Bagi keluarga Raharja malam hari ini terasa berbeda, di dalam ruang kamar yang luas dengan dinding berwarna putih gading ada jendela lebar di sisi timur yang dibiarkan transparan dengan gorden berwarna emas di kanan dan kirinya. Cahaya bulan purnama malam ini terlihat dengan jelas dari dalam kamar. Di tengah kamar ada dipan yng terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran di setiap sisinya. Di atas kasur berbaring pria tua yang sudah berusia lima puluh delapan tahun, tubuhnya kurus kering ampai terlihat jelas lekuk tulangnya, wajahnya pucat dengan tulang pipi yang nampak jelas dan rambutnya tipis sampai terlihat jelas kulit kepalanya.
Pria tua itu adalah Sabir Raharja, dia anak kedua keluarga Raharja dan menjadi direktur utama Rokok Tjoen yang sudah memasuki generasi ke tiga. Keluarga Raharja adalah pemilik salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia dari tiga perusahaan rokok terbesar yang sudah turun temurun diwariskan. Sabir memiliki tiga orang anak yaitu Akram, Ayu, dan Asih. Ketiga anak ini berdiri di sisi kanan ranjang mengamati lamat-lamat rama nya yang sudah hampir sampai diujung usianya. Di sisi kiri ranjang seorang perempuan berusia lima puluh empat tahun duduk di samping ranjang dengan tangan yang menggenggam erat tangan kiri Sabir, matanya bengkak namun air matanya masih dibiarkan terus mengalir, perempuan tua itu adakah Suyati Raharja istri dari Sabir.
Suasana diruangan itu terasa campur aduk, di luar cahaya bulan terlihat sangat indah tapi di ruangan itu rasanya seperti malam mendung yang tidak dihiasi bulan dan bintang, hanya gelap dengan suara isak tangis. Hari ini adalah hari ke sebelas Sabir terbaring di atas ranjang tidak bisa melakukan apapun, dari hari ke hari tubuhnya semakin kurus. Sabir belum sepenuhnya meninggal tapi jantungnya lemah dan tubuhnya sudah kaku, dokter mengatakan hanya bisa menunggu ajal sampai untuk menjemput.
"Ibu, sudah seminggu lebih rama begini, apa tidak ada jalan lain bu?". Suara Ayu serak dan bergetar, pipinya sudah basah menangis tidak tega melihat kondisi bapaknya
"Jalan yang mana dulu?, udah nggak sabar nunggu warisan kamu?"
"Mas!". Asih menegur kakak pertamanya dengan mata yang melotot tajam
"Cuma bercanda, serius banget sih?!"
"Menurut mas, keadaan kaya gini cocok buat bercanda?". Tanya Ayu
"Nggak usah berlebihan"