Inang Kedua

Camèlie
Chapter #36

Bab 36 Hutan Yang Mati

Hutan Kembang Kuning, Jawa Timur.

Hening.

Satu menit yang lalu, hutan ini dipenuhi jeritan memekakkan telinga dan guncangan tanah.

Sekarang, sunyi senyap.

Asap putih berbau belerang dan daging gosong mengepul tebal dari tengah tanah lapang.

Ardian terbatuk-batuk, mengibas-ngibaskan asap di depan wajahnya. Kacamatanya retak, wajahnya penuh noda lumpur dan nanah pohon. Dia masih memegang suntikan tekanan tinggi yang isinya sudah kosong.

Di depannya, Sang Induk—Pohon Akar Merah—masih berdiri, tapi dia sudah berubah.

Batang putih pucat yang tadinya licin dan berdenyut seperti kulit manusia, kini berubah warna menjadi abu-abu kusam. Teksturnya kering kerontang.

Akar-akar merah yang tadi melilit ganas, kini menghitam seperti arang, rapuh, dan tidak bergerak lagi.

Tidak ada denyutan.

Tidak ada suara.

Mati total.

KRAK...

Suara retakan kecil terdengar.

Tiba-tiba, dahan besar di bagian atas pohon itu patah sendiri karena bobotnya. Dahan itu jatuh menghantam tanah dan hancur menjadi serbuk debu, bukan kayu.

Pohon itu telah mengalami Nekrosis Total. Sel-selnya hancur lebur dari dalam akibat reaksi kimia DMSO dan Garam, mengubah strukturnya menjadi rapuh seperti abu rokok.

"Raka..." panggil Ardian serak. Dia menoleh ke samping.

Raka tergeletak di tanah lumpur, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi karena kehilangan banyak darah.

Kakinya yang tertembus akar tadi masih mengeluarkan darah, tapi akarnya sendiri sudah menyusut dan mati, sehingga Raka bisa menarik kakinya lepas.

"Kita... berhasil, Om?" tanya Raka lemah, menahan erangan sakit.

Lihat selengkapnya