INDIGO & ICE PRINCE

Xielna
Chapter #4

4.

Kesederhanaan di Balik Kemewahan

Setelah memastikan ketiga adiknya berangkat dan meja makan kembali bersih, Luina melangkah keluar rumah. Matahari pagi menyapa kulitnya saat ia mengunci pintu rapat-rapat. Hari ini ada kelas pagi, dan ia tak boleh terlambat.

Berbeda jauh dengan ketiga adiknya yang gemar menderu di jalanan dengan motor sport hasil tabungan mendiang orang tua mereka, Luina lebih memilih bus umum. Bukannya ia tak mampu membeli kendaraan pribadi—tabungan Lina dan Dani lebih dari cukup untuk itu—namun Luina adalah tipe gadis yang visioner. Baginya, masa depan ketiga adiknya masih panjang, dan ia harus menjadi benteng finansial yang kokoh bagi mereka. Beruntung, kecerdasannya membuat ia tak perlu memusingkan biaya kuliah di Universitas Satriksa berkat beasiswa penuh yang ia kantongi.

Sembari menunggu bus di halte, sebuah perasaan ganjil merayapi tengkuknya. Luina merasa sepasang mata tengah mengawasinya dari kejauhan. Ini bukan kali pertama; perasaan seperti diawasi ini telah menghantuinya selama berminggu-minggu. Ia mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut jalanan yang mulai ramai oleh pekerja, namun tak menemukan sosok yang mencurigakan.

Tepat saat bus kota berhenti di depannya, Luina menggelengkan kepala, mencoba mengusir kecemasan itu. Ia segera naik dan memilih duduk di barisan kedua dekat jendela, membiarkan pemandangan kota yang bergerak cepat mengalihkan pikirannya.

Mahasiswi Kesayangan dan Loker Misterius

Suasana kampus Satriksa sudah mulai riuh saat Luina tiba. Deretan mobil mewah milik mahasiswa kelas atas terparkir rapi di pelataran. Meski Luina hanya mahasiswi yang datang dengan bus umum, tak ada satu pun yang berani meremehkannya. Ia adalah "anak emas" para dosen—mahasiswi berprestasi yang statusnya cukup disegani hingga membuat para perundung berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya.

Luina berjalan menyusuri lorong yang masih agak lengang menuju lokernya. Begitu kunci diputar dan pintu loker terbuka, secarik kertas jatuh dari balik buku catatan Fisikanya.

Luina berjongkok, memungut kertas itu dengan helaan napas panjang. Lagi.

Ia membacanya dalam hati:

{Morning, dear. Semoga aktivitasmu menyenangkan.}

Alis Luina bertaut. Sudah sebulan lebih teror manis ini berlangsung. Yang membuatnya heran bukan hanya isinya, melainkan bagaimana si pengirim bisa menembus keamanan lokernya yang selalu terkunci rapat. Tanpa pikir panjang, Luina meremas kertas itu dan melemparkannya ke tong sampah dengan gerakan acuh tak acuh. Untuk saat ini ia masih bisa bersabar, namun jika si pengirim mulai berani menyentuh barang-barangnya, ia tak akan segan melaporkannya ke pihak kampus.

Preman Kampus dan Rahasia Rose

Di tengah jalan menuju kelas, ia berpapasan dengan Vania. Sahabatnya itu langsung merangkul lengan Luina, menggerutu sepanjang jalan.

"Hari ini jadwalnya Dosen Arman. Duh, mood-ku langsung terjun bebas!" keluh Vania dengan wajah ditekuk.

"Kenapa? Kurasa Pak Arman dosen yang kompeten," sahut Luina heran.

"Masalahnya, kelas beliau itu lambatnya minta ampun! Aku bisa lumutan karena bosan," balas Vania sambil menggembungkan pipi. Luina hanya terkekeh pelan dan menepuk bahu sahabatnya itu, mengingatkan agar tetap menghormati dosen.

Begitu mereka masuk dan duduk di barisan keempat, Vania tiba-tiba menyenggol bahu Luina dengan heboh. "Lui! Lihat itu!"

Lihat selengkapnya