Pagi itu, rumah sakit umum tampak begitu tenang di bawah sapuan cahaya fajar. Ayu tampak duduk bersandar di atas kursi roda, menatap lurus ke luar jendela yang terbuka lebar di dalam salah satu ruang perawatan. Semilir angin pagi berembus lembut, menerpa jilbabnya hingga melambai pelan, menerbitkan senyum tipis di wajahnya.
Di lain sisi, Mbak Happy duduk dengan tenang sambil mengupas buah apel di samping ranjang. Sesekali maniknya mengekori Ayu untuk memastikan kenyamanan wanita di sebelahnya itu. Namun, suara langkah kaki yang tergesa memecah keheningan ruangan. Devan muncul di ambang pintu, napasnya sedikit memburu.
"Mah," panggil Devan lirih.
Ayu menoleh dan tertegun ketika melihat putra semata wayangnya datang. Kebahagiaan pun tak kuasa membuncah di dada. "Devan," sahutnya dengan suara bergetar senang.
Devan langsung menghampiri ibunya. Ia bersimpuh di lantai, meraih kedua tangan Ayu yang terkulai di pangkuan, lalu mengecupnya dengan takzim. Air mata Devan luruh begitu saja, membasahi punggung tangan sang ibu. Sementara Ayu tak kuasa menahan tangis bahagianya. Jemari wanita itu yang hangat bergerak perlahan, mengelus lembut puncak kepala putranya. Mbak Happy hanya bisa tersenyum haru menyaksikan pemandangan yang begitu menyentuh di sudut ruangan.
"Maafin Devan, Mah. Devan udah banyak salah sama Mamah," Devan terisak di sela tangisnya yang pecah. "Gara-gara Devan … Mamah harus duduk di kursi roda kayak gini."
Mendengar kata-kata itu, benak Ayu teringat pada potongan memori kelam yang sempat singgah.
“KENAPA LO DIEM AJA? AYO TAMPAR GUE LAGI!”
Ayu menggeleng lemah. "Mas, maafin Mamah,” ungkapnya parau. Ia hendak menyentuh pipi putranya, tetapi Dimas justru mendorongnya dengan tenaga yang luar biasa. Membuat tubuh Ayu terpelanting, menghantam lantai dengan keras.
Aruna terkejut dan menjerit, "Tante Ayu!" Ia pun segera berlari menghampiri Ayu yang terkulai lemas.
Ayu menggelengkan kepala dengan cepat, membuyarkan sisa lamunan pahit itu. Air matanya menetes, akan tetapi senyumnya tidak pernah pudar. "Ini semua bukan salah kamu, Van. Mamah sudah memaafkan kamu sejak lama. Meski harus duduk di sini, Mamah sangat bahagia karena sekarang bisa melihat kamu lagi."
Devan mendongak, menatap lekat-lekat mata ibunya yang jernih. Tanpa ragu, ia bangkit dan merengkuh tubuh Ayu ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama, meluruhkan semua badai yang sempat hinggap dalam sebuah dekapan yang hangat.
Sedangkan Aruna tampak berdiri mematung di ambang pintu. Gadis itu tersenyum manis dengan dada yang terasa lega melihat kedamaian yang akhirnya menjemput keluarga itu.
***
Suasana siang di bandara begitu riuh oleh langkah kaki para calon penumpang. Devan berjalan perlahan sambil mendorong kursi roda Ayu. Sementara di samping mereka, Aruna berjalan beriringan sembari menarik sebuah koper besar.
Langkah kaki Aruna mendadak terhenti. Ia memutar tubuhnya, lalu membungkuk khidmat untuk mencium punggung tangan Ayu dengan penuh rasa hormat.
"Tante, Aruna pamit pergi dulu, ya. Terima kasih banyak untuk semuanya," tutur Aruna tulus. "Maafin Aruna juga kalau selama ini udah banyak merepotkan Tante."
Ayu tersenyum sembari menepuk pelan punggung tangan Aruna. "Kamu hati-hati di jalan, ya. Tante yang justru harus berterima kasih banyak sama kamu. Berkat kesabaran kamu, Devan sekarang udah enggak paranoid lagi."
Mendengar itu, Devan yang berdiri di belakang kursi roda hanya bisa tersenyum simpul. Cowok berambut gondrong itu pun melangkah mendekat ke arah Aruna setelah gadis itu selesai berpamitan pada Ibunya.
"Gue harap lo enggak akan pernah lupain gue selama lo kuliah di sana, Na," ucap Devan, menatap lekat sepasang mata di hadapannya.
Aruna terkekeh geli, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa berat oleh perpisahan. "Ya enggak mungkinlah gue lupain lo. Lagian, gue kan sa..." Kalimat itu menggantung begitu saja di udara. Aruna mendadak bungkam, menatap Devan dengan raut wajah yang mendadak canggung dan salah tingkah.
Devan mengernyitkan dahi, berpura-pura bingung meski seulas senyum jahil mulai terbit di sudut bibirnya. "Sa? Sa apa?"
"Eh, enggak... enggak ada apa-apa kok," jawab Aruna kikuk, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Devan terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu. "Sebenarnya, ada sesuatu yang mau gue omongin ke lo, Na."
"Apa?" Aruna menoleh kembali, menatapnya heran.
Devan memajukan tubuhnya, lalu berbisik pelan tepat di dekat telinga Aruna. "Kalau gue ... ingat semua yang lo ucapin malam itu."