IMPULS

Adnareth
Chapter #1

1. Logika di Antara Beton dan Lumut

Bunyi kaleng bekas yang beradu dengan lantai beton adalah alarm terburuk di dunia, tetapi itu satu-satunya mekanisme pertahanan pagi yang kumiliki.

Klang. Kletuk. Klang.

Mataku terbuka seketika. Refleks yang telah dilatih oleh sepuluh tahun hidup di neraka tropis ini mengambil alih; tangan kananku menyambar gagang pistol FN di bawah bantal apek, sementara telingaku memilah suara di antara deru angin yang melolong melewati kerangka gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

"Meong." Suara itu datar. Menghina.

Aku mengembuskan napas kasar, menjatuhkan kembali kepala ke bantal yang isinya bukan lagi busa memori, melainkan tumpukan kain perca yang keras. Adrenalin yang sempat memuncak perlahan surut, digantikan oleh kejengkelan rutin.

"Kau memang bedebah kecil, Cipher," gerutuku dengan suara serak, tenggorokan terasa kering seperti baru saja menelan debu vulkanik. "Bisakah kau tidak menjatuhkan peralatan makan setiap kali matahari terbit? Itu gelas kaleng terakhir yang tidak berkarat di lantai ini."

Kucing hitam-putih itu duduk di atas meja marmer pecah di sudut ruangan. Kaki depannya yang putih bersih—kontras dengan lingkungan kami yang penuh jelaga—baru saja mendorong gelas itu jatuh. Dia menatapku dengan mata kuning-hijaunya yang asimetris. Sebelah matanya dilingkari bulu hitam, membuatnya tampak seperti bajak laut skeptis yang sedang menagih utang jatuh tempo.

"Meong," ulangnya. Nada bicaranya jelas: Bangun, Manusia. Stok air menipis dan matahari sudah tinggi.

"Aku dengar. Jangan memerintahku," balasku sambil menendang selimut tipis bermotif batik yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu. "Kau pikir siapa yang memberimu makan daging tikus bakar kemarin sore?"

Aku duduk di tepi kasur. Apartemen Rasuna lantai empat puluh ini terasa dingin dan lembap. Lumut tumbuh subur di sela-sela keramik yang retak, menciptakan pola hijau licin yang berbahaya. Dulu, sebelum wabah dan keruntuhan sipil, unit ini mungkin milik seorang eksekutif muda yang menghabiskan gajinya untuk kopi mahal. Sekarang, ini adalah benteng pertahanan. Gua beton di atas langit.

"Rover. Laporan status," perintahku, suaraku kini sepenuhnya sadar dan tegas. Dari sudut gelap di balik barikade sofa kulit yang sudah terkoyak isinya, gundukan bulu berwarna debu bergerak. Rover, anjing Belgian Malinois campuran serigala itu, mengangkat kepalanya. Tidak ada gerakan malas. Matanya yang cokelat tajam langsung terkunci padaku. Dia tidak menyalak. Di Sektor Kuningan ini, suara gonggongan bisa mengundang Si Pucat—mayat hidup yang berkeliaran di jalanan bawah—atau yang lebih parah: patroli Otoritas.

Rover mendengus pelan, lalu menepuk lantai dua kali dengan ekornya. Dug. Dug.

"Dua ketukan. Perimeter aman," terjemahku sambil mengusap wajah yang lengket oleh keringat malam. "Terima kasih sudah tidak membiarkan siapa pun menggorok leherku saat tidur. Kau anjing yang baik."

Aku berdiri, merasakan sendi-sendi berbunyi, lalu berjalan menuju jendela balkon. Kaca tempered-nya sudah lama hancur, kini digantikan oleh susunan seng berkarat dan papan reklame bekas yang dipaku asal-asalan. Aku mengintip dari celah kecil seukuran koin.

Jakarta di bawah sana tampak seperti bangkai raksasa yang sedang membusuk di bawah matahari pagi. Jalan Rasuna Said bukan lagi aspal hitam, melainkan sungai hijau berlumut yang membelah hutan beton. Rangka kereta LRT yang tidak pernah selesai dibangun menggantung seperti tulang rusuk dinosaurus di kejauhan. Kabut kuning tipis—polusi abadi bercampur spora jamur—menggantung rendah di sekitar Bundaran HI. Pemandangan yang indah, jika kau menyukai kehancuran.

Aku beralih ke meja kerja. Di sana, sebuah radio komunikasi Rig tua berkedip lemah. Lampu indikator baterainya merah, berkedip sekarat. Aku meraih mikrofon, menekan tombol transmisi.

"Cek jalur. Cek jalur. Di sini Unit Impuls," ucapku pelan ke dalam mic. "Posisi Rasuna 40. Adakah pergerakan signifikan di sektor selatan? Ganti."

Hening sejenak. Hanya suara kresek-kresek statis yang menyakitkan telinga. Lalu, suara berat seorang pria terdengar, timbul tenggelam di antara gelombang radio yang buruk.

"Masuk, Impuls. Di sini Pos Pantau Semanggi. Suaramu terdengar seperti kaleng rombeng, Ethan. Ganti."

Aku tersenyum tipis. Itu Bang Yos. Mantan kepala keamanan gedung yang sekarang jadi mata-mata terbaik di jembatan layang. Satu dari sedikit orang waras yang tersisa.

"Bateraiku sekarat, Bang. Kita harus berhemat kata-kata. Bagaimana visual pagi ini? Ada 'rombongan turis' yang lewat?" tanyaku, menggunakan kode standar kami untuk gerombolan Zombie.

