas mendengkus geram, lalu melempar tangan Cinta dengan kasar hingga gadis itu terhuyung. Cinta mengusap tangannya yang memerah, kemudian menatap Dimas dengan tatapan sendu dan penuh luka.

"Gue bukan Cinta. Nama gue Aruna. Gue bukan mahasiswi yang sedang magang, Mas. Tapi, gue psikiater yang ditugaskan Profesor Dito buat jaga lo," ucap Aruna akhirnya. Namun, bagi Dimas, kalimat itu jatuh seperti bom yang meledak di tengah ruangan.

Lihat selengkapnya