Inang Kedua

Camèlie
Chapter #35

Bab 35 - Kenangan Yang Bukan Milikku

Bab ini adalah Interlude Bab 34

Alam Bawah Sadar Celine.

Celine membuka matanya.

Dia tidak berada di kamar tidurnya yang dingin. Dia berdiri di halaman sebuah rumah Joglo tua yang asri. Matahari bersinar hangat, angin sore membelai wajahnya.

Di lehernya, Celine merasakan beban yang familiar. Dia meraba dadanya. Kalung Kayu Stigi pemberian Raka masih melingkar di sana. Di dunia mimpi ini, kalung itu tidak retak. Kalung itu utuh, berwarna cokelat tua yang hangat.

Di depannya, ada seorang anak kecil berumur 5 tahun sedang bermain congklak sendirian di balai-balai bambu. Rambutnya dikepang dua, wajahnya ceria.

Celine mendekat. Saat anak itu menoleh, Celine tersentak.

Wajah anak itu... adalah wajahnya sendiri.

Itu Celine saat umur 5 tahun. Persis.

"Sari... ayo makan, Nduk."

Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah. Dia cantik, anggun, mengenakan kebaya lurik. Itu Nini—atau Nyi Laras—di masa lalunya. Tatapannya penuh kasih sayang yang meluap-luap.

Celine merasakan dadanya hangat. Tanpa sadar, dia ikut tersenyum. Jiwanya melebur. Dia tidak lagi merasa sebagai Celine si remaja Jakarta. Dia merasa dia adalah Sari, cucu kesayangan Nenek.

Babak 1: Pagebluk (Wabah)

Tiba-tiba, langit sore yang cerah itu berubah kelabu. Angin yang sejuk berubah menjadi angin panas yang membawa bau bangkai.

Pemandangan indah itu berganti cepat.

Celine melihat dirinya—sebagai Sari—terbaring di atas tikar pandan.

Tubuhnya panas tinggi. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah melepuh, seperti cacar api. Napasnya sesak, setiap tarikan napas terasa seperti menelan pisau.

"Nek... sakit..." rintih Sari kecil.

Nyi Laras menangis di sampingnya, mengompres dahi Sari dengan air ramuan. Wajah cantiknya kusut oleh keputusasaan.

"Bertahan ya, Nduk... Nenek obatin... Jangan tinggalin Nenek..."

Tapi wabah itu tidak peduli pada cinta.

Malam itu, di tengah hujan badai, napas Sari berhenti.

Tubuh kecil itu kaku. Dingin.

Celine merasakan kesedihan Nyi Laras merasuki jiwanya. Rasa kehilangan itu begitu dalam, begitu gelap, hingga rasanya gila. Nyi Laras tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Sari.

"Enggak..." bisik Nyi Laras, matanya melotot menatap mayat cucunya. "Kamu nggak mati... Kamu cuma tidur..."

Celine melihat kegelapan itu.

Nyi Laras menolak takdir. Dia tidak menguburkan Sari. Dia menggendong mayat cucunya yang mulai membiru itu, berlari menembus hutan malam menuju pohon keramat.

Ritual Terlarang

Api unggun kecil menyala di bawah pohon tua itu. Bayangannya menari-nari di batang pohon, memelintir bentuk tubuh Nyi Laras yang berlutut di tanah.

Celine—sebagai saksi yang terperangkap dalam ingatan—melihat Nini menggores tanah dengan kuku-kukunya sendiri, menggambar simbol-simbol kuno yang terasa salah hanya dengan dipandang.

Lalu Nini mulai merapal.

Awalnya lirih. Terputus-putus.

Seperti seseorang yang belum sepenuhnya yakin pada dosanya sendiri.

Rogo sing wus mati...

Nyi Laras mengangkat kepala. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena tekad yang terlalu keras.

Sukma sing kependem...”

Suaranya meninggi. Lebih cepat. Lebih pasti.

Bali...

Angin hutan berputar liar. Daun-daun beterbangan ke arah api, seolah ditarik oleh suara itu.

Nyi Laras tidak berhenti. Rahangnya bergerak makin cepat, nadanya menipis dan melengking, seolah bukan hanya satu suara yang keluar dari tenggorokannya.

Tangi... tangi... aja turu maneh...

Mbukak lawang... mbukak dalan...

Rogo bali... sukma bali...

Api unggun melonjak tinggi.

TANGI!”

Tanah bergetar.

Lihat selengkapnya