IMPULS

Adnareth
Chapter #4

Matematika Nyawa

Gorong-gorong ini baunya seperti dosa yang tidak pernah dicuci. Campuran limbah domestik yang mengendap puluhan tahun, bangkai tikus yang membusuk, dan aroma metalik darah yang kini menempel di pakaian kami.

Aku menjatuhkan tubuhku ke atas gundukan beton kering di sisi saluran air. Napasku memburu, paruku terasa seperti diisi pecahan kaca. Adrenalin yang tadi membanjiri darahku kini surut mendadak, meninggalkan rasa lemas yang menghantam tulang persendian.

"Berhenti," perintahku parau. "Kita istirahat lima menit."

Tiga anak itu—'Paket B' yang baru saja kucuri dari mulut singa—berhenti serentak. Mereka tidak membantah, tidak bertanya, dan anehnya… mereka tidak menangis. Mereka berdiri merapat ke dinding saluran yang lembap, mata mereka menatapku dengan sorot yang sulit dijelaskan. Bukan takut, melainkan… kalkulatif. Seperti sorot mata ilmuwan yang sedang mengamati spesimen baru.

Aku mengabaikan mereka dulu. Prioritasku bukan manusia kecil itu.

"Rover. Sini," panggilku pelan.

Anjing Belgian Malinois itu berjalan terpincang-pincang mendekatiku. Kaki belakang kanannya tidak menapak sempurna. Darah segar merembes dari paha atasnya, membasahi bulu sand-dust yang kini kotor oleh lumpur hitam.

Hatiku mencelos. Logikaku berteriak: Aset rusak. Efisiensi tempur turun 60%. Tapi impuls di dadaku terasa nyeri.

"Maafkan aku, Sobat," bisikku sambil membuka paksa klip rompi taktisnya. Aku menyalakan senter, menyorot ke luka itu. Napasku sedikit lega.

Itu bukan bekas gigi. Tidak ada air liur hitam atau jejak infeksi di sana. Itu adalah luka sayat vertikal yang rapi namun dalam, akibat terhempas ke dinding truk yang bergerigi tadi. Ototnya robek, tapi dia tidak terinfeksi. Dia tidak akan berubah menjadi monster yang harus kutembak kepalanya. Dia hanya… anjing yang kesakitan.

"Air bersih," gumamku. "Mana air bersih?"

Aku merogoh ranselku sendiri, mengeluarkan satu botol air mineral yang tersisa. Aku menyiram luka itu. Rover mendengking pelan, tubuhnya mengejang menahan perih, tapi dia tidak menggigitku. Dia tahu aku sedang menolongnya.

"Tahan… tahan…"

Aku mengeluarkan jarum jahit dan benang nilon dari Medkit kecil di rompi. Tanganku gemetar sisa pertempuran tadi. Menjahit daging hidup dalam kondisi gelap dan kotor adalah resep infeksi, tapi membiarkannya terbuka adalah undangan kematian.

"Kau punya alkohol?"

Suara itu muncul tiba-tiba. Datar, tanpa emosi.

Aku menoleh kaget, nyaris menusuk jariku sendiri. Salah satu anak laki-laki—yang paling tinggi, mungkin berusia lima belas tahun—berdiri di sampingku. Dia mengulurkan tangan. Di telapak tangannya yang kotor, ada botol kecil bening.

"Ini Ethanol 96%," katanya. "Aku mengambilnya dari saku jas lab mayat di truk tadi. Sebelum kau membuka pintu."

Aku menatap botol itu, lalu menatap anak itu. Rambutnya dipotong cepak ala militer, wajahnya tirus kurang gizi, tapi matanya tajam. Dia memakai gelang plastik di pergelangan tangan bertuliskan: SUBJEK B-1.

"Siapa namamu?" tanyaku sambil menyambar botol itu.

"B-1," jawabnya singkat.

"Itu kode inventaris, bukan nama," dengusku. "Apa nama yang ibumu berikan?" Aku sambil menuangkan alkohol itu ke luka Rover.

Rover melolong tertahan. Bau daging tersiram alkohol menyengat hidung.

"Aku tidak punya ibu. Aku dibuat di tabung," jawab anak itu datar.

Tanganku berhenti bergerak sejenak. Dibuat di tabung? Otoritas benar-benar sudah gila. Mereka bukan cuma menculik, mereka 'mencetak' manusia?

"Baiklah, Tuan Tabung. Terima kasih alkoholnya," kataku sinis, kembali fokus menjahit. "Pegang kakinya. Jangan sampai dia menendang."

