Inang Anyar

Khoirun Nisa
Chapter #4

Bagian 4

Asih berlari tergesa gesa menaiki tangga dengan deru jantung yang semakin kencang, dia khawatir terjadi sesuatu pada keluarganya lagi untuk yang kedua kalinya. Asih tidak sanggup lagi kalau harus ada kejadian tidak menyenangkan dalam kondisi masih berduka seperti ini. Sesampainya Asih di lantai dua, dia melihat ke kiri, pintu kamar Akram ibunya dibiarkan terbuka. Asih melangkah perlahan, saat dia melewati kamar Akram dia melirik menelusuri apa yang ada di dalamnya, tapi ternyata kosong. Asih mendengar suara Ayu dari kamar ibunya, dia melanjutkan langkahnya lalu perlahan memasuki kabar ibunya, didalam kamar ada ibunya yang berbaring memunggungi Ayu. Asih mendekati Ayu yang masih berdiri mengamati Suyati yang sudah dipanggilnya berkali kali.

"Ada apa mbak?"

"Mas Akram hilang"

"Hah!?"

"Mbak udah coba bangunin ibu tapi tetep nggak bangun, tubuh ibu juga aneh"

"Aneh gimana mbak?"

"Kaku kaya" Ayu tidak melanjutkan kalimatnya

"Kaku gimana?" Asih meninggikan suaranya, dia mulai terlihat gusar dengan wajahnya terlihat khawatir

Asih mendekati ranjang ibunya lalu duduk disampingnya, tanganya perlahan diangkat lalu diletakkan di atas bahu ibunya. Asih mengguncang pelan tubuh ibunya, lalu dia menoleh ke arah kakaknya, mereka seperti sedang berbicara lewat mata. Asih setuju, tubuh ibunya kaku, mengetahui itu Asih menjadi semakin gusar, rasanya tidak sanggup kalau harus berduka bertubi tubi. Asih mulai menitikkan air matanya, tanganya memegang pergelangan ibunya memastikan bahwa apa yang dia pikirkan itu salah.

Asih menghembuskan nafasnya dengan dengan keras, lalu melihat ke arah kakaknya. Asih menatap Ayu dengan perasaan lega yang terlihat jelas, Asih menangis semakin kencang, rasanya beban yang sudah dia tahan di atas kepalanya akhirnya hilang juga. Jari Asih merasakan deru jantung ibunya dari pergelangan tangan yang dia ditekan.

"Bu, bangun bu, sarapan dulu" Masih belum ada jawaban dari Suyati

Ayu ikut mendekat ke atah Asih untuk membantunya membangunkan ibunya, mungkin ibunya masih bersedih sampai tidak ada keinginan untuk sekedar bangun dari tempat tidur, tapi ibunya tetap harus makan setidaknya cuma beberapa suap saja

"Iya bu, makan dulu nanti lanjut tidur lagi" Suyati masih saja tidak bergeming

"Ibu mau makan apa?, nanti biar dimasakin sama bi Inah"

Ayu dan Asih saling bertatapan, melihat ibunya tidak kunjung menjawab membuat mereka kembali khawatir

"Ibu sakit?"

"Heeee"

Suyati mengeluarkan suara yang tidak seperti biasanya, suaranya berubah menjadi serak dan tipis. Suyati mulai menggerakkan kepalanya kesembarang arah diikuti dengan erangan yang terdengar semakin jelas. Ayu dan Asih mulai merasa takut yang sama dengan malam meninggal rama mulai datang kembali. Mereka tidak berani memanggil atau menyentuh ibunya, mereka memang belum mengerti apa yang terjadi pada Akram malam itu, tapi mereka juga tidak berani mengambil resiko jika mereka bisa sama seperti kakak dan ibunya sekarang.

Suara erangan ibunya seakan menjadi mengantar suara yang mengerikan untuk memulai pagi. Disaat Ayu dan Asih masih mematung tak bisa memikirkan jalan keluar untuk membuat ibunya kembali tiba tiba Suyati berteriak dengan sangat keras, perlahan dia memutar kepalanya keatas dengan tubuh yang masih pada posisi semula dan tidak bergeming sampai posisi kepalanya tegak menghadap ke atas

Ayu dan Asih gemetar satu badan, ketakutan sudah sepenuhnya mengambil alih mereka, mendadak tidak tahu caranya berlari atau sekedar berdiri dari tepi ranjang. Suyati menghentikan teriakannya lalu matanya melirik tepat ke arah Asih lalu berbalik menatap mata Ayu, matanya merah gelap dengan urat mata yaang terlihat jelas. Hal yang membuat Ayu dan Asih terkejut, takut, namun juga rindu, semua emosi bercampur sebesar ini karena wajah dari ibunya, wajah yang sangat mereka kenal tapi itu bukan wajah milik ibunya.

"Rasah kowe nggolek i mas mu" (Tidak usah kamu mencari kakak mu)

Lihat selengkapnya