Misteri di Balik Demam
Luina terbangun dengan perasaan linglung. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan kepalanya berdenyut berat. Ia menatap sekeliling dengan kening berkerut, heran mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir pening yang mendera. "Bagaimana aku bisa berakhir di sini?" gumamnya lirih. "Aku ingat betul semalam seseorang membiuku saat aku sedang berjalan pulang. Apa itu hanya mimpi?"
Luina segera menepis pikiran itu. Kejadian itu terasa terlalu nyata untuk disebut bunga tidur. Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, lalu keluar kamar untuk mencari adik-adiknya. Keajaiban menyambutnya di dapur; ketiga adiknya—Denis, Alo, dan Kennya—tampak kompak sedang menyiapkan sarapan. Sebuah pemandangan langka yang biasanya tidak pernah terjadi di pagi hari.
"Kak Luina sudah bangun?" sapa Alo dengan senyum lebar.
"Kakak seharusnya istirahat saja di kamar. Biar hari ini urusan rumah kami yang tangani," timpal Denis sambil berkacak pinggang.
Luina menggeleng heran. "Kakak baik-baik saja. Kenapa kalian bangun sepagi ini dan sudah sibuk di dapur?"
"Tentu saja karena Kakak sedang sakit," jawab Denis lugas. "Sudah, kembali ke kamar saja. Hari ini kan hari Minggu, Kakak harus santai."
Meskipun enggan, Luina akhirnya menurut saat Alo menuntunnya kembali ke ranjang. Namun sebelum adiknya itu beranjak, Luina menahan tangannya.
"Al, tunggu. Semalam Kakak pulang jam berapa? Dan siapa yang membawa Kakak ke sini?" tanya Luina serius.
Alo menggaruk tengkuknya, tampak ragu. "Kakak pulang sekitar jam sepuluh diantar teman Kakak. Saat itu Kakak demam tinggi. Orang itu bilang Kakak sudah diperiksa di rumah sakit dan hanya butuh istirahat."
"Teman? Laki-laki atau perempuan?" desak Luina.
"Soal itu..." Alo menghela napas. "Maaf Kak, aku tidak bisa memberitahumu. Dia tidak ingin identitasnya diketahui. Dia hanya bilang kalau dia teman Kakak dan berpesan bahwa Kakak akan menemuinya jika sudah waktunya."
Luina mendengus kecewa. "Kenapa dia harus bersembunyi?"
"Entahlah. Tapi dia orang baik, Kak. Dia merawat Kakak semalaman penuh sebelum pergi saat subuh tadi karena takut Kakak keburu bangun," cerita Alo yang justru membuat rasa penasaran Luina memuncak.
"Dia laki-laki, kan?"
Alo nyengir. "Iya, laki-laki. Dia sangat tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung, tapi... matanya tidak sipit."
Hati Luina mencelos. Tebakannya bahwa pria itu adalah Malvin seketika gugur. Jika bukan Malvin, lalu siapa? Pengagum rahasia? Atau orang yang sering mengirim surat misterius ke lokernya?
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Kakak juga akan tahu sendiri," pungkas Alo sebelum bergegas keluar kamar.
Sepeninggal Alo, Luina menatap pantulan dirinya di cermin. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah mengenakan baju tidur. Siapa yang mengganti pakaianku? batinnya geram. Jika pria misterius itu yang melakukannya, Luina merasa martabatnya telah dinodai. Ada rasa malu sekaligus amarah yang bercampur aduk di dalam dadanya.
Obrolan Kakak dan Adik
Selesai sarapan, ketiga adiknya tetap bersikeras melarang Luina menyentuh pekerjaan rumah. Luina akhirnya hanya bisa duduk di depan televisi, meski pikirannya melayang jauh memikirkan kejadian semalam. Siapa yang membiusnya? Dan siapa pria yang menyelamatkannya?
"Kak Luina!" panggilan Denis yang cukup keras menyentakkan Luina dari lamunan.
"Apa?" tanya Luina linglung. Ia baru sadar Denis sudah berdiri di depannya dengan pakaian rapi dan wangi.
"Kakak melamun terus. Pikirannya sampai ke mana, sih?" goda Denis sembari mengecek suhu tubuh kakaknya. "Sudah tidak panas, kok."
"Hanya memikirkan tugas yang belum selesai," bohong Luina.
Denis berdecak. "Tugas terus yang dipikirkan. Kakak mau aku bawakan sesuatu? Aku mau keluar sebentar."