Hari ini adalah hari ketiga Aldara Adelia menjalani hukuman. Aroma cairan pembersih dan lantai yang basah kini terasa lebih akrab daripada aroma masakan Ibunya. Ia mengepel dengan gerakan yang sudah terbiasa, tetapi masih menyimpan amarah. Aksal duduk di bangku pemain cadangan, tangannya memegang checklist yang sama. Ia tidak membantu, ia hanya mengawasi, seperti seorang penilai kualitas yang sangat ketat.
"Lo tahu, Kapten Kaku," ujar Dara, ia meluncurkan kain pel ke depan dan belakang dengan tenaga yang terukur. "Gue udah tahu alur four-lap lo. Memanjang, diagonal, memanjang lagi, diagonal lagi. Puas?"
Aksal tidak menoleh, tetapi menjawab tanpa jeda. "Gue nggak butuh kepuasan, Dara. Gue butuh standar. Dan lo baru mencapai 90% standar gue. Area pojok free throw lo tadi masih kurang ditekan."
Dara menghela napas panjang. "Lo ini obsesif atau nggak ada kerjaan sih? Kenapa lo harus duduk di sini selama berjam-jam cuma buat ngawasin gue nyapu lantai? Lo itu Kapten Tim Basket, bukan cleaning service."
Aksal akhirnya menoleh. Ekspresinya tenang, tapi matanya dingin. "Gue mengawasi karena taruhan adalah taruhan," jawabnya. "Dan karena gue tahu, tanpa pengawasan, lo akan menukar efisiensi dengan drama. Lo selalu berpikir emosi dan bakat mentah bisa mengalahkan struktur. Padahal, basket, dan hidup, itu dibangun dari fondasi yang kokoh."
Dara mencibir, menyandarkan pelnya ke tiang ring. "fondasi kokoh? Aksal, lo itu berjalan di atas tumpukan beton yang dibuat sendiri. Lo pikir semua harus diatur sesuai buku, tapi lo lupa kalau basket itu juga butuh improvisasi, butuh kejutan! Lo takut sama kejutan, kan?"
Pertanyaan Dara menusuk, menyentuh inti dari kerentanan Aksal yang ia lihat di hari sebelumnya. "Gue nggak takut sama kejutan," balas Aksal, suaranya sedikit meninggi. "Gue cuma benci waktu yang terbuang karena kesalahan yang seharusnya bisa dicegah. Lo pikir gampang menjaga ini semua tetap tegak?" Aksal mengisyaratkan GOR di sekitarnya. "Kalau gue nggak sempurna di sini, gue nggak akan bisa mengendalikan yang ada di luar."
Dara terdiam. Ia melihat kelelahan di mata Aksal. Ia teringat perdebatan mereka tentang arsitektur—Dara ingin membangun struktur yang tidak runtuh. Dan Aksal, ternyata, sedang mencoba menopang struktur yang sudah retak.
"Kenapa lo nggak nyari waktu buat diri lo sendiri, Aksal?" tanya Dara, suaranya kini melunak, meninggalkan nada sindiran. "Kenapa lo harus selalu jadi yang paling bertanggung jawab?"
Aksal menatap Dara. Ia melihat bukan lagi rival yang agresif, melainkan seseorang yang tiba-tiba mengerti beban yang ia pikul. "Gue nggak tahu cara berhenti," bisik Aksal, pengakuan yang sangat jujur.
Saat keheningan yang intim menyelimuti mereka, sebuah bola basket bekas yang tersimpan di sudut tribun tiba-tiba menggelinding pelan ke tengah lapangan. Aksal dan Dara secara refleks mengulurkan tangan untuk mengambil bola itu, dan jari-jari mereka bersentuhan. Sentuhan itu singkat, tapi mengejutkan. Kulit Aksal terasa dingin dan keras karena lelah, sementara tangan Dara terasa hangat dan berdebar. Mereka menarik tangan mereka secara bersamaan, sama-sama terkejut dan canggung. Wajah Aksal sedikit memerah—reaksi yang sangat non-efisien.
"Ambil," kata Aksal, nadanya kembali dingin, seolah sentuhan itu adalah kecelakaan yang harus ia lupakan. "Jangan buang waktu."
