Inang Kedua

Camèlie
Chapter #34

Bab 34 Kamar Yang Menjerit

Siang, Pukul 12.00 WIB.

Kamar Tidur Celine

Suara di kamar itu hanya bunyi beep monitor jantung yang lambat dan teratur.

Obat bius itu bekerja sempurna. Celine terbaring diam seperti patung lilin. Dadanya nyaris tidak bergerak. Dia ada di ambang kematian buatan—koma sementara untuk melindunginya dari rasa sakit.

Rina duduk di samping ranjang, menggenggam tangan dingin putrinya. Telepon satelit tergeletak di nakas, sambungan sudah terputus.

Rina melirik jam dinding. Jarum detik berdetak melewati angka 12.

"Sudah jam dua belas, Mas..." bisik Rina gemetar. "Cepatlah..."

Tiba-tiba.

ZRRRT!

Lampu kamar berkedip liar.

Suhu ruangan yang tadinya dingin karena AC, mendadak anjlok drastis hingga napas Rina mengeluarkan uap putih.

Bau anyir darah dan tanah basah menyeruak entah dari mana, memenuhi ruangan itu, mencekik paru-paru Rina.

Dan di atas kasur... tubuh Celine yang sedang koma itu tersentak.

Meski otaknya sudah dimatikan obat bius, otot-ototnya bereaksi terhadap trauma gaib. Punggung Celine melengkung ke atas. Matanya yang terpejam bergetar hebat.

Di lehernya, Kalung Kayu Stigi yang sudah retak parah itu mulai terbakar.

Bukan asap lagi. Tapi api kecil. Kayu itu membara merah, membakar kulit leher Celine.

"Celine!" Rina panik. Dia berusaha melepaskan kalung itu agar anaknya tidak luka bakar, tapi tangannya terpental.

DUG!

Rina terlempar mundur seolah didorong tenaga tak kasat mata. Punggungnya menghantam lemari.

"Aww..."

Rina mendongak. Dan dia melihatnya.

Di sudut kamar yang paling gelap, bayangan hitam mulai memadat.

Sosok itu merangkak naik ke dinding, lalu turun ke langit-langit tepat di atas tubuh Celine.

Nini.

Tapi dia tidak terlihat seperti nenek tua lagi.

Wajahnya hancur meleleh. Tubuhnya berasap. Dia menjerit tanpa suara, mulutnya menganga lebar memperlihatkan kegelapan tanpa dasar.

Dia sedang kesakitan.

Di hutan sana, Ardian baru saja menyuntikkan racun ke jantungnya. Dan Nini merasakannya.

Nini tahu dia akan mati.

Dan jika dia mati... dia akan membawa "cucunya" bersamanya.

Sosok itu melayang turun, tangannya yang berkuku panjang terulur ke arah wajah Celine.

Dia tidak ingin mencekik.

Dia ingin menarik napas Celine. Dia ingin mencabut nyawa inangnya sebelum ikatan mereka putus.

Lihat selengkapnya