April 2016
Akhirnya sore itu tiba. Raini melangkah masuk ke Stasiun Kiaracondong tepat pukul 18.30 WIB, matanya menyapu keramaian sambil mencari sosok Rey. Tak lama, dari kejauhan, ia melihatnya—Rey yang familiar, dengan senyum lebar yang langsung menghangatkan hati.
"Rey!" seru Raini sambil melambai antusias. Rey pun bergegas mendekat. Mereka bertegur sapa hangat, mengobrol riang sambil menunggu kereta. Tak berselang lama, kereta Bandung-Yogyakarta merangkak pelan ke peron 2. Mereka naik ke gerbong ekonomi dan duduk berdampingan, bahu saling bersentuhan ringan.
Sepanjang perjalanan, obrolan mereka mengalir deras. Rey bercerita tentang mantan pacarnya, kuliahnya yang kian menantang, dan mimpi-mimpinya. Raini mendengarkan seksama, meski tak banyak berbagi tentang dirinya—Rey sudah tahu betul seperti siapa mantan Raini dulu. Sesekali, Rey melirik tablet di pangkuan Raini, yang masih menyala dengan review perjanjian kerja timnya.
"Kerjaannya ngapain sih, Ra? Jam segini masih kerja?" tanya Rey penasaran.