Dara mengambil bola itu. Ia tahu, meskipun mereka berdebat tentang lantai yang bersih dan waktu yang efisien, ada sesuatu yang jauh lebih rumit dan tak terstruktur yang sedang tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang terasa seperti bahaya, tapi juga seperti rumah. Aksal berjalan menuju keran air di sudut GOR, gerakannya cepat dan kaku, seolah ia sedang melarikan diri dari sentuhan yang tidak terduga itu. Ia membiarkan air mengalir sebentar, lalu mencuci tangannya dengan gerakan yang sangat teliti, berusaha menghilangkan jejak kontak fisik itu.
Dara masih berdiri di tengah lapangan. Ia memegang bola yang tadi ia ambil, jari-jarinya menelusuri tekstur bintil karet yang kasar. Ia tidak kembali mengepel. Ia memilih untuk menggunakan momen jeda yang canggung ini untuk melanjutkan analisisnya.
"Lo tahu, Aksal," kata Dara, suaranya kini lebih tenang dan tegas, seperti ia sedang membacakan putusan pengadilan. "Lo bilang gue membuang waktu karena emosi. Tapi, barusan, lo membuang lebih banyak waktu daripada gue, hanya karena lo terlalu sibih mengendalikan hal yang nggak bisa lo kontrol."
Aksal mematikan keran air. Ia tidak menyeka tangannya, hanya membiarkan sisa air menetes dari ujung jarinya. Ia berbalik, menatap Dara. "Mengendalikan reaksi adalah efisiensi tertinggi," balas Aksal, nadanya berusaha kembali datar. "Gue memilih untuk mengambil jeda daripada melanjutkan pekerjaan dengan fokus yang terganggu. Itu strategi."
"Atau itu ketakutan," potong Dara lembut, tetapi menusuk. "Lo takut sama sesuatu yang nggak ada di checklist lo. Kalau lo nggak bisa mengendalikan sentuhan, lo nggak akan bisa mengendalikan perasaan."
Aksal berjalan kembali ke bangku. Ia menghindari mata Dara, mengambil kembali checklist di tangannya, dan berpura-pura memeriksanya. "Kita bicara tentang pembersihan lantai, Dara. Bukan filosofi. Lo udah cukup menghabiskan waktu di lingkaran tengah. Pindah ke zona free throw sekarang."
Dara menghela napas. Tembok Aksal kembali berdiri kokoh. Ia tahu ia tidak bisa memaksanya terbuka dengan kata-kata.
"Baik, Kapten Robot," sindir Dara, kali ini tanpa rasa benci, hanya penerimaan. Ia mengambil kain pel dan mulai bergerak ke zona yang diperintahkan.
Dara mulai mengepel, berfokus pada pekerjaan yang tersisa. Ia membasahi lap pel, dan saat memerasnya, ia menyadari telapak tangannya sedikit memerah dan lecet akibat terlalu banyak gesekan dengan kain yang kasar. Tiba-tiba, sebuah benda kecil terlempar ke arahnya. Bukan bola, melainkan botol kecil cairan antiseptik. Dara menangkapnya. Ia mendongak, melihat Aksal sedang pura-pura memeriksa struktur ventilasi di dinding, tetapi ia tahu Aksal melemparkannya.
"Tangan lo," ujar Aksal tanpa menoleh, suaranya tetap dingin dan memerintah. "Jangan sampai lecet. Infeksi itu pemborosan waktu yang sangat tidak efisien. Bersihkan. Dan pakai sarung tangan besok."
Aksal tidak memberikan perhatian, tidak menunjukkan kekhawatiran, atau meminta maaf karena hukuman itu keras. Dia menyampaikannya sebagai instruksi logistik untuk mencegah pemborosan waktu di masa depan.
Dara menatap botol antiseptik di tangannya, lalu kembali menatap punggung Aksal yang tegap. Ia tahu, di balik instruksi yang dingin itu, Aksal baru saja menunjukkan kepedulian. Ini adalah bahasa cinta Aksal: praktis, terstruktur, dan disamarkan sebagai bagian dari checklist efisiensi. Dara tersenyum kecil. Ia sudah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pertandingan one-on-one. Ia telah menemukan celah di pertahanan Kapten Kaku.
