Sang Singa di Rumah
Gaya brandalan mereka seketika menguap begitu sampai di depan pintu rumah. Denis, yang pertama kali membuka pintu, langsung mematung.
Di hadapan mereka, berdiri Luina. Tangan bersedekap, wajah datar, dan aura yang lebih menyeramkan dari preman mana pun di sirkuit tadi.
"Eh, Kakak... kok belum tidur? Ini sudah malam loh, Kak," ujar Denis, mencoba memasang wajah tanpa dosa.
Luina tidak bergeming. Dia sudah hafal betul bau aspal dan mesin yang menempel pada baju adik-adiknya.
"Dari mana saja kalian?" tanya Luina dengan nada rendah namun tegas.
Denis, Alo, dan Kennya saling lirik. Nyali mereka yang tadinya selangit saat balapan, kini menciut drastis. Di luar, mereka boleh jadi penguasa jalanan yang ditakuti, tapi di depan Luina—kakak perempuan yang sangat mereka sayangi sekaligus takuti—mereka hanyalah tiga adik kecil yang tertangkap basah berbuat nakal.
"Dari mana saja?!" ulang Luina, kali ini dengan nada yang lebih galak.
Ketiganya serentak menelan ludah. Malam ini, sepertinya uang 50 juta itu tidak akan cukup untuk membayar "uang damai" dari kemarahan sang kakak.
***
Operasi Saling Sikut
"Kakak... kami, itu... kami..." Kalimat Alo menggantung di udara. Nyalinya menciut melihat tatapan tajam Luina. Dengan gerakan patah-patah, dia menyenggol lengan Denis, memberi kode agar kakaknya itu yang bicara.
Denis tak mau jadi tumbal. Dia menyikut Kennya. Kennya yang kaget langsung menyikut balik Denis, hingga akhirnya mereka bertiga malah saling sikut di depan pintu bak anak ayam yang ketakutan.
"Kenapa harus aku? Kau saja, Kak!" bisik Alo, giginya merapat.
"Aku buntu! Tidak ada ide untuk bohong kali ini," balas Denis dengan bisikan yang tak kalah sengit.
"Suruh Ken saja! Dia biasanya paling pintar merayu Kak Luina," usul Alo lagi.
"Tidak! Aku juga menyerah!" Kennya menggeleng cepat.