Inang Anyar

Khoirun Nisa
Chapter #5

Bagian 5

Hari ini akan jadi pagi yang susah dilupakan bagi Ayu dan Asih, terutama si anak bungsu yang sudah menangis sejak ibunya di jemput dengan ambulance sampai penyangga leher dipasang. Suyati sudah melakukan pengecekan dengan CT scan, setelahnya dokter melakukan pengamatan pada hasil yang sudah keluar, ternyata terjadi pergeseran posisi pada tulang lehernya sehingga harus dilakukan reposisi pada tulang leher agar kembali ke posisi aslinya, kemudian dokter memasangkan penyangga leher untuk meminimalisir pergerakan leher. Beruntungnya tidak ada syaraf yang terjepit dan tidak ada jaringan ligamen yang robek parah sehingga tidak perlu melakukan operasi dan besok sudah diperbolehkan pulang.

Keadaan sudah jauh lebih tenang namun masih saja jadi mimpi buruk yang terngiang bagi Asih, sedangkan Ayu sibuk menulusuri pikirannya sendiri, bukan dia tidak peduli dengan ibunya,sekalipun mereka memang tidak sedekat itu jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya, tapi dia tetap peduli hanya saja pertanyaan dalam pikirannya jauh lebih menarik perhatiannya.

"Mbak!?" Asih memanggil kakaknya berulang kali sampai akhirnya dia meninggikan suaranya.

"Ha?" Ayu seperti orang yang terbangun karena bermimpi terjatuh dari gedung pencakar langit

"Titip ibu, Asih mau beli makanan dulu di bawah"

"Oh, okey"

"Mau nitip"

"Apa aja yang ada"

"Okey" Asih mengangkat tangan kananya dengan jempol dan jari tengahnya yang saling menempel membentuk lingkaran dan ketiga jadinya tegak ke atas

Asih mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja lalu pergi meninggalkan Suyati dan Ayu. Ayu hanya duduk diam sofa samping ranjang pasien mengamati ibunya yang menatap langit langit kamar. Ayu berdiri lalu berjalan mendekati ibunya, dia menggeser kursi yang ada disampingnya agar lebih dekat dengan ibunya lalu duduk diatasnya.

"Ibu masih sakit?"

"Udah nggak terlalu" jawab suyati dengan suara yang pelan

Ayu mengangguk mengerti "Bu"

"Hmm"

"Ibu tapi jangan sedih ya"

"Kenapa?"

"Tadi pagi waktu Ayu mau nganter sarapan ke ibu, Ayu ngelewatin kamar mas Akram, Ayu cuma ingin tahu saja gimana keadaan mas, tapi waktu Ayu ketuk pintunya tidak ada jawaban, Ayu khawatir sama mas jadi mas buka pintunya,tapi ternyata mas Akram nggak ada di dalem, Ayu udah cari satu rumah tetap nggak ada mas Akram. Mas hilang bu"

Ayu menceritakan itu dengan mata yang melihat lamat lamat ke wajah Suyati, dia ingin tahu bagaimana reaksi ibunya mengetahui anak yang paling dia sayang sudah menghilang dari rumah

"Kamu kaya ngga kenal mas mu saja, nanti juga pulang sendiri, kamu nggak perlu khawatir"

Ayu tersenyum mendengar jawaban dari ibunya, dia memang tahu persis kakaknya yang suka keluar malam dan pulang kalau ingat saja tapi ibunya, dia juga hafal. Suyati tidak biasanya seperti ini, tidak ada wajah panik dan khawatirnya yang biasa dia perlihatkan kalau mendengar Akram keluar lagi dari rumah, sekalipun Akram sudah pamit dengan ibunya, seperti Suyati sudah tahu kemana dan kapan Akram pergi dari rumah, atau bisa jadi ibunya sendiri yang membawa kakaknya pergi.

Ayu merasa pemikirannya tervalidasi bahwa orang tuanya menyembunyikan sesuatu dari anak anaknya. Semua hal tidak masuk akal yang sudah terjadi tidak mungkin secara acak terjadi ke keluarga mereka, tapi ini adalah buah dari rahasia keluarganya yang tidak sengaja memiliki celah untuk Ayu curiga. Ayu merasakan dorongan keinginan untuk mencari tahu akar dari pohon yang buah nya tak sengaja nampak, bukan Ayu mencurigai keluarganya melakukan kejahatan atau keluarga dia layak untuk mendapatkan ini, tapi dia percaya dengan hukum sebab akibat. Mengetahuinya memang akan menjadi kepuasan tersendiri bagi Ayu, tapi motivasi utama dia adalah untuk rama nya yang sudah meninggal dalam kondisi yang mengenaskan, jika memang ini akibat dari perbuatanya sendiri Ayu sudah tidak bisa ikut campur lai, jika semua ini ulah orang yang ingin jahat kepada keluarganya, maka dia akan meminjamkan tanganya kepada Sabir balas dendam.

Terdengar suara ketukan pintu lalu ganggang pintu yang di tekan kebawah dan di dorong, Asih datang dengan tangan kiri yang memegang plastik penuh cemilan dan makanan berat untuk dia dan kakaknya. Setelah Ayu melihat Asih dari ambang pintu, dia langsung berdiri lalu berjalan ke arah sofa. Ayu mempersilakan adiknya untuk duduk didekat ibunya tanpa mengucapkan kalimat apapun, dia cukup sadar diri Asih lebih cocok duduk didekat ibunya.

Ayu duduk di atas sofa lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Ayu langsung mencari aplikasi note lalu membukanya dan menyentuh tanda plus untuk halaman baru, dia memberi judul hanya dengan tanda tanya (?). Kaliman pertama yang dia tulis pada bagis isi catatan adalah, 'kenapa ibu menyembunyikan mas Akram' dan 'apa yang terjadi dengan mas Akram'. Ayu akan mengumpulkan semua pertanyaan dari kejadian yang janggal dan mencari tahu nya pelan pelan

Lihat selengkapnya