Setiap manusia adalah arsitek bagi jiwanya. Namun, apa yang terjadi ketika dua filosofi rancangan yang berlawanan dipaksa untuk berhadapan?
Ada 'Si Perancang Garis Lurus', yang menganggap emosi sebagai keretakan struktural. Baginya, hidup harus diprogram dengan efisiensi absolut, sebuah perisai kokoh yang dibangun untuk menahan chaos terbesarnya: kehancuran yang terjadi di rumah.
Dan ada 'Si Pemburu Jiwa', yang memahami bahwa bangunan—sekokoh apa pun—tidak akan berarti tanpa fleksibilitas dan kehangatan. Ia datang dengan palet warna dan lekukan tak terduga, menantang setiap aturan kaku yang telah ditetapkan oleh Sang Garis Lurus.