INDIGO & ICE PRINCE

Xielna
Chapter #10

10.

Pagi yang Kelabu

Pagi menyapa dengan suasana yang muram bagi Luina. Tidak seperti biasanya, gadis itu terlihat lesu dan kehilangan semangat, membuat Malvin yang baru saja menyapanya merasa heran.

"Luina, kau baik-baik saja?" tanya Malvin cemas.

Luina hanya mengangguk tanpa sedikit pun menoleh ke arah Malvin. Sikap dingin itu justru membuat Malvin semakin khawatir. Ia mencoba menyentuh kening Luina untuk memeriksa suhunya, namun Luina segera menepis tangan itu dengan kasar.

"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku," ucap Luina ketus.

"Jangan berbohong, Lui. Wajahmu sangat pucat dan kau tampak sangat lemah."

"Itu bukan urusanmu, Malvin! Berhenti memedulikanku dan pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu!" Luina melengos pergi, meninggalkan Malvin yang tertegun di tempatnya.

"Ada apa dengan Luina? Tidak biasanya dia se-emosional itu," gumam Malvin menatap punggung Luina yang menjauh. "Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku harus mencari tahu."

Keretakan yang Kian Menganga

Luina tiba di kelas dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Vania. Vania yang sedang merapikan riasan melalui kamera ponselnya segera menoleh dan mengernyitkan kening melihat kondisi sahabatnya.

"Kau sakit, Lu? Wajahmu pucat sekali," tanya Vania.

"Aku tidak apa-apa," jawab Luina pendek. Namun, ia segera menambahi sebelum Vania sempat mendesak, "Jangan bertanya lagi, Van. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun."

Luina kemudian menelungkupkan wajahnya di atas meja, menyembunyikan keletihan yang luar biasa. Vania hanya bisa menghela napas, merasa ada yang tidak beres namun memilih menghargai permintaan Luina.

Tak lama kemudian, rombongan Lan memasuki kelas. Seperti biasa, Rose menempel ketat di samping Lan bak bayangan. Hubungan mereka bertiga memang semakin renggang; Rose kini terang-terangan menjauhi Luina dan Vania demi mendapatkan perhatian Lan.

"Rose benar-benar sudah melupakan kita. Dia bahkan tidak mau menatapku lagi," gerutu Vania kecewa.

Luina mengangkat wajahnya, menatap datar ke arah Rose yang duduk tiga baris di depan mereka. "Biarkan saja. Cintanya telah membuatnya buta hingga dia rela mengorbankan pertemanan kita."

"Kau tahu kenapa aku begini hari ini, Van? Ini semua karena perbuatan Rose," lirih Luina.

Flashback: Serangan Terbuka

Pagi tadi, saat Luina baru saja memasuki gerbang kampus, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Rose, yang berada di balik kemudi, dengan sengaja menyerempet Luina hingga gadis itu tersungkur di aspal. Bukannya menolong, Rose justru melempar senyum kemenangan dari balik kaca mobil sebelum berlalu pergi.

Dengan amarah yang membuncah, Luina mengejar Rose saat gadis itu turun dari mobilnya dengan gaya angkuh.

"Apa maksudmu menyerempetku, Rose?! Perbuatanmu ini sudah keterlaluan!" bentak Luina.

Rose menaikkan sebelah alisnya, menatap Luina dengan sorot penuh kebencian. "Sudah kubilang, aku tidak main-main. Siapa pun yang mencoba mendekati Lan akan kusingkirkan, bahkan jika itu kau sekalipun!" Jari telunjuk Rose menunjuk tepat ke wajah Luina. "Kau tidak pantas untuknya. Hanya aku yang layak bersanding dengan Lan."

"Hanya karena pria itu kau tega mencelakaiku?" suara Luina bergetar karena kecewa.

Lihat selengkapnya