Cahaya temaram menyelimuti ruangan yang terbengkalai itu. Tiga buah lilin berpendar sembari menari-nari di atas meja kayu usang, menciptakan bayangan panjang di dinding yang mengelupas. Devan tidur dengan gelisah dalam dekapan selimut di atas sofa lusuh. Ia tampak terjebak dalam labirin mimpi buruk yang menyiksanya. Butiran keringat dingin mengucur deras dari keningnya, sementara napasnya terdengar bergemuruh hebat.
Dalam mimpinya, Devan kecil berdiri mematung dengan napas yang tersengal. Matanya membelalak ketakutan menatap sosok mengerikan yang berdiri di depannya. "A-ayah?" bisiknya bersamaan dengan guntur yang menggelegar.
Bagas berdiri di pojok ruangan yang pekat. Darah merembes membasahi pakaiannya. Sebuah gunting tertancap di perut, memantulkan cahaya yang mengerikan. Wajah pria itu tampak pucat pasi.
"Kenapa kamu cuma diam saja? SEHARUSNYA KAMU MENYELAMATKAN AYAH, DEVAN!" pekik Bagas dengan suara parau.
Devan hanya bisa menggeleng lemah. Kaki mungilnya pun melangkah mundur ke belakang secara perlahan. "Enggak! Jangan mendekat! Ayah sudah mati!" desaknya.
Sayangnya, Bagas justru tersenyum mengerikan, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang juga berlumur darah segar. Melihat itu, Devan menangis sesenggukan. Tubuhnya gemetar hebat, terjepit di antara dinding dan bayangan ayahnya yang kian mendekat.
Devan kembali menggelengkan kepala, mencoba menolak kenyataan mengerikan di depannya. Namun, ketakutannya semakin memuncak manakala melihat Bagas mencabut gunting yang tertancap di perutnya. Lalu, tanpa ragu, pria itu mengarahkan ujung tajam gunting tersebut tepat ke arah Devan sembari berteriak kencang. "SEHARUSNYA KAMU YANG PANTAS MATI! DASAR PEMBUNUH!”
Devan refleks melindungi tubuh dengan kedua tangannya sambil berteriak tak kalah kencang. "JANGAAAN!"
***
Devan tersentak bangun dengan teriakan yang membelah kesunyian malam. Matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang, dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Namun, belum hilang kecemasan itu, kini Devan dikejutkan dengan tangan kirinya yang tak sengaja menyenggol lilin. Api kecil itu jatuh, lalu merayap cepat dan melahap ujung selimut usang yang menjuntai ke lantai.
Devan kalang kabut. Ia segera bangkit dari sofa dan berusaha untuk memadamkan api yang menyala dengan menginjaknya. Sayangnya, semakin lama api itu kian membesar, bahkan telah berhasil melahap sofa dan sebagian dinding.
"Dimas!"
Devan menoleh saat mendengar suara Lusi, tetapi mendadak jantungnya seakan berhenti berdetak kala maniknya menemukan Lusi, Dara, dan Yoyok yang saat ini tengah terjebak di antara kepungan api.
Dara dan Yoyok terlihat saling berpelukan. "Gimane cara kite keluar dari sini, Yok?" tanya Dara. Suaranya terdengar parau tertelan gemuruh kebakaran. Gadis itu terisak di tengah kepungan lidah api yang menjilat-jilat udara. Lalu, tangisnya pun pecah.