INDIGO & ICE PRINCE

Xielna
Chapter #5

5.

Konfrontasi di Atap Kampus

Keheningan menyelimuti atap gedung setelah Luina meluapkan kekesalannya. "Siapa juga yang mau menasihatimu?" cetus Luina tajam. "Aku? Tidak minat. Aku hanya merasa kasihan padamu. Setelah amarahmu reda nanti, kau baru akan menyadari betapa sakitnya tanganmu itu. Bagus kalau hanya sakit sebentar, tapi bagaimana jika tulang mu retak karena kau terus memukuli tembok yang tidak berdosa ini?"

Angin berembus kencang, menerbangkan rambut keduanya di tengah ketegangan yang kaku. Lan hanya diam seribu bahasa, bibirnya terkatup rapat dengan tatapan lurus yang seolah ingin menembus bola mata cokelat Luina. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Tiba-tiba, dengan gerakan kasar, dia mendorong tubuh Luina hingga punggung gadis itu membentur dinding di belakang mereka.

Sebelum Luina sempat melayangkan protes, Lan langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang menuntut. Mata Luina membelalak sempurna, nyaris tak percaya dengan tindakan nekat Lan. Jantungnya berpacu liar saat merasakan sentuhan dingin bibir laki-laki itu.

Luina mencengkeram kemeja Lan, berusaha sekuat tenaga mendorongnya untuk berhenti. Namun, bukannya menjauh, Lan justru memperdalam pagutan itu. Dia melingkarkan satu tangannya di pinggang Luina, sementara tangan lainnya menahan tengkuk gadis itu agar tidak bisa berpaling. Di bawah embusan angin yang kini terasa lebih lembut, Lan memejamkan mata, seolah mencoba meredam badai di kepalanya melalui ciuman itu, mengabaikan pemberontakan Luina dalam dekapannya.

Saksi yang Terluka

Tanpa mereka sadari, Rose berdiri mematung di ambang pintu. Gadis bermata abu-abu itu terpaku melihat pemandangan di depannya dengan perasaan hancur. Tangannya terkepal hingga buku jarinya memutih. Rasa marah, kesal, dan cemburu yang hebat bergejolak di dadanya.

Ia kecewa pada Luina—sahabat yang selama ini ia percayai. Rose tak menyangka Luina akan melakukan hal yang ia anggap sebagai pengkhianatan ini. Karena tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang menyayat hatinya, Rose memilih pergi secara diam-diam dengan air mata yang mulai mengenang.

Hukuman dan Luka Baru

Di atap, Luina semakin brutal memukul dada Lan karena pasokan oksigennya mulai menipis. Lan akhirnya menyerah dan melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya terengah-engah dengan napas yang memburu. Dengan sisa tenaga yang ada, Luina mendorong Lan menjauh dan melayangkan tamparan keras hingga wajah laki-laki itu menoleh ke samping.

Bukannya marah, Lan justru menyeringai tipis. Dia mengusap pipinya yang terasa panas. Rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan kepuasan yang baru saja ia rasakan.

"Kau! Berani sekali kau menciumku! Dasar brengsek menjijikkan!" maki Luina penuh emosi. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan secara kasar, seolah ingin menghapus jejak Lan dari sana.

"Aku sudah memintamu pergi dan jangan ikut campur, Girl. Tapi kau keras kepala," sahut Lan santai, memasukkan kedua tangan ke saku celananya.

"Tapi apa hubungannya dengan menciumku, hah?!" teriak Luina dengan emosi memuncak.

Lan mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Embusan nafas hangatnya membuat Luina secara refleks menahan napas. "Karena aku sangat marah padamu," bisik Lan, menatap dalam mata bening Luina yang masih berapi-api. "Kau tidak menuruti perintahku, jadi anggap saja ciuman tadi adalah hukuman."

"Aku hanya ingin mencegahmu menyakiti diri sendiri, dan kau membalas niat baikku dengan cara serendah ini?" pekik Luina. Ia merasa bodoh karena sudah memedulikan laki-laki ini. Seharusnya ia biarkan saja Lan menghancurkan tangannya sendiri di tembok itu.

"Jadi, kau menyesal telah menghentikanku?" tanya Lan sambil memiringkan kepala.

"Sangat menyesal! Gara-gara kecerobohanku, kau merenggut ciuman pertamaku!"

Lan menaikkan sebelah alisnya. "Wah, kalau begitu aku harus merasa terhormat. Ciuman pertamamu diambil oleh laki-laki setampan aku. Seharusnya kau bangga, Luina. Belum tentu aku mau mencium sembarang wanita."



Luina melayangkan tinjunya ke perut Lan. Namun, bagi Lan, pukulan itu tak lebih dari sekadar geli karena tenaga Luina yang sudah terkuras.

"Jangan sombong hanya karena kau merasa tampan! Sampai kapan pun aku tidak akan terima!"

Lan menarik diri sedikit, mengusap bibirnya yang lembap sambil menyeringai nakal. "Ciumanku tidak buruk, kan? Sepertinya tadi kau sedikit menikmatinya, atau kau kecewa karena berakhir terlalu cepat?"

"Sialan! Pergi sana dari bumi ini! Dasar laki-laki mesum!" Luina kembali memukuli dada Lan dengan babi buta.

Lihat selengkapnya