Pagi datang dengan cara yang tidak sopan di Jakarta. Tidak ada kokok ayam, tidak ada aroma kopi, hanya hawa panas yang langsung menyengat kulit begitu matahari muncul dari balik gedung-gedung tinggi di timur.
Aku terbangun karena suara rintihan pelan.
Di sampingku, Rover terbaring dengan posisi aneh. Napasnya pendek-pendek dan cepat. Tubuhnya panas, bahkan lebih panas dari udara sekitar. Aku menyentuh hidungnya—kering dan pecah-pecah.
"Sial," bisikku.
Aku membuka perban di kaki belakangnya. Bau tidak sedap langsung menguar. Luka sayatan logam truk kemarin sudah membengkak, warnanya merah tua dengan nanah kuning mulai merembes di sela-sela jahitan benang nilonku. Infeksi. Musuh yang tidak bisa dibunuh dengan peluru.
"Paman Ethan?"
Suara kecil Kara terdengar di belakangku. Gadis kecil itu sudah bangun, duduk memeluk lututnya, menatap Rover dengan mata nanar.
"Dia demam tinggi, Paman," kata Kara. Dia merangkak mendekat, meletakkan punggung tangannya di leher Rover. "Detak jantungnya di atas seratus dua puluh. Bakteri sudah masuk ke aliran darah."
"Jangan bicara teknis, Kara. Bicara solusi," potongku tajam, hatiku kalut. Rover menjilat tanganku lemah, lidahnya terasa kasar dan panas.
"Kita butuh antibiotik spektrum luas," jawab Kara tegas, naluri 'anak lab'-nya mengambil alih. "Ceftriaxone injeksi, atau minimal Amoxicillin dosis tinggi. Dan cairan infus. Dia dehidrasi parah."
"Cairan infus bisa kita ganti dengan air garam dan gula kalau terpaksa. Tapi antibiotik…" Aku menatap ke arah timur, ke arah kompleks bangunan masif yang terlihat dari ketinggian rel kereta ini. Atap-atap gedung tua bercampur modern. Cerobong asap insinerator mayat yang sudah lama mati.
RSCM. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
"Kita harus ke sana," kataku sambil berdiri, mengencangkan ikat pinggang yang terasa makin longgar. "Bangunkan Tio dan Baruna. Kita bergerak sekarang."
Tio bangun dengan sigap, langsung siaga seolah dia tidur dengan satu mata terbuka. Baruna butuh waktu lebih lama, mengucek matanya yang cekung karena kurang tidur dan kurang gizi.
"Lapar…" gumam Baruna pelan.
"Simpan laparmu," kataku dingin. "Di rumah sakit nanti mungkin ada kafetaria. Atau mungkin ada si pucat yang mau mentraktirmu."
Aku menggendong Rover. Tubuhnya yang biasanya kokoh dan berotot kini terasa berat seperti karung pasir basah. Beratnya sekitar tiga puluh lima kilogram. Ditambah ransel dan senjata, bebanku nyaris lima puluh kilo.
"Biar aku bawakan ranselmu," tawar Tio.
Aku menatap anak itu. Tubuhnya kurus, tapi sorot matanya keras kepala.
"Berat, Nak. Isinya tiga filter air dan besi tua," tolakku.
"Aku kuat. Di Lab, aku biasa angkat galon air untuk staf," jawabnya datar. Tanpa menunggu persetujuanku, dia mengambil ranselku dari lantai peron. Dia terhuyung sedikit saat memanggulnya, tapi kemudian menegakkan punggung. "Lihat? Aman."
Aku mengangguk singkat. "Bagus. Kau bawa logistik. Kara, kau bawa Baruna. Cipher…"
Aku mencari kucing itu. Si Kucing Tuxedo sedang duduk di ujung peron, menatap ke bawah ke jalanan Cikini yang sepi.
"Cipher, Point," perintahku.
Kami mulai berjalan menyusuri rel layang ke arah selatan, lalu turun melalui tangga darurat stasiun yang berkarat menuju jalanan aspal Menteng.
Jalan Pegangsaan Timur sunyi senyap. Pohon-pohon trembesi raksasa yang dulu menedungi jalan ini kini tumbuh liar, akar-akarnya menjebol trotoar dan melilit pagar-pagar rumah mewah. Mobil-mobil mewah berdebu—Alphard, Mercedes, BMW—terparkir sembarangan di pinggir jalan, ban-bannya kempis dan kacanya pecah.
