Melodi dan Pengakuan yang Mengejutkan
Di sebuah sudut taman kampus yang asri, Malvin dan Luina duduk bersisian dengan sebuah gitar di pangkuan Luina. Mengikuti instruksi Malvin, Luina mencoba memetik senar demi senar, namun jemarinya masih kaku. Berkali-kali nada yang keluar terdengar sumbang, mematahkan melodi indah yang baru saja dicontohkan Malvin.
"Aaa, ini susah sekali!" keluh Luina sambil mengerucutkan bibirnya, tampak menyerah.
Malvin terkekeh gemas melihat ekspresi itu. "Namanya juga baru pertama kali, Lui. Wajar kalau masih kaku. Kalau terus latihan, jarimu akan terbiasa sendiri."
Tangan Malvin bergerak lembut, menyelipkan beberapa helai rambut Luina yang berantakan tertiup angin ke belakang telinganya. "Ayo, coba lagi. Aku yakin kamu pasti bisa."
Luina menarik napas panjang, mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada senar gitar. Di sampingnya, Malvin tak henti-hentinya mencuri pandang, mengagumi profil wajah Luina dari samping. Ketika Luina akhirnya berhasil memetik nada yang benar dan tersenyum lebar, Malvin tak kuasa untuk tidak ikut tersenyum.
Merasa bangga dengan kemajuannya, Luina menoleh ke arah Malvin. Namun, kegembiraannya mendadak surut saat ia menyadari jarak mereka begitu dekat. Malvin menatapnya dengan binar mata yang begitu dalam. Tangannya terangkat, menangkup sebelah pipi Luina dengan lembut.
"Kamu cantik sekali, Lui," puji Malvin tulus.
Senyum Luina perlahan luntur, digantikan oleh kebisuan. Malvin kemudian meraih tangan Luina, mengelus punggung tangannya dengan ibu jari. Genggamannya terasa hangat, namun sanggup membuat Luina terpaku.
"Aku menyukaimu, Luina," ucap Malvin dengan nada bicara yang berubah serius. "Lebih dari sekadar teman. Aku sangat menyayangimu."
Luina terkesiap. Matanya membelalak tak percaya. Ia tak menyangka pria yang baru sebulan menjadi temannya ini menyimpan rasa yang begitu besar.
"Aku tahu ini mendadak, tapi aku tidak bisa lagi memendam perasaan ini. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di hari ospek mahasiswa baru," ungkap Malvin jujur. Ia menghela nafas panjang, merasa lega beban di hatinya telah tersampaikan.
Luina mengerjap. Keterkejutannya perlahan mereda, digantikan oleh kecanggungan yang nyata. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Malvin, lalu menyerahkan gitar itu kembali pada sang pemilik sebelum akhirnya bangkit berdiri.
"Lui? Kamu marah?" tanya Malvin cemas saat melihat Luina bersiap pergi tanpa sepatah kata pun.
Luina menatap Malvin sejenak, lalu melangkah pergi meninggalkan pemuda itu yang hanya bisa terpaku menatap punggungnya dengan perasaan tak menentu.
Antara Keraguan dan Pencarian
Malvin tidak menyerah begitu saja. Dia segera menyambar gitar dan tasnya, lalu berlari mengejar Luina.
"Luina! Maafkan aku kalau kata-kataku tadi menyinggungmu," ujar Malvin setelah berhasil menyejajarkan langkahnya yang tergesa-gesa.
Luina menggeleng pelan. "Aku tidak marah, Malvin. Aku hanya... terkejut. Sangat terkejut."
"Aku minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman," cicit Malvin merasa bersalah. "Jadi... bagaimana dengan jawabannya?"
Langkah Luina terhenti. Ia berbalik, menatap Malvin yang tampak kikuk di hadapannya. "Maaf, Malvin. Untuk saat ini, aku masih ingin sendiri."
Dunia Malvin seolah runtuh sejenak, namun dia berusaha tegar. Dia memaksakan sebuah senyum maklum. "Aku mengerti. Mungkin aku terlalu terburu-buru. Tapi meski hari ini ditolak, aku tidak akan menyerah sampai kamu mau menerimaku."
"Lui!" Teriakan melengking Vania memecah suasana. Gadis itu berlari menghampiri mereka dengan wajah yang tampak kalut.
"Ada apa, Vania? Kau terlihat cemas sekali," tanya Luina heran.
"Apa kau lihat Rose? Tadi dia pamit ke toilet, tapi sampai sekarang belum kembali. Kamu juga, malah asyik jalan dengan Malvin dan meninggalkanku sendirian di kantin. Menyebalkan!" omel Vania, sesekali melirik Malvin yang hanya tersenyum simpul.
"Aku tidak melihatnya. Mungkin antre?"
"Sudah kucari ke toilet, tapi dia tidak ada di sana," jawab Vania cepat.
"Mungkin dia sedang jalan-jalan sebentar. Ya sudah, ayo kita cari sama-sama," ajak Luina. Vania langsung menarik tangan Luina, meninggalkan Malvin yang hanya bisa melambaikan tangan sebagai tanda pamit.
Sambil berjalan menyusuri koridor, Vania menatap Luina dengan tatapan menyelidik. "Ada hubungan apa kau dengan Malvin?"
"Teman. Memangnya apa lagi?" jawab Luina santai.
"Jangan bohong. Matanya tidak bisa menipu, Lui. Malvin itu jelas-jelas menyukaimu," ujar Vania blak-blakan.
Luina terdiam sejenak. "Apa memang sejelas itu?"
Vania menghentikan langkahnya, menatap Luina tak percaya. "Jadi benar dia sudah menyatakan cinta?!"
"Begitulah. Baru saja di taman."
"Serius?!" pekik Vania histeris. Ia memegang bahu Luina dengan kencang. "Lalu? Kau terima, kan?"
Luina melepaskan tangan Vania dengan tenang. "Tidak."
"Hah?! Kenapa? Kau tahu sendiri kan Malvin itu salah satu pangeran kampus? Tampan, terkenal, dan baik pula. Kau beruntung sekali disukai olehnya!" cerocos Vania tanpa henti.