Hutan Kembang Kuning, Jawa Timur.
Matahari bersinar terik di langit, tapi cahaya itu mati begitu menyentuh kanopi hutan.
Raka dan Ardian berjalan menembus semak belukar yang kian rapat. Udara di sini tidak bergerak. Berat. Lembap. Seperti bernapas di dalam paru-paru orang sakit yang penuh cairan.
Ardian berhenti sejenak, menepuk-nepuk kompas di tangannya dengan frustrasi. Jarumnya berputar liar seperti gasing.
"Kompas mati," bisik Ardian, suaranya bergetar. "GPS satelit juga no signal. Kita muter-muter di tempat yang sama dari tadi, Raka. Jalannya berubah sendiri."
Raka yang berjalan di depan berhenti. Dia menyeka keringat dingin di pelipisnya. Kaos hitamnya sudah basah kuyup, celana kargo tebalnya penuh lumpur dan duri.
"Jangan pake mata, Om. Mata bisa ditipu," kata Raka dingin. Dia menyarungkan goloknya sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam lewat hidung.
"Terus kita kemana?"
"Ikuti baunya."
"Bau apa?"
"Bau mayat yang ditutup parfum," jawab Raka.
Raka menunjuk ke arah celah sempit di antara dua pohon besar yang dipenuhi duri. Secara visual, itu jalan buntu. Tapi secara aroma, di sanalah sumbernya.
Semakin mereka mendekat, bau manis yang menjijikkan itu semakin kuat. Aroma bunga kantil yang layu, bercampur dengan bau anyir darah dan lumpur basah yang tak kunjung kering.
"Baunya..." Ardian menutup hidung dengan lengan bajunya, wajahnya hijau menahan mual.
"Tahan, Om. Jangan muntah," bisik Raka tegang. "Jangan keluarin cairan tubuh apapun di sini. Hutan ini lapar."
Mereka menerobos semak berduri itu. Duri-duri tajam menggores lengan dan wajah mereka, tapi mereka terus maju mengikuti bau busuk itu.
Dan akhirnya... pepohonan itu terbuka.
Mereka sampai di sebuah tanah lapang yang gersang. Tidak ada rumput yang tumbuh di sana. Tanahnya hitam legam, becek, dan berdenyut.
Di tengah tanah lapang itu, berdiri Sang Induk.
Pohon Akar Merah.
Ukurannya mengerikan. Batangnya tidak bulat sempurna, melainkan bergelombang, bengkak di sana-sini seperti otot yang meradang. Warnanya putih pucat, licin, dan basah oleh lendir.
Itu bukan kulit kayu. Itu epidermis. Itu kulit makhluk hidup.
Dan akar-akarnya... puluhan akar merah menyembul dari tanah, melilit batang putih itu, berdenyut pelan dug... dug... dug... memompa cairan kental ke dahan-dahan di atas.
"Dia... dia sadar kita di sini," bisik Ardian.
Dia melihat gurat-gurat kayu di batang pohon itu bergerak pelan. Ribuan "mata" buta yang terbuat dari pola kulit kayu, kini menoleh ke arah mereka.
Daging yang Melawan
Pukul 11.55 WIB.
Ardian menurunkan tasnya dengan tangan gemetar hebat. Dia mengeluarkan telepon satelit.
Tut... Tut...
"Halo, Mas?" Suara Rina terdengar jauh dan panik.
"Sekarang, Rin," suara Ardian parau. Waktunya sudah tiba. "Suntikkan. Matikan kesadarannya. Jangan ragu sedikitpun."
Hening sejenak. Lalu terdengar isak tangis Rina yang tertahan. "Maafin Mama, Nak... Tidur yang nyenyak..."
Ardian mematikan telepon. Dia tidak sanggup mendengar proses itu. Dia tahu, saat ini di Jakarta, istrinya baru saja membuat anak mereka koma.
"Ayo, Om," desak Raka. Goloknya sudah terhunus, tangannya mencengkeram gagang kayu itu erat-erat. "Matahari udah di atas. Energinya paling lemah sekarang."
Ardian mendekati pohon itu. Hawa panas langsung menampar wajahnya. Pohon itu demam. Suhu di sekitarnya mencapai 40 derajat celcius.
Ardian menyalakan Bor Tangan.
NGIIING...
Suara mesin bor itu memecah kesunyian hutan.
Pohon itu bereaksi. Akar-akarnya menegang. Lendir merah menetes lebih deras dari ranting-ranting.
Ardian menempelkan mata bor baja itu ke bagian bonggol akar—jantungnya.
"Mati kau..."
Dia menekan bor itu.