Inang Anyar

Khoirun Nisa
Chapter #2

Bagian 2

Kematian Sabir menjadi pukulan untuk perusahaan, selama ini tidak ada yang tahu bahwa Sabir sudah lumpuh selama sebelas hari namun tiba-tiba tersebar berita kematian Sabir. Setelah Sabir meninggal, terjadi kekosongan pemimpin sehingga perusahaan tjoen untuk sementara dipimpin oleh Karyadikrama Raharja, yaitu direktur operasional dan adik sepupu dari Sabir sampai dilakukanya rapat umum pemegang saham. Namun bagi sebagian orang kematian Sabir jadi berita yang sudah lama mereka ingin dengar, kematian Sabir seperti tanda perayaan akan dimulai.

Upacara kematian Sabir dilakukan di rumah duka milik yayasan keluarga Raharja. Di depan rumah duka berjejer karangan bunga dan ucapan belasungkawa dari keluarga dan juga rekan bisnis. Di dalam rumah duka yang tidak sempit dan tidak pula begitu luas dengan dinding bercat putih yang dihiasi kain putih di setiap sudutnya, terdapat peti mati di tengah-tengah ruangan yang dihiasi oleh bunga warna-warni yang mengelilingi peti. Di depan peti mati terdapat foto seorang pria tua dengan jas dan dasi bermotif kotak-kotak. Pria tua itu tersenyum, namun foto itu berwarna abu-abu yang membuatnya seperti ingin mengajak para pelayat untuk ikut berduka bersama keluarga yang ditinggalkan.

Suyati, Ayu, dan Asih berdiri di dekat pintu masuk rumah duka, menyambut pelayat bersama perasaan sedih yang masih mengekor di belakang mereka. Satu per satu datang pelayat, rasanya semakin aneh ketika memaksakan senyum untuk pelayat yang dimana orang yang mereka layat adalah rama dan suami mereka. Raga mereka disana tapi pikiran mereka seperti ikut terkurung dalam peti mati dan telinga mereka mengaktifkan mode bisu secara otomatis, ucapan empati dan ceramah dari pelayat yang mungkin tulus atau mungkin tidak sudah tidak bisa mereka dengar lagi.

"Saya turut berduka dengan kematian om Sabir, semoga Tuhan cukup baik untuk mengampuni dosa-dosanya"

Datang seorang pria muda berusia tiga puluh lima tahun, tubuhnya tinggi tegap dan bahunya lebar. Pria itu memiliki wajah dengan alis yang tebal dan sedikit tegak keatas, sorot matanya tajam dan dalam seperti memiliki labirin rumit yang tidak akan bisa diselesaikan oleh siapapun. Pria itu memiliki wajah lonjong dengan dagu yang rata serta tulang rahang dan pipi yang tegas, hidungnya mancung dan bibirnya merah muda alami dengan bibir bawah yang lebih tebal dari bibir atasnya serta rambutnya ditata rapi. Pria itu memakai kemeja berwarna hitam dengan lengan yang dilinting sampai bawah siku dengan luaran waistcoat berwarna hitam yang nampak pas dibadan. Pria tampan itu adalah Silas Raharja, anak tunggal dari Bardi Raharja, yaitu kakak dari Sabir dan anak perama generasi kedua keluarga Raharja.

Silas mengangkat tanganya yang memegang buket bunga dahlia hitam. Kelopak bunga dahlia hitam memiliki bentuk lonjong dengan ujung yang lancip. Bunga dahlia hitam memiliki kelopak yang semakin ke bawah maka akan semakin melebar. Bunga ini memiliki keindahan yang kadang membingungkan, warna kelopaknya merah gelap dari tengah sampai ujung yang semakin merah terang. Bunga ini memiliki nama dahlia hitam sedangkan warna aslinya bukan, bunga dahlia hitam hanya bunga berwana merah gelap yang kekurangan sorot cahaya sehingga mata menyimpulkan bahwa bunga dahlia ini berwarna hitam. Bunga ini membuat bingung kepada siapa manusia percaya, warna aslinya atau apa yang kita lihat dari mata kepala.

Suyati tak kunjung mengulurkan tangan menerima buket bunga yang terlihat anggun sekaligus misterius dengan kertas hitam yang membungkus buket dengan rapi. Suyati menatap Silas lamat-lamat, menyusuri labirin mata Silas dengan harapan dapat menemukan jalan keluar, tapi sepertinya mata itu lebih pandai membuat orang tersesat dari pada menunjukan jalan. Mata Silas seperti kosong tidak memiliki emosi, bisa jadi dia hanya pandai menyembunyikan pikirannya, bukan benar-benar tidak merasakan apapun.

"Tante tidak suka bunga dahlia hitam?"

Suyati mengedipkan matanya beberapa kali lalu tanganya diangkat untuk menerima bunga dari Silas

"Bukan begitu, tante suka tapi lebih suka dahlia putih"

"Bunga dahlia hitam rasanya lebih cocok untuk keluarga tante"

Suyati tersenyum kaku "Begitukah?"

"Tente tidak perlu sedih, ini hanya permulaan untuk hidup yang lebih menyenangkan"

Silas mengangkat ujung bibirnya, tersenyum dengan mata yang menatap tajam Suyati seperti menguliti sedikit demi sedikit keberanian Suyati. Ayu dan Asih saling berpandangan melemparkan pertanyaan yang sama satu sama lain, mereka tidak tahu apakah ucapan sepupu mereka ini bermaksud baik atau buruk. Mereka semakin bingung melihat wajah ibunya yang kaku dan sorot matanya menunjukkan emosi yang kalut siap untuk meledak kapan saja. Asih tidak bisa membiarkan suasana tetap canggung sehingga memutuskan untuk bicara lebih dulu.

"Makasih mas Silas sudah menyempatkan hadir, sampai harus pulang ke Indonesia"

"Tidak masalah Asih, keluarga memang sudah sepantasnya"

Lihat selengkapnya