INDIGO & ICE PRINCE

Xielna
Chapter #8

8.

Rayuan Para Kurcaci

"Kak Lui..." Denis mencoba memanggil sekali lagi, namun Luina masih tetap bergeming, sibuk dengan kegiatannya seolah suara Denis hanyalah angin lalu.

Denis menoleh ke arah Alo, lalu berbisik cemas, "Sepertinya Kak Lui benar-benar murka pada kita kali ini."

"Lalu kita harus bagaimana?" balas Alo dengan nada tak kalah khawatir.

Denis mengangkat bahu putus asa. "Entahlah. Kau tahu sendiri, kalau Kak Luina sudah menutup diri, membujuknya itu lebih sulit daripada soal ujian matematika. Dia bisa mendiamkan kita sampai sebulan kalau dia mau."

"Aku tidak mau itu terjadi," lirih Alo, menatap punggung Luina dengan sorot mata sendu. "Didiamkan sehari saja rasanya duniaku sudah hampa, apalagi sebulan."

"Dasar berlebihan!" sahut Kennya yang baru saja turun. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan kedua saudaranya. Tanpa ragu, ia melangkah mendekati Luina. "Selamat pagi, Kak Luina sayang," sapa Kennya seraya mendaratkan sebuah kecupan di pipi kakaknya.

"Hmm, pagi," balas Luina pendek, suaranya terdengar datar tanpa emosi.

Kennya sedikit mengerucutkan bibir, kurang puas dengan respon dingin itu, namun ia bersyukur setidaknya Luina masih mau menyahut. "Ada yang bisa aku bantu, Kak?" tanyanya menawarkan diri.

Melihat Kennya mulai beraksi, Denis dan Alo segera merapat dengan mata berbinar penuh harap. "Kami juga mau bantu, Kak!" ucap mereka serempak.

Luina melirik ketiga adiknya bergantian dengan kening berkerut samar. "Tidak ada. Semua pekerjaan sudah selesai," tolaknya dingin.

Permintaan Maaf yang Tulus

Meski ditolak, ketiga pemuda itu tidak menyerah. Saat Luina hendak membawa piring-piring ke meja makan, mereka segera berebut mengambil alih tugas tersebut. Denis dengan sigap menyambar bakul nasi dan ikan goreng, menatanya dengan rapi di meja. Alo menyusul dengan piring dan sendok, sementara Kennya membawa teko berisi air minum.

Setiap kali Luina ingin meraih piring, salah satu dari mereka selalu mendahuluinya dengan gerakan secepat kilat. Luina yang melihat tingkah "bahu-membahu" ketiga adiknya itu sebenarnya merasa geli sekaligus tersentuh. Amarah yang tadi membukit perlahan luruh melihat usaha mereka untuk menjilat kembali hatinya. Namun, ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.

Saat Luina hendak duduk, Alo dengan sigap menarikkan kursi untuknya sambil memberikan senyum kecil yang kikuk. Luina pun duduk, namun ketiga adiknya tetap berdiri di posisi masing-masing, membuat suasana terasa canggung.

"Kenapa berdiri saja? Ayo duduk. Kalau kalian lambat, kalian akan terlambat ke sekolah," tegur Luina, masih dengan nada bicara yang belum sepenuhnya melunak.

Alo menggeleng mantap. "Kami tidak akan makan sebelum Kak Luina memaafkan kami. Aku tahu kata-kataku semalam sangat keterlaluan dan menyakitkan. Aku minta maaf, Kak."

"Aku juga, Kak," timpal Denis dengan kepala tertunduk dalam. "Sebagai abang, aku sudah gagal memberi contoh yang baik. Maafkan aku karena sudah mengajak adik-adik ke hal yang tidak benar."

"Aku juga berjanji akan berubah, Kak," sambung Kennya tulus. "Aku akan mematuhi semua perkataan Kakak karena aku tahu Kakak melakukan semuanya demi kebaikan kami."

Mendengar pengakuan tulus itu, benteng pertahanan Luina akhirnya runtuh. Ia menghela napas panjang, lalu mengembangkan senyum hangat yang selama ini dirindukan adik-adiknya. Luina merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Seketika, Denis, Kennya, dan Alo berhambur memeluk kakaknya. Kennya dan Denis memeluk dari samping, sementara Alo memeluk erat dari belakang.

"Kakak tidak pernah benar-benar marah. Hanya sedikit kecewa," bisik Luina sambil mengusap pipi mereka satu per satu. "Kakak tidak bermaksud mengekang, selama itu baik tentu akan Kakak izinkan. Kakak hanya tidak ingin kehilangan kalian. Kalian adalah harta paling berharga yang Kakak miliki."

"Kami juga sangat menyayangi Kakak," balas Kennya, yang diamini dengan anggukan mantap oleh Denis dan Alo.

Lihat selengkapnya