INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #4

Hukuman

Senja itu terasa panas dan lengket. Pukul empat sore tepat, Aldara Adelia sudah kembali ke GOR, bukan dengan jersey dan sepatu kets, melainkan dengan kaus usang dan celana pendek yang siap kotor. Ia benci kekalahan, tapi ia lebih benci melanggar janji, apalagi memberikan Aksal Danendra alasan tambahan untuk menceramahinya tentang kedisiplinan.

Saat Dara membuka pintu GOR, Aksal sudah menunggunya. Ia tidak sedang memegang bola, melainkan selembar kertas yang terlipat rapi. Aksal tidak mengenakan seragam, tapi kaus putih bersih dan celana training—bahkan saat santai, penampilannya tetap mencerminkan keteraturan yang menyebalkan. Di sampingnya, tersusun rapi ember, lap pel, sikat lantai, dan beberapa botol cairan pembersih. Semuanya diletakkan dalam barisan lurus yang sempurna.

"Lo telat dua puluh detik," sambut Aksal, tanpa basa-basi.

Dara mendengus. "Jarum jam gue menunjukkan tepat jam empat. Mungkin jam lo yang lebay."

"Jam GOR ini sinkron dengan jam satelit sekolah," koreksi Aksal dingin. "Disiplin bukan tentang apa yang lo rasakan benar, tapi apa yang lo ikuti. Ambil ini."

Aksal menyerahkan kertas lipat tadi. Itu adalah “Daftar Prosedur Pembersihan GOR” yang ditulis tangan rapi, poin per poin, lengkap dengan perkiraan durasi setiap pekerjaan.

Dara membaca poin pertama:

1. Penyapuan Debu Perimeter: Gunakan sapu mikrofiber dari luar ke tengah. JANGAN sampai ada debu yang melayang di udara lebih dari tiga detik. (Durasi: 15 menit).

 

"Lo nggak serius," kata Dara, menatap Aksal tidak percaya.

"Sangat serius," balas Aksal. "GOR ini berlapis pelindung khusus. Lo harus pel empat kali, arah memanjang, baru diagonal. Airnya harus diganti setelah setiap dua lap. Dan jangan sampai ada noda jejak sepatu di area free throw. Lo itu mau jadi arsitek, kan? Terapkan presisi yang sama saat membersihkan."

"Lo itu Kapten Basket atau OB Obsesif Kompulsif?" gerutu Dara, meletakkan checklist itu dengan kasar di lantai. Ia mengambil sapu dan mulai menyapu dengan tenaga berlebihan.

"Hemat energi, Dara," tegur Aksal. "Lo menyapu, bukan menghancurkan lantai. Tenaga yang berlebihan itu pemborosan waktu yang tidak efisien."

Selama satu jam pertama, mereka bekerja dalam keheningan yang tegang. Dara mengepel, sementara Aksal mengawasi, sesekali mengeluarkan komentar tentang sudut mengepel atau frekuensi penggantian air. Aksal tidak membantu sama sekali, dan hal itu membuat Dara makin ingin melempar kain pel ke wajahnya.

"Kenapa lo nggak pulang aja, Aksal?" sembur Dara, tangannya pegal memeras kain pel. "Gue kalah, gue bersihin. Fair kan? Lo nggak perlu jadi mandor yang super menyebalkan begini."

Lihat selengkapnya