Matahari sudah sepenuhnya tenggelam bersama dengan cahayanya. Tanggung jawab matahari untuk menerangi bumi sudah digantikan sepenuhnya oleh bulan dan banyak bintang yang mampu menembus cahaya buatan lampu sampai akhirnya cahaya alsi bisa nampak dari tanah bumi. Cahaya mereka masih belum bisa semegah matahari tapi sudah cukup untuk mata dapat melihat jelas bagaimana terkuburnya satu peti mati yang terdapat Sabir didalamnya dengan jiwa yang sudah meninggalkan raganya.
Suyati bersimpuh di samping liang kubur dengan mata yang tak bisa berhenti menangis bersama Ayu dan Asih yang sama kacaunya merangkul ibunya untuk saling menguatkan. Rasanya dunianya ikut terkubur bersama pria yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Ada rasa takut yang tidak bisa dibendung, memikirkan bagaimana dia harus melanjutkan hidup padahal dia ingin berhenti lebih dulu. Waktu tidak mengenal apa itu emosi, waktu hanya tau bagaimana dia terus meninggalkan dan menyambut. Waktu terus berjalan tanpa melihat kebelakang, meninggalkan yang bahagia atau sedih tapi tetap akan ada senang atau sedih dari cerita yang lain di waktu yang berbeda. Tugas waktu hanya berjalan, manusia yang bertugas mengisi setiap jalan dengan cerita yang dia punya dengan pilihan penuh atau takdir yang tidak memiliki opsi.
Peti mati itu sudah sepenuhnya mendarat di tanah. Sudah saatnya peti mati berwarna putih itu terkubur perlahan dengan tanah coklat yang terus menerus dilempar ke dalam liang sampai lubang itu telah sepenuhnya rata dengan tanah. Suyati menangis semakin keras, tanganya diulurkan ke arah liang kubur mencoba menghentikan. Ayu dan Asih memeluk erat ibunya, mereka tau rasanya melihat orang mereka sayang sudah menyatu dengan tanah. Emosi mereka kalut melihat malam hari ini yang mungkin menjadi malam paling indah bagi orang lain dengan cahaya megah bulan purnama dan bintang bintang kecil yang mengelilinginya. harusnya juga jadi malam yang indah untuk keluarga Sabir, mereka makan malam di taman rumah sambil bercerita tentang hari ini,tapi realita mendorong mereka ke jurang paling dalam. Ayu dan Asih mengutuk keras takdir malam ini dari dalam hati namun takdir sudah lebih dulu mengutuk mereka dengan mengambil separuh dari kehidupan mereka.
Prosesi pemakaman sudah sepenuhnya selesai, satu per satu pelayat meninggalkan kuburan, mungkin bari mereka malam ini hanya acara formal yang harus dihadiri untuk alasan rekan bisnis atau orang sedarah, tapi bagi Suyati dan anak anaknya, malam hari ini tak lebih dari hidup baru yang tak diinginkan dengan perasaan takut yang mengekor di belakang. Tinggal tersisa Suyati, Ayu, Asih, Karya, Silas di pemakaman. Suyati dan anak anaknya masih enggan meninggalkan makan Sabir. Karya dan Silas mendekati makam Sabir dengan keranjang yang berisi kelopak bunga mawar didalamnya, mereka bersimpuh untuk menaburkan bunga di atas makam Sabir.
"Semoga kamu tenang disana mas" Karya mengulurkan tangan menabur bunga dari ujung kanan sampai ujung kiri makam
"Om Sabir tenang saja disana, Silas sendiri yang akan mewakili om mengawasi keluarga om" Silas menaburkan bunga dengan menatap tajam tulisan Sabir Raharja di atas batu nisan dan senyuman diwajahnya yang tidak akan ada yang bisa menebak senyuman yang dia buat tulus atau palsu.
Karya melirik ponakannya, dia tidak sedang sedang berusaha untuk membaca pikiran Silas. Karya tau betul bagaimana karakter Silas, melihat sendiri bagaimana ponakannya tumbuh dengan keadaan yang tidak begitu bisa dibanggakan, membuat Silas menjadi pria yang tidak akan pernah melepaskan apa yang seharusnya menjadi miliknya dan orang sudah membuat hidupnya sengsara harus menuai benih yang mereka tabur, satu per satu seperti menguliti hidup hidup lalu dia akan membakarnya saat mereka dalam keadaan sadar.
Karya dan Silas berdiri lalu membalikkan badanya menghadap Suyati dan melangkahkan kakinya menghampiri Suyati dan anak anaknya berada, mereka bersimpuh menyetarakan tatapaan mereka dengan Suyati.
"Tidak papa mbak sedih, tapi hidup tetap harus berjalan setelah malam ini, kalau mbak dan anak anak butuh bantuan, mba bisa hubungi saya"
"Ayu, Asih kalau ada sesuatu juga bisa hubungi mas, kita kan keluarga sedarah, darah lebih kental dari air" Silas mengalihkan tatapannya dari Ayu dan Asih tepat ke arah mata Suyati dengan tatapan seakan menembusnya dengan pedang tajam transparan
"Tapi kalau darah itu keluar dari tubuh, bisa bukan lagi kental, tapi keras, bukan begitu tante?"
Suyati membeku, air matanya pun ikut berhenti mengalir, pikirannya mengembara mencari harapan bahwa semua akan baik baik saja. Tak sampai Suyati untuk sekedar bersuara, lidahnya kelu dengan perasaan yang masih belum berhasil dia cerna.
"Maksudnya gimana mas?" Asih menatap Silas dengan tatapan polosnya
Silas tersenyum melihat Asih "Bukan apa apa Asih" Silas meletakkan tanganya ke atas kepala Asih lalu mengusapnya pelan. Silas berdiri lalu menganggukkan kepala ke arah Suyati yang masih saja mematung kemudian Silas berjalan meninggalkan pemakaman. Karya menatap Silas dengan tatapan yang sulit diartikan dan membatin bahwa anak itu memang sudah tumbuh sesuai dengan yang ada di pikirannya. Karya menatap Ayu dan tersenyum sebelum akhirnya berdiri yang menyusul Silas pergi meninggalkan pemakaman.
Kini tinggal mereka bertiga terduduk di samping kuburan Sabir diantara banyak kuburan yang lebih dulu bersemayam. Terdengar suara dari jangkrik yang mungkin berada di balik semak semak di depan. Ada pula suara dari burung hantu yang mungkin bertempat tinggal di pohon besar yang letaknya ada di tengah pemakaman. Suara alam di malam hari membuat perasaan sepi dan sendiri menjadi semakin kuat mengikat. Rasanya ingin cepat pergi ke tempat yang lebih aman dan nyaman, sedih yang masih ingin di ungkapkan menjadi tertunda sesaat.