IMPULS

Adnareth
Chapter #2

Arsitektur Kepanikan

Pintu besi berkarat itu menghantam kusennya dengan suara dentuman keras yang menyakitkan telinga, mengunci kami di dalam kegelapan total.

Brak!

Aku memutar kunci palang ganda secepat kilat, lalu menendang sebuah drum oli kosong untuk mengganjal pegangannya. Detik berikutnya, suara hantaman tubuh terdengar dari sisi luar. Pasukan Otoritas mencoba mendobrak.

"Buka! Buka atau kami ledakkan!" teriak salah satu prajurit di luar sana. Suaranya teredam, namun ancamannya jelas.

Aku mundur dua langkah, napasku memburu di balik masker kain yang lembap. Tanganku meraba saku, menyalakan senter taktis kecil. Seberkas cahaya putih membelah kegelapan, menyoroti partikel debu yang berterbangan liar.

"Rover, Defense Point," perintahku dengan bisikan tajam.

Rover tidak perlu disuruh dua kali. Dia mengambil posisi rendah tepat di depan drum pengganjal, otot-otot bahunya menegang di balik rompi taktis. Geraman rendah keluar dari dadanya, sebuah peringatan akustik bagi siapa pun yang cukup bodoh untuk mendobrak pintu itu. Jika pintu terbuka, hal pertama yang akan mereka temui adalah rahang Belgian Malinois yang terlatih untuk mematahkan tulang lengan.

"Dan kau," aku mengarahkan sinar senter ke atas, mencari sosok kecil hitam-putih itu. "Kau membawa kami ke jalan buntu, kucing sialan."

Cipher duduk di atas sebuah panel listrik tua yang kabelnya terurai seperti usus terburai. Dia menatapku dengan mata kuning-hijaunya yang menyala dalam gelap, berkedip sekali dengan santai. Dia tidak tampak panik. Dia justru terlihat bosan, seolah gedoran di pintu itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwal tidur siangnya.

"Meong," jawabnya singkat. Dia berdiri, meregangkan tubuh, lalu berjalan meniti pipa besi di dinding, menuju ke sudut ruangan yang lebih gelap.

"Jangan bercanda," gerutuku sambil memeriksa sekeliling.

Ruangan ini adalah kuburan mesin. Tiga unit generator diesel raksasa merek Caterpillar—sisa kejayaan era mall mewah—tertidur kaku di tengah ruangan. Baunya menyengat: campuran solar basi, oli yang mengental, dan bangkai tikus yang mengering. Lantainya licin, tertutup lapisan lumpur hitam. Ini bukan ruang genset biasa; ini adalah level basement paling dasar yang mungkin sudah terendam banjir lima tahun lalu dan baru surut.

DUAR!

Suara tembakan di luar. Peluru menembus pelat besi pintu, menciptakan lubang kecil yang memancarkan cahaya matahari masuk. Serpihan logam panas mendesing melewati telingaku, menancap di dinding beton di belakangku.

"Sialan! Mereka tidak main-main!"

Aku menjatuhkan diri ke lantai, berlindung di balik bodi generator. Rover ikut merunduk, merangkak mendekatiku tanpa memutus pandangannya dari pintu.

"Analisis situasi," gumamku pada diri sendiri, mencoba memanggil kembali rasionalitas yang sempat hilang karena kepanikan. "Pintu itu tebalnya lima milimeter baja padat. Butuh bahan peledak C4 untuk membukanya, atau setidaknya las asetilen. Mereka hanya punya senapan serbu SS-2. Kita punya waktu… mungkin lima menit sebelum mereka memutuskan untuk menembaki engselnya sampai putus."

Lima menit. Itu adalah waktu seumur jagung dalam bisnis kematian.

Aku memeriksa ranselku. Garam bata ada. Filter air ada. Tiga kaleng sarden ada—terima kasih pada refleks tanganku yang cepat menyambar meja Koh Aying tadi. Tapi Powerbank 20.000 mAh itu… benda sialan itu masih ada di saku samping tas. Belum tertukar.

"Hebat. Kita kaya raya tapi akan mati di lubang tikus," kataku sarkas. Aku menatap Rover. "Kau punya saran, Letnan?"

Rover menjilat tanganku sekilas, lalu menoleh ke arah sudut ruangan tempat Cipher menghilang tadi.

"Meoow!"

Suara Cipher terdengar menggema. Bukan dari dalam ruangan, melainkan dari… dalam dinding?

Aku merangkak mendekat, mengikuti arah suara itu. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kardus busuk yang sudah hancur menjadi bubur kertas, terdapat sebuah lubang. Itu bukan lubang tikus. Itu adalah maintenance shaft—terowongan perawatan kabel bawah tanah. Ukurannya pas untuk tubuh manusia dewasa yang tidak terlalu gemuk, dan sangat pas untuk anjing dan kucing.

Penutup tralis besinya sudah lepas, tergeletak berkarat di lantai. Cipher berdiri di bibir terowongan itu, ekornya melambai-lambai memanggil.

"Jalur kabel PLN lama," bisikku, mengenali jenis pipa conduit merah yang berjajar di dalamnya. "Ini pasti tembus ke Substation Kuningan atau selokan besar di Jalan Satrio."

Gedoran di pintu semakin keras. Suara logam beradu logam. Mereka mulai menggunakan popor senapan atau palu godam.

"Rover, Disengage! Mundur!" perintahku.

Rover mundur perlahan, menjaga posisinya tetap menghadap ancaman sampai detik terakhir, lalu berbalik dan lari ke arahku.

"Masuk," kataku pada Rover sambil menunjuk lubang itu.

Rover ragu sejenak. Dia tidak suka ruang sempit di mana dia tidak bisa bermanuver. Tapi dia prajurit yang baik. Dia merendahkan tubuhnya, merayap masuk ke dalam terowongan gelap itu. Aku menyusul di belakangnya, menyeret ranselku.

Bau di dalam terowongan itu berbeda. Bukan bau solar, melainkan bau tanah basah dan… ozon?

Tepat saat kakiku masuk sepenuhnya ke dalam lubang, pintu besi ruang genset di belakang kami akhirnya menyerah. BRAKKK! Pintu itu rubuh ke dalam. Cahaya senter taktis Otoritas menyapu ruangan, disertai teriakan-teriakan komando.

"BERSIHKAN RUANGAN! PERIKSA SETIAP SUDUT!"

Aku menahan napas, menarik sebuah papan triplek bekas untuk menutupi lubang masuk kami dari dalam. Itu bukan penyamaran sempurna, tapi cukup untuk membeli waktu di kegelapan.

Lihat selengkapnya