Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #11

10 - Semua Tentang Kebenaran

Kegelapan menyelimuti tubuh Devan yang berbalut pakaian serba putih di sudut kamar sempit nan pengap itu. Impian yang gagal, harapan yang dipatahkan, dan ekspektasi yang berserakan. Rangkaian peristiwa tragis itu kembali berputar di kepalanya. 

Devan terduduk sembari memeluk raganya, mendekap hangat tubuh yang telah compang camping dihancurkan oleh kenyataan. Lantas, adakah jalan pulang untuknya? Entahlah. Sebab, kegelapan memilih bungkam. Cowok itu tertawa getir. Bahkan, kegelapan saja tak lagi ingin berbicara dengannya.

Namun, tiba-tiba kegelapan itu retak layaknya cermin. Lalu, seberkas cahaya putih menyusup paksa melalui celah kelopak matanya yang terasa berat. Kini, Devan terpegun. Bayangan di sekitarnya mulai memadat ketika ia mengedipkan mata. Ruangan itu seolah mengapung di atas air, bergoyang mengikuti denyut di pelipisnya yang terasa seperti dihantam palu. Setiap kali ia mengerjap, cahaya itu seolah menghujam retina, meninggalkan jejak pendaran yang menyakitkan.

"Devan."

Tiba-tiba, sebuah suara membelah kesunyian. Suaranya berat dan lembut, selembut embusan angin, tetapi juga terasa seperti cengkeraman.

Devan bergegas bangkit sembari matanya mengedarkan pandangan, mencari sumber suara itu, tetapi ia hanya menemukan kekosongan.

Hingga akhirnya, cahaya itu merayap, kian lama kian membesar. Kesadarannya pun ditarik paksa kembali ke permukaan. Seisi kepalanya berdenyut. Selajur sinar lampu neon kini menghantam matanya. Sementara tubuhnya yang lesu tanpa daya terbaring dibanjiri keringat.

"Devan, kamu bisa dengar saya?" Suara itu, suara yang sama dengan yang memanggilnya di kegelapan. Devan sangat mengenalnya. Suara Profesor Dito.

Manik Devan menjelajah seisi ruangan dan mendapati dirinya kini berada di sebuah ruangan serba putih. Sebuah ruangan yang sama seperti yang pernah dikunjunginya saat ia mencari sosok ‘Devan’. Cowok itu mencoba terduduk. Namun, ia meringis, mencengkeram kepalanya yang begitu menyakitkan. Kendati begitu, ia masih cukup normal untuk bisa mengingat kejadian saat di lorong rumah sakit.

"Apa yang udah lo kasih ke gue?" Suara cowok itu serak, nyaris tak terdengar.

Profesor Dito pun menjawab, "Obat penenang."

Namun, Devan justru mengumpat, "Shit!" Amarahnya mulai menyulut, meski tubuhnya masih lunglai. 

“Saya akan membantu kamu, Devan.”

"Gue Dimas! Bukan Devan! Berhenti panggil gue pakai nama itu!" bentak Devan tiba-tiba. Cowok bertubuh ringkih itu menatap Profesor Dito yang duduk di samping ranjangnya dengan menghujam. 

Profesor Dito mengangguk pelan. "Ya, ya. Dengarkan saya, Dimas. Aruna sudah mengatakan semua kebenaran kepadamu."

"Mengatakan apa? Kalau gue itu sakit?" Devan tertawa getir.

Profesor Dito mengembuskan napas panjang, tatapannya kini berubah serius dan lebih dalam dari sebelumnya. "Ini bukan hanya soal kondisimu saat ini, Dimas. Ini tentang kamu … dan juga ayahmu."

Mendadak tubuh Devan berubah tegang ketika mendengar kata 'Ayah’. Alisnya bertaut rapat. "Ayah?"

"Sebenarnya, yang membunuh ayahmu malam itu …." Profesor Dito menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan kecemasan menyusup ke sela-sela ruangan. 

"Adalah kamu sendiri, Dimas."

Devan terpaku. Cukup lama. Pupil matanya mengecil, menatap Profesor Dito dengan binar mata yang campur aduk antara tidak percaya dan ketakutan yang dalam. Ia mencoba tertawa meremehkan—sebuah tawa yang terdengar menyakitkan.

"Dasar gila," desisnya. Suaranya bergetar. "DASAR PEMBOHONG!” Kali ini, ia menaikkan nada suaranya.

Profesor Dito menggeleng. "Saat di penjara, Mamahmu menceritakan semuanya ke saya. Kalau malam itu …."

Profesor Dito pun mulai menceritakan semuanya. Suara pria berjas putih itu seberat sauh yang tenggelam ke dasar laut, menyeret kesadaran Devan ke dalam palung ingatan yang paling kelam. Ruangan itu mendadak terasa menyempit. Dinding-dinding putihnya seolah mulai menutup, menjepit napas Devan hingga ia terpaksa mengirup udara yang terasa seperti debu. 

***

Jakarta, 2007.

Hujan turun begitu deras, membasuh atap rumah berlantai dua dengan suara gemuruh yang tak kunjung usai. 

Ruang makan masih menyisakan aroma sedap selepas makan malam. Ayu tampak sibuk merapikan meja, memastikan setiap sudutnya kembali bersih. Sementara itu, Enyak Aini mulai mengumpulkan piring-piring kotor dengan gerakan cekatan dan menumpuknya ke wastafel. Denting porselen yang beradu menjadi musik latar di dapur yang tenang itu. 

Ayu tak tega membiarkan ibu mertuanya itu bekerja sendirian, ia pun segera menghampiri untuk membantu. "Sini, Nyak. Biar Ayu saja yang cuci piring," tawarnya lembut.

Enyak Aini tersenyum, logat Betawinya yang kental memberi sedikit warna di tengah dinginnya malam. "Udeh, kagak usah. Biar Enyak aje yang beresin. Mendingan lu samperin dah tuh jagoan kecil Enyak di kamarnye. Kasihan die sendirian bae."

Ayu mengangguk patuh. Wanita itu pun pergi meninggalkan ibu mertuanya untuk melangkah menuju lantai atas.

Lihat selengkapnya