"Ini daerah orang kaya, kan Paman?" tanya Baruna sambil berjalan di samping Kara.
"Dulu," jawabku. "Sekarang semua orang sama miskinnya. Bedanya, orang kaya mati di dalam rumah ber-AC, orang miskin mati di jalanan."
Kami melewati sebuah rumah gadang besar—mungkin bekas restoran Padang atau rumah pejabat. Pintu gerbangnya terbuka. Di halaman depan, ada kerangka manusia yang duduk di kursi taman, masih memegang gelas anggur.
"Bunuh diri massal," gumamku. "Saat wabah pertama meledak dan rumah sakit penuh, banyak orang Menteng memilih pesta terakhir daripada berubah jadi si pucat."
"Logis," komentar Kara. "Mati sebagai manusia lebih baik daripada hidup sebagai monster."
Anak-anak ini… cara pikirnya kadang membuatku merinding. Otoritas benar-benar mencuci otak mereka dengan efisiensi yang mengerikan.
"Berhenti," desis Tio dari belakang.
Aku berhenti, menahan napas. Rover di gendonganku merintih pelan.
"Ada apa?" bisikku.
Tio menunjuk ke perempatan depan. Jalan Diponegoro.
Di tengah perempatan, ada sebuah pos blokade militer tua. Karung pasirnya sudah hancur jadi tanah, kawat berdurinya sudah karatan. Tapi bukan itu masalahnya.
Di sana, ada sekawanan anjing liar. Lima ekor. Mereka bukan anjing biasa. Bulu mereka rontok sebagian, kulitnya penuh borok. Mata mereka merah menyala. Anjing Feral. Anjing yang memakan daging mayat terinfeksi dan bermutasi menjadi agresif, meski tidak menjadi zombie sepenuhnya.
Mereka sedang mencabik-cabik sesuatu di aspal—bangkai kucing atau tikus besar.
"Jangan bergerak," bisikku. "Angin mengarah ke kita. Mereka belum mencium bau kita."
Cipher, yang biasanya berani, kali ini mundur dan bersembunyi di balik kaki Kara. Kucing tahu hierarki alam: anjing gila adalah predator puncaknya.
Salah satu anjing itu mengangkat kepala. Telinganya yang caplang berputar. Dia mengendus udara.
"Sial," umpatku. "Bau darah Rover."
Luka Rover yang bernanah dan berdarah adalah suar bagi predator.
Anjing itu menggonggong. Suaranya parau dan jelek. GUK! GUK!
Keempat temannya berhenti makan dan menoleh serentak. Lima pasang mata merah menatap kami.
"Lari?" tanya Baruna gemetar.
"Tidak. Lari memicu insting kejar mereka," kataku cepat. "Tio, jatuhkan ransel. Ambil batu. Kara, Baruna, mundur ke balik pagar rumah itu. Biar aku yang urus."
"Tapi Paman bawa Rover!" protes Kara.
"Mundur!" bentakku.
Anak-anak itu lari bersembunyi di balik pagar besi sebuah rumah kosong. Aku menurunkan Rover pelan-pelan di trotoar, menyandarkannya ke pohon.
"Maaf, Sobat. Kau jadi penonton dulu," bisikku.
Aku mencabut golok di pinggang kiri dan pistol di pinggang kanan. Tapi aku menahan diri untuk tidak menembak. Suara tembakan di sini bisa memanggil hal yang lebih buruk dari anjing.
Kelima anjing itu mulai mendekat. Mereka tidak berlari, melainkan menyebar. Formasi serigala. Satu di tengah, dua di kiri, dua di kanan. Mereka mau mengepung.
"Ayo, Jelek. Maju," tantangku.
Anjing pemimpin—yang paling besar dengan bekas luka bakar di punggung—menerjang duluan.
Aku tidak mundur. Aku menendang moncongnya dengan sepatu botku tepat saat dia melompat. BUKK!
Dia terpental, tapi dua anjing lain langsung menyerang dari sisi kiri dan kanan.
Aku menebas ke kiri dengan golok. Srat! Golokku mengenai bahu anjing kiri, membuatnya melolong mundur. Tapi anjing kanan berhasil menggigit lengan jaket kanvasku.
Giginya tajam, menembus kain tebal dan menggores kulitku.
"Lepas!"
Aku menghantamkan gagang pistol ke kepala anjing itu. Sekali. Dua kali. Tengkoraknya retak. Dia melepaskan gigitan dan jatuh kejang-kejang.
Dua anjing tersisa ragu sejenak.