Matahari pagi belum pernah terlihat seburuk ini.
Kami keluar dari lubang ventilasi stasiun MRT Dukuh Atas tepat saat cahaya pertama menyentuh aspal Jalan Jenderal Sudirman. Pemandangan di depan kami bukanlah kota yang sedang bangun tidur, melainkan kota yang baru saja dihajar habis-habisan dan dibiarkan mati di pinggir jalan.
Asap hitam tebal membumbung tinggi dari arah Karet Bivak—sisa pesta kembang api baterai laptopku kemarin. Langit Jakarta berwarna abu-abu kotor, tertutup lapisan debu vulkanik dan polusi mesiu. Di kejauhan, suara tembakan sporadis masih terdengar, seperti detak jantung yang aritmia.
"Jangan berdiri di tempat terbuka," desisku sambil menarik kerah baju Baruna.
Kami merapat ke balik dinding beton halte TransJakarta yang sudah tinggal kerangka. Kaca-kacanya hancur, mesin tiket otomatisnya sudah dijarah hingga ke kabel-kabel tembaganya.
"Apa sekarang aman?" tanya Kara. Suaranya tenang, tapi tangannya mencengkeram erat ujung baju Tio.
Aku mengeluarkan teropong monokular dari saku. Lensa itu sudah retak sedikit di pinggirnya, tapi masih berfungsi. Aku memindai area Bundaran HI di utara dan Jembatan Semanggi di selatan. "Otoritas menutup blokade," laporku datar. "Mereka membuat perimeter. Lihat di sana."
Aku menunjuk ke arah Patung Jenderal Sudirman. Di bawah patung raksasa yang masih berdiri hormat itu, Otoritas mendirikan pos pemeriksaan militer. Kawat berduri dibentangkan melintang jalan. Dua tank amfibi parkir di tengah jalur cepat.
"Mereka mencari kita," kata Tio.
"Mereka mencari aset yang hilang," koreksiku. "Bagi mereka, kalian bukan anak hilang. Kalian adalah dompet yang jatuh."
Aku menurunkan teropong, menatap Rover. Anjing itu duduk dengan kaki kanan belakang diluruskan canggung. Jahitanku semalam masih menahan lukanya, tapi perban itu sudah merembes darah lagi. Dia tidak mengeluh, tapi matanya terlihat lelah. Energinya terkuras.
"Kita tidak bisa lewat jalan utama," gumamku. "Dan kita tidak bisa kembali ke bawah tanah. Otoritas pasti akan membanjiri terowongan MRT dengan gas saraf atau air untuk membusukkan tikus-tikus yang bersembunyi."
"Lewat sungai?" usul Baruna pelan, menunjuk ke arah Banjir Kanal Barat yang membelah kota di depan kami.
Aku menggeleng. "Sungai itu racun cair. Dan si pucat suka berendam di lumpurnya saat siang hari untuk mendinginkan kulit mereka. Masuk ke sana sama saja memberi makan piranha."
Pilihannya menyempit. Matematika pelarian ini semakin rumit. Kami berada di Dukuh Atas. Kami harus menyeberang ke arah Menteng untuk terus ke Utara menuju pelabuhan. Penghalangnya adalah kanal besar dan pos penjagaan Otoritas di setiap jembatan.
"Jembatan kereta," kataku tiba-tiba. Mataku tertuju pada struktur baja yang melengkung di atas kanal. Rel kereta Commuter Line yang sudah mati.
"Itu terbuka, Paman Ethan. Mereka akan melihat kita," bantah Kara.
"Bukan di atas relnya," jelasku, menunjuk ke bagian bawah struktur jembatan. "Di bawah rel itu ada jalur perawatan. Sempit, berkarat, dan mungkin sarang burung walet. Tapi itu satu-satunya titik buta CCTV Otoritas."
Kara menatap jembatan itu, lalu menatap kaki Rover. "Rover tidak bisa meniti besi sempit dengan kaki seperti itu."
Aku menatap anjingku. Rover menatapku balik, lalu dia berdiri tegak, memaksakan kaki sakitnya menapak tanah. Dia mengibaskan ekor sekali.
Jangan remehkan aku, Bos.
"Dia bisa," putusku, meski hatiku ragu. "Karena dia harus bisa. Kalau dia jatuh, aku akan melompat menangkapnya. Itu aksiomanya."
"Apa itu aksioma?" tanya Baruna polos.
"Kebenaran mutlak yang tidak perlu dibuktikan," jawabku sambil mengecek isi pistol. Sisa 17 butir. "Aksioma hari ini adalah: Kita menyeberang atau kita mati. Tidak ada opsi ketiga."
Kami mulai bergerak. Bukan berlari, melainkan berjalan cepat menunduk di balik sisa-sisa pot beton pembatas jalan. Cipher memimpin di depan, menjadi sensor gerak kami. Ekor hitam-putihnya menjadi bendera yang kami ikuti.
Jarak ke pangkal jembatan kereta sekitar tiga ratus meter. Tiga ratus meter yang terasa seperti berjalan di atas tali tipis di atas kawah gunung berapi. Setiap kali ada suara kendaraan lapis baja lewat, kami tiarap mencium aspal panas. Debu masuk ke hidung, bau karet terbakar memenuhi paru-paru.
"Ada drone," bisik Tio tiba-tiba.
Aku mendongak. Di langit yang kelabu, sebuah titik hitam kecil berdengung seperti nyamuk raksasa. Drone pengintai Otoritas.
"Jangan bergerak. Menyamar jadi sampah," perintahku.
Kami meringkuk di samping tumpukan kantong plastik sampah yang membusuk di trotoar. Bau busuk sampah menjadi kamuflase kami. Drone itu berputar di atas kepala, kamera lensanya berkedip merah.
Dengungan itu mendekat. Jantungku berhenti berdetak. Jika drone itu punya sensor panas, kami tamat. Tapi drone itu berbelok ke arah stasiun BNI City, mengejar sekawanan anjing liar yang berlari menyeberang jalan.
"Bergerak. Sekarang!"
Kami berlari sisa jarak menuju tanggul jembatan. Kami melompati pagar besi pembatas rel, tergelincir di atas batu kerikil balas yang tajam.
Kami sampai di pangkal jembatan. Di bawah kami, air Banjir Kanal Barat mengalir hitam pekat, membawa serta sampah peradaban: botol plastik, kasur bekas, dan mungkin beberapa mayat yang menggelembung.
"Lewat sini," aku menunjuk tangga besi kecil berkarat yang menuju ke bawah struktur jembatan.
"Tinggi sekali…" cicit Baruna, wajahnya pucat pasi melihat ketinggian sepuluh meter di atas air.
"Jangan lihat ke bawah. Lihat punggung Tio," kataku tegas.
Tio turun duluan. Lalu Baruna. Lalu Kara.