Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #13

12 - Delusi

Devan berdiri mematung di depan rumah Lusi, menatap bangunan itu dengan tatapan tak percaya. Rumah yang biasanya menjadi tempat paling hangat dalam ingatannya kini tampak asing; dinding-dindingnya menguning, kotor, dan tak terawat, seolah waktu telah berhenti di sana bertahun-tahun yang lalu. 

Devan menggeleng kuat. Cowok itu bergegas mendorong pintu depan dengan tangan gemetar, lalu melangkah masuk dengan napas yang memburu. Keringat dingin pun mengucur pesat, membasahi bajunya. Matanya yang merah, merayap cemas ke seluruh penjuru ruangan, mencari-cari kehidupan di tengah keheningan yang mulai menyesakkan. Namun sayangnya, ia hanya menemukan debu yang menari-nari di bawah berkas cahaya matahari. 

Devan berlari ke arah ruang tengah dengan panik, sembari meneriakkan sebuah nama yang ia harapkan akan menjawabnya dengan kelembutan. "Lusi!" 

Namun, langkahnya terhenti. Ruangan itu kosong. Hampa. Lantainya diselimuti debu tebal. Tidak ada suara televisi yang bising, maupun wangi masakan. Hanya ada bau apak dari kayu yang mulai melapuk.

Kini, kepanikan cowok itu mulai mencengkeram jantungnya. Ia kembali berlari, kali ini menuju dapur dengan harapan yang mulai menipis. "Yoyok! Dara!" teriaknya lagi.

Sayangnya, dapur itu tak berpenghuni. Ruangan itu dipenuhi oleh sarang laba-laba yang bergelantungan di sudut-sudut plafon. Meja makan yang biasanya penuh dengan candaan kini tertutup jelaga hitam. Devan menggeleng lemah, mundur selangkah demi selangkah. "Nggak. Nggak mungkin!" ucapnya lirih.

Kemudian, Devan membalikkan tubuh dan kembali berlari ke ruang tamu. Ia mencari sosok Lusi dengan panik. "Lusi, kamu di mana? Lusi!" 

Berkali-kali Devan memanggil nama itu, tetapi tak kunjung ada sahutan.

Lelah. Devan pun memutuskan berdiri mematung di tengah ruang tamu yang kotor itu. Matanya menjelajah dengan nanar, menyusuri setiap sudut ruangan yang dinding-dindingnya telah menguning dimakan usia. Ia menggeleng perlahan, mencoba menolak kenyataan pahit yang tersaji di depan matanya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya, sementara jemarinya menjambak rambut dengan frustrasi. 

Hingga akhirnya, kekuatan di kakinya pun sirna. Tubuhnya merosot jatuh hingga kedua lututnya menghantam lantai yang dingin, sebelum akhirnya raungan cowok itu memantul di antara dinding-dinding rumah yang sunyi.

"Aaarrrgggh!"

Devan tertunduk lesu, membiarkan tubuhnya hancur dalam dekap duka yang mendalam. Tinjunya berulang kali menghantam lantai yang dingin. Ia terus menggelengkan kepala, menyangkal semuanya di antara isak tangis yang menyesakkan dada. "Enggak. Ini enggak mungkin terjadi!"

Hingga akhirnya, Devan menjerit histeris, memanggil nama yang kini terasa seperti bayangan di tengah kegelapan. "LUSI, KAMU DI MANA?" 

Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. 

Lihat selengkapnya