Tatapan yang Membakar
Bel istirahat akhirnya bergema, memicu gelombang mahasiswa untuk berhamburan keluar kelas menuju kantin. Ruangan yang tadinya riuh perlahan sunyi, menyisakan segelintir orang, termasuk Vania dan Luina.
Vania menggebrak meja dengan lega begitu guratan terakhir catatannya selesai. "Akhirnya, bebas juga!" serunya sembari menyambar tas. "Ayo ke kantin, Lu! Perutku sudah demo."
Namun, Luina bergeming. Sepasang matanya terpaku tajam pada sudut belakang kelas. Vania yang penasaran mengikuti arah pandang sahabatnya. Di sana, di barisan pojok, Lan duduk dikelilingi teman-temannya. Rose tampak duduk merapat di samping Lan, berceloteh tanpa henti meski lelaki itu sama sekali tidak menggubrisnya.
Vania mendesah prihatin. Melihat Rose yang diabaikan sedemikian rupa membuat hatinya mencelos. Mengajak Lan bicara itu seperti bicara pada patung batu, batin Vania. Alih-alih merespons Rose, Lan justru melempar tatapan dalam nan misterius ke arah Luina. Ketegangan tak kasat mata di antara keduanya membuat Vania merinding.
Tiba-tiba, bola mata Lan bergulir dingin ke arah Vania. Jantung Vania nyaris copot. "Astaga, kenapa tatapannya menyeramkan sekali!" umpatnya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Vania menarik paksa tangan Luina. "Lu, ayo! Sekarang!"
"Aish, pelan-pelan, Van! Kenapa kau seperti dikejar hantu?" protes Luina saat mereka bergegas menyusuri koridor. Ia tidak menyadari bahwa saat itu mereka memang sedang diikuti oleh tiga sosok hantu yang mencoba mengajaknya bicara. Namun, Luina memilih bungkam demi menjaga kewarasan Vania.
Kantin dan Kecemburuan
Sesampainya di kantin, Vania segera memesan dua gelas es teh manis legendaris milik Mang Udin dan dua mangkuk bakso pedas. Sambil menyeruput kuah baksonya yang panas, Vania tampak jauh lebih tenang. "Begitu kuah ini menyentuh lidah, rasanya seperti di surga," gumamnya penuh kepuasan yang dibalas gelengan kepala oleh Luina.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Setelah makan, Luina melihat Rose berjalan sendirian dan segera mengejarnya. "Rose, kita perlu bicara!"
Rose mempercepat langkah, wajahnya mengeras. "Pergilah, aku tidak sudi bicara denganmu!"
Luina berlari dan mencekal pergelangan tangan Rose, memaksa gadis itu berhenti. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau menjelaskan ada apa dengan sikapmu ini!"
"Kau mau tahu?!" bentak Rose, matanya melotot penuh amarah. Jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah Luina. "Kesalahan terbesarmu adalah karena kau sudah berani mencuri ciuman dari Lan!"
Luina tertegun. Jadi, Rose melihat kejadian itu. "Rose, itu tidak seperti yang kau bayangkan..."
"Tidak seperti yang kulihat? Aku melihatmu menikmatinya, Luina!" potong Rose dengan senyum miring yang getir. "Dengar, Lan adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun merebutnya, termasuk kau. Jika kau tetap mendekatinya, aku akan membencimu seumur hidup."
Hati Luina mencelos. Ia tidak menyangka persahabatan mereka akan hancur hanya karena seorang lelaki dingin seperti Lan. "Kau buta karena cinta, Rose," bisik Luina sendu, namun Rose sudah lebih dulu berbalik dan pergi meninggalkannya dalam kehampaan.
Ramalan Jion
"Bertengkar karena memperebutkan Lan?"
Luina tersentak dan menoleh ke samping. Jion berdiri bersandar di dinding dengan senyum remeh yang menyebalkan. "Bukan urusanmu," desis Luina tajam.
"Tentu bukan. Tapi pemandangan dua sahabat memperebutkan satu pria itu selalu menarik," goda Jion.
"Siapa yang memperebutkannya? Aku sama sekali tidak tertarik pada Lan! Dia itu dingin, menyebalkan, dan tidak jelas asal-usulnya!"
Jion terdiam sejenak, menatap Luina dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Hati-hati dengan ucapanmu, Luina. Kebencian yang terlalu dalam sering kali menjadi bumerang. Siapa tahu, takdir justru mengikat kalian berdua selamanya."
"Dalam mimpimu!" geram Luina, napasnya memburu menahan emosi.