Keputusan untuk menjadi pahlawan adalah satu hal; melaksanakannya tanpa mati konyol ialah hal lain yang jauh lebih rumit. Jarak dari kolong Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Casablanca menuju TPU Karet Bivak secara geografis hanya sekitar dua kilometer. Di masa lalu, jarak ini bisa ditempuh dalam sepuluh menit menggunakan ojek online. Sekarang, ini adalah dua kilometer terpanjang di dunia.
Kami harus bergerak di permukaan tanah. Lewat jalan layang terlalu terekspos oleh penembak jitu Otoritas yang mungkin bersarang di gedung-gedung tinggi. Lewat selokan sudah tidak mungkin karena arah alirannya menjauh dari target. Opsinya hanya satu: Jalan Prof. Dr. Satrio. Jalur neraka yang membelah sisa-sisa pusat perbelanjaan yang kini menjadi sarang Si Pucat.
"Mode Senyap Mutlak," bisikku pada Rover sambil mengencangkan ikatan sepatu botku. "Satu gonggongan, kita mati. Satu gerakan gegabah, kita jadi makan siang."
Rover menatapku dengan mata cokelatnya yang tenang namun waspada. Dia mengerti. Telinganya yang sobek berputar ke belakang, menangkap setiap desibel suara di sekitar kami. Cipher sudah lebih dulu bergerak, melompat ke atas kap mobil sedan yang berkarat, lalu meniti sisa-sisa pagar proyek LRT yang mangkrak. Kucing itu bergerak seperti asap hitam di siang bolong; terlihat tapi tak terjangkau.
Aku menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa pahit. "Ayo."
Kami keluar dari perlindungan bayangan pilar beton. Cahaya matahari Jakarta siang ini terasa menyengat, membakar kulit leherku. Namun, panas bukan musuh utama. Musuh utamanya adalah keheningan. Jakarta yang biasanya bising kini senyap, dan dalam kesenyapan itu, setiap langkah kaki terdengar seperti ledakan mercon.
Kami bergerak merapat ke dinding ruko-ruko yang sudah hancur di sisi kiri jalan. Kaca-kaca jendela pecah berserakan di trotoar, memaksa kami melangkah dengan sangat hati-hati. Krek. Krek. Suara pecahan kaca yang terinjak sol karet ban Rover terdengar mengerikan di telingaku, meski sebenarnya sangat pelan.
"Meong," Cipher memberi kode dari atas sebuah neon box bekas bank swasta yang sudah miring. Dia menatap ke dalam sebuah gang sempit di antara dua gedung tinggi.
Aku mengangkat tangan kanan, memberi isyarat berhenti pada Rover. Kami membeku. Dari dalam gang itu, muncul bau. Bau yang khas. Manis, busuk, dan tajam. Bau daging yang terfermentasi oleh panas tropis.
Sesosok makhluk menyeret kakinya keluar dari kegelapan gang. Itu adalah Si Pucat tingkat awal. Masih terlihat seperti manusia—seorang pria yang mengenakan sisa seragam kemeja kantor yang sudah compang-camping. Kulitnya berwarna abu-abu kusam, urat-urat hitam menonjol di leher dan wajahnya. Mulutnya menganga, meneteskan cairan hitam kental. Matanya putih total, katarak oleh virus yang memakan jaringan saraf optik.
Dia tidak melihat kami. Dia buta, atau setidaknya penglihatannya sangat buruk di siang hari. Tapi pendengarannya… telinganya berkedut liar. Dia sedang 'memindai'.
Jantungku berdegup kencang, memompa darah ke telinga hingga terdengar mendengung. Jarak kami hanya sepuluh meter. Angin berhembus dari arah kami ke arahnya. Sial.
Sniff. Sniff.
Makhluk itu mendongak. Hidungnya yang sebagian sudah hilang mengendus udara. Dia mencium bau manusia. Bau keringatku. Bau kehidupan. Kepalanya berputar patah-patah ke arah kami. Suara geraman basah mulai keluar dari tenggorokannya. Grrrrhhhh…
Tanganku perlahan turun ke gagang golok di pinggang. Menembak adalah bunuh diri; suaranya akan memanggil ratusan temannya yang mungkin sedang tidur di dalam gedung-gedung itu. Aku harus menyelesaikannya secara manual. Jarak dekat.
