Warung Makan Budhe Narti, Jakarta Pusat.
Matahari siang Jakarta bersinar terik, tapi kali ini tidak ada awan mendung yang menggantung di atas kepala Raka.
Suara sutil beradu dengan wajan terdengar riuh. Aroma soto ayam mengepul menggugah selera. Raka sedang sibuk mengelap meja pelanggan yang baru saja pergi.
Gerakannya tidak lagi setangkas dulu.
Setiap kali dia melangkah, kaki kanannya sedikit diseret. Dia berjalan pincang, dibantu oleh sebuah tongkat kayu sederhana yang kini menjadi teman barunya.
"Le, duduk dulu. Kakimu jangan dipaksa," omel Budhe Narti dari balik etalase, menyodorkan segelas es teh manis.
Raka tersenyum, menyeka keringat di dahinya. "Nggak apa-apa, Budhe. Dokter bilang harus sering dilatih jalan biar ototnya nggak kaku."
Luka tusukan akar di betisnya sudah kering, tapi jaringannya rusak permanen. Sesuai kata Mbah Suro, dia akan membawa bekas luka itu seumur hidup sebagai pengingat bahwa dia pernah "dicicipi" oleh hutan.
Kring.
Suara lonceng pintu warung berbunyi.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan warung sederhana itu.
Raka menoleh. Jantungnya berdesir pelan.
Pintu mobil terbuka. Seorang gadis turun.
Dia tidak lagi memakai piyama rumah sakit atau baju tidur yang lusuh. Dia mengenakan dress santai berwarna biru muda, rambut panjangnya digerai indah, berkilau ditimpa matahari.
Celine.
Gadis itu berjalan masuk ke warung. Langkahnya ringan. Tidak ada lagi beban di punggungnya. Tidak ada lagi hawa dingin yang mengikutinya.
"Siang, Budhe!" sapa Celine riang, langsung menyalami tangan Budhe Narti dengan sopan.
"Eh, Neng Celine... Masya Allah, makin cantik, makin seger," puji Budhe tulus. "Mau makan soto?"
"Mau banget, Budhe! Tapi aku mau ngobrol sama Kak Raka dulu ya."
Celine menoleh ke Raka. Senyumnya merekah lebar, menampilkan deretan gigi putih dan lesung pipi yang manis.
Raka memberi isyarat ke meja pojok yang kosong.
Dua Orang Veteran
Mereka duduk berhadapan. Suasana warung yang ramai seolah memudar, menyisakan mereka berdua dalam gelembung privasi sendiri.