Imperfect Family

Rosiana Quraisin
Chapter #15

14 - Ruang Harapan

Tiga hari kemudian.

Cahaya pagi menyusup di antara celah jendela ruang perawatan Rumah Sakit Jiwa Harapan. Devan tampak duduk bergeming dan bersandar pada dipan ranjang. Tatapan matanya kosong, terpaku pada dinding putih di hadapannya.

Pintu berderit pelan. Aruna melangkah masuk dengan membawa sebuah nampan berisi segelas air mineral dan sebotol obat. Lalu, meletakkannya di atas nakas. 

"Minum obat dulu ya, Van," ucap Aruna lembut. Ia mengulurkan sebuah pil kepada cowok itu. Namun, mendadak berhenti, karena ragu. 

Aruna menghela napas panjang dan meletakkan kembali pil tersebut ke atas nampan. Ia memilih duduk di tepi ranjang, lalu perlahan meraih tangan kiri Devan, menggenggamnya erat demi menyalurkan kehangatan. 

"Mau sampai kapan lo kayak gini, Van?" Suara gadis itu bergetar menahan sedih. "Lo enggak kangen sama nyokap lo? Nyokap lo sekarang masuk rumah sakit dan pengen banget ketemu sama lo." Aruna menarik napas sejenak, menatap lekat-lekat wajah Devan yang seolah kehilangan jiwa. "Lo harus sadar, Van. Lo harus sembuh!"

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Aruna tertunduk, bahunya berguncang pelan karena terisak. "Lusa gue harus pergi…," bisiknya parau. Ia mendongak kembali, memaksakan diri menatap Devan meski pandangannya mengabur oleh air mata. "Gue mau ambil gelar Doctor di Singapura. Sebenarnya gue enggak mau ninggalin lo dalam kondisi masih kayak gini, Van. Tapi, gue juga enggak bisa mengubur impian gue begitu aja. Sebelum gue pergi, gue mau lo bangkit. Gue mau lo bisa menerima semua yang udah terjadi."

Genggaman tangan Aruna mengencang, seolah takut melepaskan satu-satunya jangkar emosinya. "Van, gue juga mau jujur ke lo. Gue udah memendam perasaan ini cukup lama, dan sekarang gue mau lo tahu ... kalau gue sayang sama lo, Van."

Tiba-tiba Devan bereaksi, membuat Aruna terpaku saat melihat seulas senyum tipis terukir di bibir cowok itu. Mata Devan tetap lurus menatap kekosongan pada dinding, seolah tengah melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain. "Lusi," gumamnya lirih. "Dara. Yoyok."

Melihat itu, Aruna merasakan hatinya teriris. Ia menyeka air mata di pipinya dengan menggunakan punggung tangan. Ia bangkit berdiri sembari menatap sendu ke arah Devan. Sebelum kemudian memilih melangkah pergi meninggalkan Devan yang nyatanya masih terjebak di dunianya sendiri.

***

Waktu terus bergulir hingga malam bergelayut. Jarum jam di dinding telah menunjukkan pukul tengah malam. Aruna tampak terlelap dalam posisi duduk, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang Devan.

Berbeda halnya dengan Devan yang tidur dengan gelisah. Tubuh lemahnya bergeser ke kanan dan ke kiri, sementara butiran keringat dingin mengucur deras di keningnya. Napas cowok itu memburu cepat, memompa dada yang naik turun dengan tidak beraturan.

Lihat selengkapnya