"Rover, hold," bisikku nyaris tanpa suara. Aku tidak ingin Rover mengambil risiko tergigit. Satu gigitan, virus menyebar, dan aku harus menembak sahabatku sendiri. Itu skenario yang tidak ada dalam rencanaku.
Aku mencabut golok pendekku. Logam itu berdesing pelan keluar dari sarung kulitnya. Makhluk itu mendengar desingan itu.
Dia menjerit. Bukan teriakan manusia, melainkan pekikan tinggi yang menyayat hati. "KRRIIEEKKK!"
Lalu dia berlari. Kecepatannya mengerikan untuk sesuatu yang terlihat busuk. Dia menerjang ke arahku, tangannya yang berkuku hitam teracung ke depan.
Aku tidak mundur. Mundur berarti memberi dia momentum. Aku melangkah maju, memotong jarak. Saat dia melompat, aku menggeser tubuh ke kiri, membiarkan cakarnya merobek udara di tempatku berdiri tadi, dan mengayunkan golok sekuat tenaga ke arah lehernya.
Crasss!
Golok tajam itu memakan daging busuk dan tulang rapuh. Kepala makhluk itu terpenggal setengah, darah hitam muncrat ke aspal. Tubuhnya jatuh bergedebuk, mengejang-ngejang sebentar sebelum diam selamanya.
Aku berdiri terengah-engah, golok masih tergenggam erat. Napasku memburu. Aku menyeka cipratan darah hitam di lengan jaketku dengan jijik.
"Satu," bisikku. "Masih ada ribuan lagi."
Rover mendekat, mengendus mayat itu sekilas, lalu menatapku dengan tatapan seolah berkata: Kerja bagus, tapi jangan sombong. Kita baru mulai.
Cipher melompat turun dari neon box, mendarat di samping mayat itu tanpa rasa takut. Dia mengendus cairan hitam yang menggenang, lalu mundur dengan jijik. Kucing itu menatap ke ujung jalan, ke arah Karet Bivak. Di sana, langit tampak lebih gelap. Asap hitam mengepul dari truk yang mogok itu.
Kami melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini, kami tahu bahwa keberuntungan tidak akan bertahan selamanya. Gangguan kecil tadi hanyalah penjaga pintu. Di depan sana, pesta yang sebenarnya sedang menunggu.
Aku memeriksa jam tangan analogku yang kacanya sudah retak. Pukul 11.30. Matahari tepat di atas kepala. Waktu terburuk untuk bergerak, tapi waktu terbaik untuk melihat musuh.
"Kita ambil jalur dalam," putusku. "Masuk ke lobi gedung-gedung ini. Trotoar terlalu terbuka."
Itu keputusan berisiko. Gedung kosong bisa saja menjadi sarang. Tapi setidaknya kami punya dinding untuk berlindung. Kami menyelinap masuk ke dalam lobi sebuah gedung pencakar langit yang dulunya mewah—mungkin hotel bintang lima. Pintu kaca otomatisnya sudah pecah berantakan.
Di dalam, suasananya angker. Resepsionis marmer tertutup debu tebal. Tanaman hias plastik masih berdiri kaku di pojok, satu-satunya hal yang tidak mati di sini. Kami bergerak melintasi lobi yang luas, sepatu botku berdecit pelan di atas lantai granit.
Tiba-tiba, Cipher berhenti di tengah ruangan. Bulu punggungnya berdiri tegak. Ekornya mengembang besar seperti sikat botol. Dia mendesis ke arah tangga melingkar yang menuju ke mezzanine.
Aku mengikuti arah pandangannya. Di kegelapan lantai dua, puluhan pasang mata putih menyala dalam remang-remang. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya berdiri di sana, menatap ke bawah. Menatap kami. Mereka tidur berdiri. Dormant.
