"Nyebelin banget sih Pak An, gak tahu orang kejebak macet juga dibilang bohong. Malah harus ngerjain hukuman dengan cara nyapu halaman belakang sekolah lagi! Udah tahu kan halaman belakang sekolah itu kotornya ngalahin kebun luar sekolah."
Haidar berhenti bernyanyi dan juga berhenti memetik gitarnya begitu telinganya menangkap suara gerutuan seorang gadis yang tengah berjalan ke tempat persembunyiannya. Dengan gelagapan, Haidar buru-buru bersembunyi di balik semak-semak yang tingginya mencapai lutut orang dewasa.
"Tuh kan. Kotor banget, mana daun keringnya banyak banget yang berguguran. Sekolah ini udah mirip hutan aja, apalagi rumput liar yang tumbuh tinggi-tingginya."
Seorang gadis tampak cemberut lalu berkaca pinggang—menatap pemandangan di depannya dengan raut kesal.
Haidar yang mengintip di balik semak-semak mengerjitkan keningnya saat melihat gadis itu adalah Alice.
Setahu dia, Alice adalah tetangga sebelah rumahnya yang jarang sekali keluar rumah. Di sekolah pun, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kelas atau di perpustakaan. Haidar bahkan hanya pernah melihatnya tiga sampai empat kali saja dalam sebulan; bahkan kadang dalam kurun waktu satu bulan itu dia juga tidak pernah bertemu dengannya. Tapi sekarang, kenapa ya gadis itu datang ke belakang sekolah, sendirian lagi?