***
Saat Dara sedang beristirahat sebentar, punggungnya bersandar pada tiang ring, ia melihat Aksal mengeluarkan ponselnya. Lelaki itu sedang memeriksa checklist pembersihan, tetapi matanya lebih sering tertuju pada layar ponsel yang menyala. Tiba-tiba, ponsel Aksal bergetar dengan notifikasi pesan masuk. Ekspresi tenang Aksal langsung lenyap. Wajahnya menegang, dan matanya menunjukkan kilatan panik yang tidak bisa disembunyikan. Ia membalas pesan itu dengan ibu jari yang bergerak sangat cepat dan tegang. Dara bisa melihat bahwa Aksal mengetik dengan terburu-buru, seolah ia sedang mencoba memadamkan api yang menyebar dengan cepat.
Setelah beberapa saat, Aksal menghela napas panjang—napas yang terdengar berat dan sarat beban. Tangannya mengusap kepala kasar membuat rambut yang selalu disisir rapi itu sedikit berantakan. Ia memasukkan ponselnya ke saku dengan gerakan kasar, seolah ia ingin menghancurkan benda itu.
"Siapa?" tanya Dara, spontan. Pertanyaan itu terlepas begitu saja.
Aksal menatapnya. Tatapannya kembali dingin, temboknya kembali tegak, dan ia kembali menjadi Kapten Dingin yang tak tersentuh. "Bukan urusan lo." katanya tegas. Ia mengambil sapu lidi yang tadi dipakai Dara, dan mulai menyapu debu di sudut ruangan. "Jangan buang waktu lo untuk hal yang tidak penting. Kita belum selesai dengan lantai area servis."
Aksal membuang muka, kembali ke topik pekerjaan. Namun, Dara tahu. Di balik semua daftar prosedur, disiplin, dan obsesi Aksal terhadap waktu, ada rahasia besar yang membuatnya terburu-buru, membuatnya panik, dan membuatnya harus selalu menjaga jarak. Dara melanjutkan mengepel, kini di area lingkaran tengah. Namun, pikirannya tidak lagi fokus pada noda lantai, melainkan pada kejanggalan ekspresi Aksal beberapa menit lalu. Ia tidak bisa membiarkan misteri itu berlalu begitu saja. Ia memeras kain pel yang basah, lalu menatap punggung Aksal yang sedang menyusun kembali bangku-bangku di pinggir tribun.
"Lo tahu, Kapten," ujar Dara, nadanya kali ini bukan sindiran, melainkan pengamatan dingin. "Untuk seseorang yang sangat terobsesi pada efisiensi waktu, lo tadi baru aja melanggar aturan lo sendiri."
Aksal berhenti bergerak, punggungnya menegang. Ia tidak menoleh. "Maksud lo?"
"Ponsel. Lo menghentikan pekerjaan, membuang waktu sekitar satu menit, hanya untuk membaca dan membalas pesan. Itu foul yang paling fatal dalam buku disiplin lo sendiri. Apa isi pesan itu sampai lo rela melanggar prinsip yang lo agung-agungkan?"
Aksal meletakkan bangku dengan suara keras. Ia berbalik, matanya kembali tajam dan defensif. "Itu urusan pribadi. Dan urusan pribadi gue, jauh lebih penting daripada aturan nggak penting lo tentang GOR ini."
"Justru itu masalahnya!" seru Dara, ia menjatuhkan kain pel. "Gue nggak peduli urusan pribadi lo, tapi gue peduli dengan waktu. Lo selalu menuntut orang lain harus patuh, harus teratur, harus efisien. Tapi lo sendiri nggak bisa mengendalikan hal yang paling krusial dalam hidup lo—urusan yang bikin lo panik dan buru-buru menghilang tanpa penjelasan!"
Dara melangkah mendekat, air di lantai yang belum kering membasahi sepatunya.
"Lo nggak tahu apa-apa tentang hidup gue, Dara," desis Aksal, suaranya rendah dan penuh tekanan. "Gue teratur, gue disiplin, karena gue harus. Kalau gue nggak mengendalikan yang ada di sini," Aksal menunjuk ke GOR, lalu menunjuk ke arah jam di dinding, "maka gue nggak akan bisa mengendalikan yang ada di luar."
Dara terdiam. Ia melihat Aksal bukan lagi sebagai kapten menyebalkan, tapi sebagai seseorang yang sangat ketakutan. Ketakutan yang dibungkus dengan disiplin yang berlebihan.