Inang Kedua

Camèlie
Chapter #32

Bab 32 Dosa Yang Pulang

Desa Girah, Perbatasan Nganjuk - Kediri.

Perjalanan menuju desa itu terasa seperti menembus lorong waktu.

Setelah turun dari kereta di Stasiun Nganjuk, mereka menyewa mobil bak terbuka tua. Mobil itu membawa mereka menjauh dari keramaian kota, membelah hutan jati yang gersang, melewati jalanan makadam yang berbatu, hingga akhirnya berhenti di sebuah gapura desa yang sudah lumutan.

Desa Girah.

Udaranya di sini berbeda. Berat. Lembap.

Matahari sore tertutup kabut tipis yang menggantung rendah, seolah-olah desa ini berada di dalam toples kaca yang terpisah dari dunia luar. Sinyal HP nyaris hilang. Bar sinyal di telepon satelit Ardian pun hanya tersisa satu batang.

Raka turun dari bak mobil, membantu Ardian yang tampak pucat. Perjalanan ini menguras fisik pria kantoran itu, tapi beban mentalnya jauh lebih berat.

"Ini tempatnya, Raka," bisik Ardian, memandang pepohonan besar yang menaungi jalan desa.

Mereka berjalan kaki menuju rumah paling ujung. Rumah joglo tua yang berdiri tepat di perbatasan hutan lindung. Di depannya tumbuh pohon beringin raksasa yang akar gantungnya menjuntai sampai ke tanah, menciptakan tirai alami yang gelap.

Raka mengetuk pintu kayu tebal itu.

"Kulonuwun..."

Hening sejenak. Hanya suara angin yang mendesau di sela dedaunan bambu.

Lalu terdengar langkah kaki diseret. Srek... Srek...

Pintu terbuka.

Mbah Suro muncul. Sosoknya masih sama seperti saat Raka datang sendirian: bungkuk, bertelanjang dada, dengan kulit keriput seperti kulit kayu jati.

Mata kataraknya yang putih langsung menyipit. Dia menatap Raka sekilas, lalu pandangannya beralih ke sosok pria asing di belakang Raka.

Mbah Suro terdiam. Keningnya berkerut dalam, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu atau memecahkan teka-teki. Dia tidak langsung bicara. Dia melangkah maju sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Ardian.

Ardian menahan napas, tubuhnya kaku. Dia belum pernah bertemu kakek ini seumur hidupnya, tapi tatapan mata putih itu membuatnya merasa telanjang.

Sniff... Sniff...

Mbah Suro mengendus udara di sekitar baju Ardian. Hidungnya kembang kempis.

"Aneh..." gumam Mbah Suro pelan, suaranya serak. "Kamu orang kota. Baumu sabun mahal dan asap knalpot."

Mbah Suro menggeleng pelan, hendak mundur kembali karena mengira Ardian hanya tamu biasa. Tapi kemudian, dia berhenti.

Dia mengendus lagi. Lebih dalam. Lebih tajam.

Tiba-tiba, tangan keriput Mbah Suro mencengkeram lengan baju Ardian. Dia mendekatkan hidungnya ke lengan kemeja itu—lengan yang kemarin dipakai Ardian saat mengelap toples sampel di gudang.

Mata Mbah Suro membelalak. Ekspresi bingungnya berubah menjadi pengakuan yang mengerikan.

"Getah..." desis Mbah Suro. "Ada bau getah pohon itu di bajumu. Bau amis yang sudah diperam lama."

Mbah Suro melepaskan cengkeramannya seolah tangan Ardian adalah bara api. Dia mundur selangkah, menatap Ardian dengan tatapan baru. Tatapan yang merangkai satu per satu kejadian 10 tahun terakhir.

"Sepuluh tahun lalu... ada orang asing yang nekat masuk," gumam Mbah Suro, menyusun kepingan puzzle di kepalanya. "Lalu ada anak hilang. Lalu mereka kabur membawa kardus-kardus."

Mbah Suro menatap mata Ardian tajam.

"Jadi itu kamu?" tuduhnya pelan namun menusuk. "Si Pencuri yang mengambil potongan tubuhnya?"

Lihat selengkapnya