Devan merasakan gada berduri menghantam wajahnya setelah mendengar cerita Profesor Dito. Cowok itu masih duduk dengan punggung bersandar pada dipan ranjang. Sorot matanya tajam, tapi ada kilat meremehkan yang menari-nari di sana.
Sedangkan Profesor Dito duduk dengan tenang. Wajahnya yang penuh kerutan usia memancarkan ketenangan yang justru dirasakan Devan sebagai ancaman.
“Mamahmu hanya ingin kamu selamat, Dimas.” Suara Profesor Dito meluncur rendah, membawa bobot kenyataan yang berat. "Dia nggak mau masa depanmu hancur karena dosa yang nggak sengaja kamu lakukan. Itulah sebabnya, di depan hukum, dia mengambil semua beban itu. Dia mengaku sebagai pembunuh ayahmu agar kamu bisa terus hidup tanpa rasa bersalah."
Sebuah tawa sarkas lolos dari bibir Devan. Ia merasa sedang mendengarkan sebuah dongeng yang terdengar konyol.
"Sejak pembunuhan itu, kamu mengalami trauma hebat yang membuatmu amnesia," lanjut sang Profesor tanpa goyah. "Kamu menghapus ingatan tentang tangan kecilmu yang memegang logam itu, dan sebagai gantinya, kamu mematri bayangan ibumu sebagai pelakunya. Lalu, kamu mengunci kebenaran itu rapat-rapat di pikiranmu."
Tiba-tiba sebuah bisikan muncul dalam pikiran Devan, membuat tubuhnya membeku.
“Udah, Devan jangan nangis lagi, ya. Ada Mamah di sini."
Lalu, bisikan itu perlahan berganti menjadi keriuhan.
"DASAR PEMBUNUH!"
"Mamah mau kamu lupain kejadian malam ini. Ingat! Kamu nggak salah! Mamah yang salah, karena nggak bisa jagain kamu."
“DASAR PEMBUNUH.”
“Mamah mau kamu lupain ….”
“DASAR PEMBUNUH.”
“DASAR PEMBUNUH.”
Suara-suara itu kini beradu, tumpang tindih, dan berputar-putar hingga membuat telinga Devan berdengung, meninggalkan sensasi memusingkan. Di tengah dengingan yang menggelisahkan itu, kegaduhan menjelma. Ada yang tertawa, ada yang berteriak, dan ada pula yang menangis. Semua lebur menjadi satu.
Sekujur tubuh Devan kian kaku. Sebagian inderanya berhenti berfungsi. Tangannya yang membasah karena keringat, terkepal. Ingin rasanya ia meneriakkan sesuatu untuk mengusik kegaduhan itu. Namun, sebongkah kegelisahan menghalaunya. Ia harus tetap terlihat normal di depan Profesor Dito, pikirnya. Hingga akhirnya, cowok itu lunglai dengan memejamkan matanya sesaat. Hingga suara Profesor Dito berhasil mengambil kembali atensinya.
“Kamu juga menciptakan dirimu yang lain, yaitu sosok Dimas. Sebuah identitas yang nggak berdosa. Selain itu, kamu juga menciptakan kenyataan lain, kenyataan palsu untuk melindungi dirimu dari trauma, ketakutan, dan kengerian atas pembunuhan itu.”
Sorot mata Profesor Dito meredup saat tirai masa lalu tersingkap. Dalam benaknya, untaian cerita yang dulu pernah dikisahkan Eyang Putri mulai berputar kembali.
Saat itu, sinar matahari pagi menembus jendela, menyinari Devan yang sedang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya.
"Ayo makan dulu, Devan," bujuk Eyang Putri sembari menyodorkan sendok yang berisi nasi ke arah sang cucu.
Anak itu menoleh, matanya jernih, tetapi tampak asing. "Enggak mau.” Ia menggeleng, lalu menunjuk wajah Eyangnya. “Iiihh … eyang lupa lagi, ya? Nama aku, kan, Dimas. Bukan Devan, Yang. Eyang udah pikun nih."
Eyang Putri hanya bisa terpaku, melihat bagaimana cucunya secara perlahan mulai menghilang ke dalam sosok asing yang diciptakan anak itu sendiri. Merasa ada keanehan terhadap sang cucu, Eyang Putri pun membawa Devan menemui Psikiater di Rumah Sakit Jiwa Harapan.
“Cucu saya kenapa, dok?” tanya Eyang Putri. Suaranya terdengar khawatir.