Anak itu berlutut tanpa ragu, menahan kaki belakang Rover dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang kurus. Dua anak lainnya—seorang anak perempuan dengan rambut dikepang acak-acakan dan anak laki-laki yang lebih kecil—hanya menonton dari jarak aman. Cipher duduk di bahu anak perempuan itu, menjilati telinganya. Pengkhianat kecil. Kucing itu sepertinya sudah memilih tuan baru.

Proses jahit selesai dalam tiga menit. Enam jahitan kasar. Jelek, tapi menutup. Aku membebatnya dengan sisa perban.

"Dia tidak bisa lari," vonisku berat. "Kita harus jalan pelan."

Aku duduk bersandar, menatap ketiga anak itu. Mereka kini menatapku balik. Tiga pasang mata yang menunggu instruksi. Di dunia mereka—di laboratorium itu—hidup adalah tentang mengikuti instruksi.

"Dengar," kataku tegas, mengarahkan senter ke wajah mereka satu per satu. "Aku bukan penyelamat kalian. Aku bukan pahlawan dari dongeng sebelum tidur. Aku cuma orang bodoh yang kebetulan lewat. Rencanaku adalah menukar kalian dengan imbalan di markas Pemberontak. Mengerti?"

Aku sengaja bersikap kasar. Aku tidak ingin mereka menempel padaku secara emosional. Keterikatan emosional adalah kelemahan.

Anak perempuan itu maju selangkah. Di gelangnya tertulis SUBJEK B-2.

"Kami mengerti," suaranya bening, kontras dengan kotornya tempat ini. "Kau pedagang. Kami barang dagangan. Itu logis."

Jawaban itu menampar logikaku sendiri. Sialan. Anak sekecil ini bicara soal logika dagang nyawa?

"Siapa namamu?" tanyaku padanya.

"B-2. Tapi Dokter Wira memanggilku Kara."

"Oke, Kara. Dan kau?" Aku menunjuk si pemberi alkohol.

"Tio," jawabnya. "Dokter Wira bilang itu nama asistennya dulu."

"Dan yang kecil?"

Anak paling kecil, yang sedari tadi diam sambil memeluk lutut, mendongak. Matanya lebar dan ketakutan. "Baruna," cicitnya pelan.

"Kara, Tio, Baruna," ulangku. "Nama-nama yang bagus untuk mayat calon masa depan. Sekarang dengarkan aturanku. Satu: Jangan berisik. Dua: Jangan lambat. Tiga: Kalau ada si pucat, lari ke arahku, bukan menjauh. Paham?"

Mereka mengangguk serempak.

"Bagus. Sekarang bergerak. Kita harus menjauh dari Karet sebelum Otoritas menurunkan anjing pelacak ke lubang ini."

Aku membantu Rover berdiri. Dia merintih sedikit, tapi kemudian menegakkan kepala. Dia siap.

Kami bergerak lagi, masuk lebih dalam ke perut Jakarta. Bukan lagi sebagai seorang pria dan hewannya, tapi sebagai sebuah konvoi kecil yang cacat.

Peta Jakarta di kepalaku hanya mencakup permukaan. Jalan raya, gedung, jembatan layang. Tapi di bawah sini? Ini adalah dunia lain yang tidak terpetakan. Saluran air ini bercabang-cabang seperti pembuluh darah raksasa. Ada yang mengarah ke Tanah Abang, ada yang ke Dukuh Atas, ada yang mungkin buntu di bawah pondasi gedung pencakar langit.

Kami berjalan dalam formasi baris. Cipher di depan sebagai pemandu—mata kucingnya bisa melihat dalam gelap lebih baik dari senterku yang mulai redup. Tio di belakang Cipher, lalu Baruna, Kara, aku, dan Rover di posisi paling belakang sebagai penjaga bokong.

"Airnya makin tinggi," lapor Tio dari depan. Suaranya bergema.

Memang benar. Air limbah yang tadinya semata kaki kini sudah mencapai betis anak-anak itu. Arusnya lumayan deras. Jika hujan turun di Bogor atau Depok, saluran ini bisa berubah menjadi mesin pembunuh hidrolik dalam hitungan menit. Kita bisa hanyut dan mati konyol sebelum sempat dimakan zombie.

"Terus jalan. Cari tangga atau manhole ke atas," perintahku. "Kita tidak bisa selamanya di sini. Gas metana akan membunuh kita pelan-pelan."

Udara di sini memang makin tipis. Kepalaku mulai pening. Defisit oksigen.

Tiba-tiba, Cipher berhenti. Dia mendesis, bulunya berdiri.

Lihat selengkapnya