Jika sudah saatnya, maka sudah saatnya. Lega rasanya.
Setelah hanya suara hati kecil yang terdengar; setelah renungan panjang antara nurani dan nafsu pribadi. Iya, benar-benar lega.
Bukan, ini bukan lagi sekadar hubungan kita yang jadi bahan renungan. Kalau soal itu, semuanya sudah ditimbang sejak lama. Jika dipaksakan pun, entah akan jadi apa. Dicari ke mana pun, rasanya sudah tidak ketemu lagi. Bahkan jika dipikirkan dengan akal sehat, jauh lebih baik berpisah daripada bersatu tapi berantakan.
Seperti kata Mama, perceraian memang hal yang diperbolehkan, namun sebisa mungkin harus dihindari. Sudah… sudah cukup usaha menghindarinya. Tapi hasilnya tetap sama: akan lebih baik kita berpisah.
Maka, ketika tadi aku berkata "lega rasanya", itu bukan lagi soal hubungan kita.
Delapan tahun itu bukan waktu sebentar. Delapan tahun kita bersama, delapan tahun berumah tangga, delapan tahun melewati susah-senang. Bahkan sekarang, kita bukan lagi sekadar suami dan istri, melainkan sudah jadi ibu dan bapak bagi tiga anak.
Anak-anak yang masanya diasuh, masanya mendapat kasih sayang. Butuh lingkungan rumah tangga yang damai-tenteram. Butuh ibu-bapak yang akur. Namun kini, orang tuanya harus berpisah. Kebutuhan itu tidak akan pernah terpenuhi. Akan ada bekas yang tertinggal selamanya. Ini yang pertama.
Kedua, siapa yang tidak merasa berat berpisah dengan anak? Berpisah untuk waktu yang bukan sebentar, mungkin seterusnya—begitu menurut diskusi kita. Satu anak, si Bungsu, akan aku bawa. Dua anak yang sudah sekolah dan yang akan sekolah tetap dengan bapaknya. Malah, ini bagian yang paling berat.
Malam ini kami berunding dalam keadaan akur, baik suami maupun aku bicara tanpa amarah. Memang sengaja dibuat begitu. Walau sebenarnya kami sudah lama tidak akur, tapi untuk keputusan sebesar ini, kami ingin semuanya selesai tanpa sisa amarah. Biar keputusan diantar oleh pikiran yang jernih dan sehat.
Di tengah rumah, kami duduk berhadapan. Si Cikal dan si Bungsu sudah terlelap nyenyak. Si Tengah yang sedari tadi rewel, kini tertidur di pangkuanku. Matanya belum terpejam sempurna, masih ada bekas air mata di sana. Seolah dia tahu bahwa ibu dan bapaknya sedang menghadapi persoalan yang berat—sesuatu yang mungkin membekas seumur hidupnya.
Hening cukup lama, aku dan dia bingung bagaimana harus memulai.