Inang Kedua

Camèlie
Chapter #10

Bab 10 - Tanda Dari Dalam Tubuh

Minggu Pagi, Jakarta Selatan.

Sepuluh Tahun Kemudian.

Rumah mewah bergaya minimalis di kawasan Pondok Indah itu tampak tenang di bawah sinar matahari pagi. Burung gereja berkicau di taman depan yang terawat rapi. Namun, ketenangan itu pecah oleh jeritan melengking dari lantai dua.

"MAAAA!!! MAMA!!!"

Di dapur, Rina menjatuhkan spatula-nya ke lantai. Klang! Wajahnya memucat seketika. Trauma sepuluh tahun lalu di lereng Gunung Wilis menyambar ingatannya seperti petir di siang bolong.

Ardian, yang sedang membaca koran di meja makan dengan rambut yang kini mulai memutih di bagian pelipis, langsung melompat berdiri. Kacamata bacanya terlempar ke atas meja.

"Celine?!" teriak Ardian.

Tanpa dikomando, suami istri itu berlari menaiki tangga. Jantung mereka berdegup kencang memukul rusuk, membayangkan hal terburuk: Nini kembali. Celine melihat hantu lagi. Atau Celine berdarah-darah seperti malam di rumah sakit itu.

Rina sampai duluan di depan kamar mandi Celine. Pintunya terkunci dari dalam.

"Celine! Buka pintunya, Nak! Ada apa?! Ada yang ganggu kamu?!" gedor Rina histeris. Tangannya gemetar hebat memegang gagang pintu.

Suara kunci diputar. Cklek.

Pintu terbuka.

Celine berdiri di sana. Wajahnya tidak ketakutan. Justru dia menyeringai lebar, matanya berbinar-binar senang, meski tangannya memegang perut bagian bawah.

"Ma! Pa!" seru Celine antusias. "Aku dapet! Akhirnya aku dapet!"

Rina dan Ardian mematung di ambang pintu. Napas mereka masih memburu, keringat dingin membasahi pelipis. Ardian bahkan sudah siap mendobrak pintu tadi.

"Dapet... apa?" tanya Ardian bingung, suaranya parau.

"Mens, Pa! Haid!" Celine tertawa lega. "Aku kira aku nggak normal karena temen-temenku udah dari SMP dapetnya. Ternyata hari ini keluar darahnya! Aku normal, Ma!"

Celine memeluk ibunya dengan riang. "Yes! Akhirnya aku jadi cewek dewasa!"

Sementara Celine bersorak gembira merayakan kedewasaannya, Rina dan Ardian saling pandang di atas bahu anak mereka.

Wajah mereka bukan lega. Tapi pucat pasi.

Lihat selengkapnya