"Negatif untuk sektormu. Semalam ada gelombang kecil dari arah Menteng, tapi sudah dibersihkan oleh kelompok Cikini. Cuma hati-hati, Ethan..." Suara Bang Yos merendah, nadanya berubah serius, kehilangan unsur kelakar. "Aku melihat konvoi truk Otoritas lewat jalur basah Saharjo subuh tadi. Tiga truk besar. Dikawal Panser Anoa. Arahnya ke Kuningan."

Alisku berkerut. Panser Anoa? Itu kendaraan tempur lapis baja buatan Pindad. Otoritas tidak mengeluarkan mainan mahal itu untuk patroli rutin.

"Panser? Untuk apa mereka membuang bahan bakar solar hanya untuk patroli rutin? Kau yakin tidak salah lihat?"

"Mataku masih tajam, Anak Muda. Itu bukan patroli. Truknya tertutup rapat. Baunya amis. Angin membawa baunya sampai ke pos pantauku. Bau darah lama dan bahan kimia. Kau tahu apa artinya itu."

Aku terdiam. Tanganku mencengkeram pinggiran meja. Bau darah lama. Itu bau eksperimen. Bau 'Kargo'. Otoritas sedang memindahkan sesuatu yang hidup dan berbahaya.

"Mereka membawa subjek tes lagi?" tanyaku, nadaku dingin.

"Mungkin. Atau bangkai untuk diberi makan ke peliharaan mereka di Monas. Intinya, jangan cari masalah hari ini. Ambil logistikmu, lalu kembali ke sarang. Jangan jadi pahlawan kesiangan. Dunia tidak butuh pahlawan mati. Ganti."

"Dimengerti, Bang. Impuls keluar."

Aku meletakkan mikrofon. Rover sudah berdiri di sampingku, kepalanya menyundul pinggangku. Dia memiliki empati yang aneh; dia bisa mencium keteganganku sejelas mencium bau daging.

"Tenang, Kawan. Kita tidak mencari masalah," kataku pada anjing itu, berusaha meyakinkan diriku sendiri lebih dari meyakinkan dia.

Aku beralih menatap Cipher yang kini sibuk menjilati kaki putihnya dengan acuh tak acuh.

"Kau dengar itu, Kucing?" tanyaku. "Otoritas sedang bermain gila lagi. Artinya harga barang di pasar gelap akan naik. Ketidakstabilan politik selalu berbanding lurus dengan inflasi harga kebutuhan pokok. Itu hukum ekonomi dasar."

Cipher berhenti menjilati kakinya, menatapku dengan tatapan kosong, lalu melompat turun menuju pintu barikade. Dia mengendus celah di bawah pintu, lalu menoleh padaku dan mengedipkan mata kirinya. Sinyal visual yang kami sepakati.

"Baiklah. Jalur bersih," gumamku.

Aku meraih rompi taktis Rover yang tergantung di dinding. "Ayo bekerja. Kau bawa Medkit dan air cadangan hari ini. Kita tidak tahu berapa lama kita akan terjebak di bawah."

"Hup!" Rover melompat kecil saat aku memasangkan rompi militer bekas Brimob itu ke tubuhnya. Klik. Klik. Terpasang sempurna. Aku memeriksa kantong-kantongnya dengan teliti. Botol air tersegel? Ada. Perban dan alkohol? Ada. Tidak ada ruang untuk kesalahan logistik.

Aku sendiri mengenakan jaket kanvas lusuh untuk melindungi lengan dari goresan, dan memasukkan pistol FN ke sarung paha. Pisau lipat di saku kiri, senter di saku kanan.

"Ingat aturannya," kataku pada mereka berdua layaknya komandan peleton memberi briefing terakhir. "Cipher, kau mata di langit-langit. Jangan terlihat manusia. Rover, kau perisai. Jika ada orang asing dalam radius lima meter, beri kode geraman rendah. Jangan menggonggong kecuali aku perintahkan untuk membunuh."

Rover menatapku tajam, seolah tersinggung karena aku mengulang instruksi dasar yang sudah mendarah daging baginya. Cipher sudah menghilang, memanjat tumpukan kardus untuk masuk ke ventilasi udara di atas pintu.

Aku menarik napas panjang, menghirup udara apek apartemen ini yang mungkin untuk terakhir kalinya. "Mari kita lihat apakah Jakarta masih berniat membunuh kita hari ini."

Tangga darurat adalah urat nadi gedung ini. Gelap, sempit, dan baunya merupakan kombinasi pesing amonia, beton basah, serta keputusasaan manusia. Ini adalah zona tanpa hukum, di mana siapa yang berada di posisi lebih tinggi memiliki keuntungan taktis.

Aku menuruni anak tangga dengan ritme teratur. Tap. Tap. Tap. Sepatu bot kulitku yang solnya sudah diganti karet ban truk meredam suara langkah. Di depanku, sepuluh meter ke bawah, Rover bergerak seperti hantu. Tubuhnya yang berwarna debu menyatu sempurna dengan keremangan. Telinga kirinya yang sobek berputar-putar seperti radar, menangkap gema suara dari lantai-lantai di bawah kami.

Cipher tidak terlihat. Dia bergerak lewat jalur pipa dan tray kabel di langit-langit yang jebol. Tapi aku tahu dia ada di sana. Sesekali, debu semen jatuh dari atas kepalaku, tanda dia sedang melompat antar balok beton.

Lihat selengkapnya