INDIGO & ICE PRINCE

Xielna
Chapter #7

7.

Interogasi di Mal

"Dari mana kalian mendapatkan uang sebanyak itu untuk berbelanja?"

Suara itu lembut, namun getaran ketegasan di dalamnya sanggup membuat Denis, Alo, dan Kennya membeku seketika. Ketiganya menoleh serempak, menelan ludah dengan susah payah saat mendapati Luina berdiri di belakang mereka. Sorot mata sang kakak tampak mengunci mereka tanpa ampun.

"Kak Lui! Kok bisa ada di sini?" seru Alo, berusaha menutupi kegugupannya sambil memutar tubuh menghadap Luina. Denis dan Kennya pun melakukan hal yang sama, berusaha memasang wajah sealami mungkin.

"Memangnya kenapa kalau aku di sini?" Luina memicingkan mata, menatap tumpukan kantung belanjaan yang memenuhi tangan mereka.

"Bukan begitu, tapi ini kan sudah malam. Kenapa Kakak masih berkeliaran di luar?" tanya Alo, mencoba membalikkan keadaan.

"Kalian sendiri? Kenapa masih di sini padahal ini sudah hampir larut?"

Pertanyaan telak itu membuat ketiganya bungkam. Luina memperhatikan satu per satu kantung belanjaan bermerek yang dibawa adik-adiknya. Masing-masing menenteng beban yang cukup berat, bahkan Kennya sampai terlihat kewalahan.

"Kalian..."

"Kakakku sayang, sebaiknya kita bahas ini di rumah saja. Ini sudah malam, tidak enak dilihat orang," sela Denis dengan senyum manis yang dipaksakan, berusaha mengalihkan fokus Luina.

"Siapa bilang ini pagi?" cibir Luina, membuat senyum Denis kaku seketika. Luina menghela nafas panjang, mencoba meredam emosinya sejenak. "Ayo pulang. Sampai di rumah, kalian harus menjelaskan semua ini."

Rahasia di Balik Garasi

Sesampainya di rumah, Luina langsung melangkah masuk dan meletakkan barang belanjaan milik Denis di atas meja. Sementara itu, di garasi, Denis, Kennya, dan Alo sengaja melambatkan langkah. Mereka seolah sedang mengulur waktu sebelum menghadapi "sidang" di ruang tamu.

Sebenarnya, mereka tidak hanya berbelanja untuk diri sendiri. Di dalam tumpukan kantung itu, ada beberapa setel pakaian, sepatu, dan tas baru yang mereka belikan khusus untuk Luina. Uang itu mereka dapatkan dari hasil taruhan balap motor semalam—sebuah kegiatan yang sangat dilarang oleh kakak mereka.

"Sekarang apa yang harus kita katakan?" bisik Kennya cemas.

"Katakan saja sejujurnya," jawab Alo pasrah. "Percuma berbohong, Kak Lui pasti akan tahu juga."

Denis menghela napas panjang, menyetujui usul Alo. "Tidak ada pilihan lain. Kita jelaskan yang sebenarnya."

"Tapi Kak Lui pasti akan marah besar kalau tahu kita balapan lagi," cicit Kennya pelan.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka lebar. Luina berdiri di ambang pintu dengan tatapan datar. "Kenapa masih di luar sambil berbisik-bisik begitu?"

"Mereka sedang merancang kebohongan, Lu. Tadi aku dengar mereka sedang berdiskusi," celetuk Saras, sosok hantu penghuni rumah yang tiba-tiba muncul di samping Luina.

Luina semakin memicingkan mata. "Cepat masuk!"

Luka yang Tersembunyi

Di ruang tamu, suasana terasa mencekam. Luina duduk bersedekap di sofa, sementara ketiga adiknya berdiri menunduk di hadapannya seperti pesakitan. Tumpukan barang belanjaan berserakan di meja dan lantai, menjadi bukti bisu kemewahan yang tak biasa bagi keluarga mereka.

"Jelaskan pada Kakak. Dari mana kalian dapat uang untuk membeli barang-barang mahal ini?" tanya Luina, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Keheningan sempat meraja, sampai akhirnya Denis mendongak dan menatap Luina dengan berani. "Ini uang hasil taruhan balap motor kemarin malam, Kak. Aku menang, dan kami menggunakan uangnya untuk belanja kebutuhan kita semua. Aku juga membelikan Kakak baju dan tas baru."

"Jadi kalian masih balapan?" Luina bangkit berdiri, suaranya mulai meninggi. "Denis, kamu itu abang tertua! Harusnya kamu memberi contoh yang baik, bukan malah menyeret adik-adikmu ke hal berbahaya seperti itu!"

"Kita hanya balapan ringan, Kak! Kita butuh uangnya karena pakaian kita sudah lama tidak ganti. Kakak juga jarang membelikan kami baju baru!" Alo menatap Luina.

"Kak Lui selalu melarang ini-itu, seolah kami anak kecil yang tidak tahu batas! Kami hanya ingin menikmati masa remaja seperti yang lain. Kami tidak clubbing atau main wanita karena kami tahu kami punya Kakak yang harus kami jaga. Tapi kami juga ingin bebas!" teriak Alo dengan nafas memburu dan mata yang mulai berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya