Sebuah kedai kopi di sudut Jakarta tampak ramai pada sore itu. Devan duduk di dekat pintu masuk, menunggu Aruna yang sedang memesan minuman. Cowok itu pun mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai sembari merapikan letak kacamatanya. Namun, perhatiannya mendadak terkunci pada sepasang manusia yang baru saja masuk dan berdiri di dekat pintu masuk. Jantung Devan berdesir aneh. Postur mereka, bahkan aura yang dipancarkan terasa begitu familiar diingatannya.
"Yaelah, Yok! Kalo jalan jangan pecicilan nape, ah! Kaki gue keserimpet tali sepatu lo nih!"
Suara cempreng beraksen Betawi yang kental itu seketika membuat Devan mematung di kursinya.
"Heh, Dara! Dara kotor! Lho, yo ndak bisa gitu. Iki talinya emang kepanjangan dari pabriknya, kenapa sampean malah nyalahin kakiku sing eksotis iki?" balas cowok di sebelahnya, lengkap dengan logat Jawa yang medok.
Devan merasa seluruh saraf di tubuhnya menegang. Tidak mungkin, batinnya. Ia mengucek matanya berkali-kali saat melihat seorang gadis mengenakan setelan kulot warna kuning terang serta rambut kribonya yang dijepit asal dengan jedai merah tampak berdiri di depannya.
Tak hanya itu, seorang cowok berkumis panjang yang ujungnya menjuntai hingga melewati dagu dan mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan motif yang agak ramai juga berdiri di hadapan Devan. Entah mengapa, wajah mereka mengingatkan Devan dengan sosok Dara dan Yoyok.
Gadis bertubuh gempal itu mendengus kesal. Ia menatap papan menu dengan bingung sambil bersedekap dada. "Yok, buruan lo mau minum apaan?"
Yoyok menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Aku mau pesen sing ... itu lho. Sing warnanya ireng, pait kayak omongan tetangga, tapi nek dikasih susu dadi wuenak."
Dara memutar bola matanya jengah. Lalu, tak sungkan menarik kumis Yoyok.
"Heh, Kumis Lele! Itu namanye kopi susu! Tinggal bilang kopi susu ribet amat dah idup lo! Lagian ngomong berbelit-belit begitu, kayak Tukul lo!" ketusnya.
Sementara Yoyok hanya meringis sembari mengusap kumisnya, lalu tersenyum getir. "Ea …."
Devan yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa menahan tawanya. Dada Devan naik-turun, wajahnya memerah karena berusaha keras agar tidak tertawa terpingkal-pingkal di tengah kedai yang ramai. Sebab, gestur itu, dialog itu, bahkan kata-kata “Dara Kotor” dan “Kumis Lele”, masih membekas dan terngiang dengan jelas di dalam ingatannya, meski saat itu mereka tak nyata.