Teror Romantis yang Menyebalkan
Loker Luina kembali menjadi sasaran. Secarik kertas terselip di sana, membawa pesan yang membuatnya mengernyit.
{Jangan lupa makan, ya. Kalau telat nanti sakit, aku yang cemas.}
"Huh? Surat dari siapa lagi ini?" gumam Luina, mencoba mencari sosok mencurigakan di koridor kampus yang mulai sepi.
Keesokan harinya, pesan itu datang lagi.
{Dari rasa untuk cinta, aku tak lelah memandangmu. Meski jauh, aku suka.}
"Lagi?" Luina mendesah, namun tetap menyimpan kertas itu.
Hari-hari berikutnya, isi surat itu semakin menjadi-jadi.
{Tiap saat rinduku bertambah. Sedetik saja tidak melihatmu, rasanya ragaku hampa.}