"Jangan. Bernapas," perintahku pada diriku sendiri.
Ini adalah sarang. Kami baru saja berjalan masuk ke dalam ruang tamu keluarga besar Si Pucat. Jika satu dari mereka bangun… tamatlah sudah.
Aku memberi isyarat pada Rover untuk mundur. Sangat pelan. Langkah demi langkah. Kami berjalan mundur menuju pintu keluar, mata kami tidak lepas dari kerumunan patung hidup di lantai atas itu.
Salah satu dari mereka bergerak sedikit. Kepalanya miring. Aku menahan napas sampai dadaku sakit.
Kami mencapai pintu keluar. Cahaya matahari menyambut kami kembali. Kami keluar, menjauh dari gedung itu secepat mungkin tanpa berlari.
"Sektor ini penuh," bisikku gemetar setelah kami berjarak aman. "Setiap gedung adalah sarang. Kita berjalan di atas ladang ranjau."
Perjalanan dua kilometer ini bukan lagi soal jarak. Ini soal navigasi di antara kematian yang tertidur. Dan di ujung jalan sana, ada anak-anak yang menunggu di dalam oven besi. Impuls sialan itu kembali menyengatku.
"Bertahanlah, Nak," gumamku ke arah asap hitam di kejauhan. "Paman Ethan yang bodoh ini sedang mencoba tidak mati untuk menjemputmu."
Setelah satu jam yang terasa seperti satu abad, merayap di balik mobil, memanjat pagar beton, dan menghindari tiga patroli Si Pucat, kami akhirnya mencapai perimeter target. Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak. Tempat istirahat terakhir bagi ribuan warga Jakarta, dan sekarang, mungkin tempat istirahat terakhir bagi kami juga.
Kami bersembunyi di lantai dua sebuah ruko percetakan yang menghadap langsung ke jalan raya depan makam. Jendelanya sudah hilang, memberikan kami posisi sniper yang sempurna untuk mengobservasi situasi.
Apa yang kulihat membuat darahku membeku. Truk tronton hitam itu masih di sana, miring di tengah jalan bagaikan bangkai paus yang terdampar. Asap tidak lagi keluar dari mesinnya, yang berarti mesinnya sudah mati total. Pendingin mati.
Di sekeliling truk, pasukan Otoritas telah membuat benteng darurat. Mereka menggunakan dua Panser Anoa sebagai tembok baja di sisi kiri dan kanan truk. Mereka juga menumpuk karung pasir dan bangkai mobil untuk menutup celah. Ada sekitar dua puluh prajurit berseragam hitam, semuanya dalam posisi siaga tempur. Senapan mereka mengarah ke luar, ke arah makam dan gedung-gedung sekitar.
Mereka ketakutan. Aku bisa melihat bahasa tubuh mereka dari sini. Bahu yang tegang, kepala yang terus menoleh kiri-kanan, jari yang gelisah di pelatuk. Mereka tahu mereka dikepung. Dan kepungan itu nyata.
Di sela-sela nisan beton TPU Karet Bivak, di balik pohon-pohon kamboja tua, ratusan Si Pucat berdiri diam di bawah bayang-bayang dedaunan. Mereka menunggu. Mereka belajar. Mereka tahu bahwa menyerang di siang bolong melawan senapan mesin adalah bunuh diri. Mereka menunggu matahari condong ke barat.
"Situasi standoff," analisisku pelan. "Otoritas terjebak. Mereka tidak bisa memindahkan kargo karena bannya hancur dan mereka tidak punya kendaraan pengganti yang cukup kuat untuk menarik beban seberat itu. Dan mereka tidak berani membuka pintu kargo lebar-lebar untuk memindahkan isinya karena…"
Aku menggeser teropong ke arah pintu belakang truk. Pintu itu masih terbuka sedikit, diganjal sesuatu dari dalam. Tidak ada lagi tangan yang melambai. Tapi dari celah itu, aku mendengar suara. Sangat samar, terbawa angin.
Suara tangisan. Dan suara benturan berat dari dalam truk. BRAM! BRAM!