INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #6

Penyelesaian Hukuman

Waktu makan siang di SMA Cendrawasih selalu terasa seperti ledakan suara. Dara dan Lia duduk di sudut kantin yang relatif tenang, jauh dari meja-meja yang didominasi oleh anak-anak populer atau tim olahraga. Lia mengamati Dara yang dengan telaten memotong sayuran di piringnya menjadi bentuk-bentuk yang seragam sebelum memakannya.

"Lo bener-bener arsitek sejati ya, Ra," komentar Lia, sambil menyendok nasi gorengnya tanpa peduli pada tata letak. "Makan aja harus teratur begini."

Dara tersenyum tipis. "Keteraturan itu kunci, Li. Sama kayak denah. Setiap komponen punya fungsinya sendiri. Kalau ada satu yang salah letak, bangunannya bisa runtuh."

"Jadi, Kapten Kaku itu komponen yang salah letak di hidup lo ya?" pancing Lia, mengacu pada Aksal Danendra.

Wajah Dara seketika menegang. Ia mengalihkan pandangan. "Dia bukan komponen. Dia cuma... gangguan."

"Gangguan yang bikin Point Guard paling fokus di sekolah ini jadi sering bengong di kelas," bisik Lia jahil. "Lo tahu, Aksal itu kaku, tapi dia kayak gedung tua—penuh sejarah dan misteri. Tapi lo harus hati-hati, Ra. Misteri itu butuh banyak waktu buat dipecahin."

"Gue nggak punya waktu sebanyak itu," potong Dara cepat. "Gue butuh kepastian."

Tepat saat Dara mengucapkan kata 'kepastian', Lia melambaikan tangan ke arah pintu kantin.

"Nah, ini dia. Kalau lo butuh kepastian dan keteraturan yang menyenangkan, nih orangnya," kata Lia, tersenyum lebar. "Rayyan!"

Seorang cowok jangkung dengan rambut ikal rapi dan kaus OSIS melangkah mendekat. Dia tersenyum ramah—senyum yang benar-benar cerah dan tersedia, tanpa ada aura terburu-buru atau tekanan tersembunyi seperti Aksal.

"Hai, Dara!" sapa Rayyan, ia membawa nampan makan siangnya. "Gue Rayyan, dari OSIS Kreativitas. Lia cerita lo jago banget di lapangan, dan lo mau jadi arsitek?"

Dara terkejut. Rayyan, tidak seperti kebanyakan siswa, tidak fokus pada skill basketnya, melainkan pada impiannya. "Iya," jawab Dara, sedikit melunak. "Gue suka presisi dan struktur."

"Itu keren! Arsitektur itu kan keseimbangan antara fungsi dan estetika," ujar Rayyan, matanya berbinar antusias. "Gue, kebetulan, lagi ngurus pameran Art Week di sekolah. Kita butuh banget orang yang paham struktur, bukan cuma keindahan. Lia bilang lo nggak suka buang waktu, jadi ini tawaran efisien: daripada lo bengong mikirin bola, kenapa nggak datang ke pameran arsitektur kota lusa sore? Gue jamin lo nggak akan buang waktu."

Rayyan memberikan undangan yang sempurna. Pameran arsitektur. Itu adalah dunianya. Dan yang paling penting, Rayyan menyajikannya dengan santai dan tanpa beban emosional sedikit pun. Ia adalah kebalikan mutlak dari Aksal yang penuh tuntutan dan time-out mendadak. Dara menatap Rayyan. Ia melihat jalan keluar yang mulus, jalan yang tidak melibatkan drama perpecahan keluarga atau Kapten Kaku. Rayyan adalah kepastian.

"Boleh," jawab Dara, mengangguk mantap. "Jam empat, di gerbang utama."

Lihat selengkapnya