INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #3

Titik Pijak Yang Baru

Langkah kaki saling bersahutan membawa gadis dengan map biru yang digenggam erat menuju ruang Tata Usaha. Matanya begitu fokus ke depan dengan hanya sesekali melirik ke sekeliling, mengamati singkat setiap sudut gedung yang tampak baru baginya. Ia terus berjalan tanpa gangguan, tanpa peduli pada orang-orang yang memperhatikan di balik jendela kelas.

Bagi Aldara Adelia, sekolah baru hanyalah sekumpulan gedung, koridor, dan ruang kelas yang harus dihafal dalam waktu secepat mungkin. Ia tidak peduli dengan gosip terbaru, formasi kursi di kelas, atau hierarki sosial yang baru terbentuk. Baginya, satu-satunya yang penting adalah efisiensi.

Ia menyelesaikan proses administrasi di ruang Tata Usaha dengan kecepatan yang mengagumkan, mengambil kunci loker, dan menerima jadwal pelajaran tanpa menghabiskan lebih dari lima menit. Dara benci membuang waktu.

Saat jam istirahat pertama berdentang, alih-alih menuju kantin yang riuh, Dara melangkah menjauhi keramaian. Langkah kakinya membawa Dara melewati lapangan utama yang dipenuhi rumput—area yang tidak menarik perhatian—menuju bangunan di ujung kompleks sekolah.

GOR. Gelanggang Olahraga.

Semakin dekat ia berjalan, semakin kuat aroma karet, cairan pembersih lantai, dan sedikit bau keringat yang familiar menyeruak. Suara decit sepatu kets yang bergesekan dengan lantai kayu mengundang, seperti panggilan yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Dara berdiri di ambang pintu GOR, mengamati.

Di dalam, beberapa siswa laki-laki sedang bermain santai. Mereka tertawa, gerakan mereka longgar, dan tembakan yang dilepaskan lebih banyak meleset daripada masuk. Dara bisa merasakan denyut kecewa di dadanya. Bakat yang terbuang sia-sia, pikirnya. Mereka memiliki fasilitas yang bagus, tetapi tidak ada disiplin yang menggerakkan.

Ia menarik napas panjang. Ini adalah tempatnya. Ini adalah medan yang akan ia taklukkan.

Saat Dara memperhatikan, sebuah bola basket melenceng jauh dari ring setelah tembakan seorang siswa yang terlalu percaya diri. Bola itu memantul liar, melewati batas permainan, dan berhenti tepat di kaki Dara yang masih berdiri di ambang pintu. Dara menunduk, memungut bola itu. Tekstur bintil karet di tangannya terasa nyata, memberikan sensasi kontrol yang selalu ia dambakan dalam hidupnya.

"Hei! Anak baru! Balikin bolanya!" teriak salah satu siswa dari tengah lapangan.

Dara tidak bergerak. Ia tidak menyukai nada perintah itu.

Alih-alih mengembalikan, Dara men-dribble bola itu dua kali, menciptakan bunyi thump-thump yang keras dan teratur, menarik perhatian semua orang di GOR. Ia melangkah satu meter melewati garis batas, mengambil ancang-ancang dari jarak three-point yang cukup jauh. Tanpa ragu, Dara melompat, melepaskan tembakan.

Bola melambung tinggi, membelah cahaya sore yang masuk melalui jendela GOR.

Swish!

Bola masuk mulus tanpa menyentuh besi ring sedikit pun. Hanya desingan lembut dari jaring yang bergoyang. Keheningan melanda GOR. Semua mata tertuju pada Dara, siswi pindahan dengan rambut dikuncir kuda yang bahkan belum berganti seragam. Dara mengangguk puas. Dia tidak perlu bicara banyak. Tembakan itu sudah menjelaskan segalanya. Ia berjalan masuk lebih jauh ke tengah lapangan, mengambil bola pantulan itu, dan kembali ke titik ia menembak. Di tangannya, bola itu bukan lagi sekadar mainan. Itu adalah deklarasi. Aldara Adelia telah tiba, dan permainannya akan sangat berbeda. Ia men-dribble bola itu lagi, menunggu reaksi.

Di saat itulah, ia mendengar langkah kaki yang tegas mendekat dari lorong pintu belakang GOR—langkah yang tidak terkejut, tidak terkesan, melainkan penuh otoritas. Dara tahu, seseorang yang punya kendali penuh atas GOR itu baru saja muncul. Ia menoleh, siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu ritme barunya.

***

Dari lorong pintu belakang, Aksal Danendra melangkah masuk. Ia mengenakan jersey latihan dengan nomor punggung 7, celana training hitam, dan sepatu kets yang terlihat bersih—layaknya seseorang yang menjaga setiap detail. Posturnya tinggi, tatapannya tenang, dan kehadiran Aksal seketika membuat riuh GOR yang tadinya hening menjadi benar-benar sunyi.

Para siswa yang tadi menonton tembakan Dara langsung menyingkir, menciptakan lorong tak terlihat yang hanya ditujukan kepada Kapten mereka. Aksal berjalan mendekat. Ia tidak menaikkan suara, tetapi tatapannya—dingin dan menilai—sudah cukup menekan.

"Lapangan ini punya jadwal, Aldara Adelia," kata Aksal, suaranya rendah. Ia mengucapkan nama Dara seolah itu adalah sebuah pelanggaran. "Siapa yang mengizinkan lo masuk, mengambil bola, dan mengganggu alur latihan tim?"

Dara terkejut ia sudah tahu nama lengkapnya. Aksal jelas tipe cowok yang mengecek file sebelum berhadapan. "Mengganggu alur?" Dara tertawa kecil. "Lo nggak lihat? Tim lo tadi main kayak random pick di game. Swish tadi itu bukan gangguan, itu adalah pencerahan."

Lihat selengkapnya