INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #7

Papan Tulis Yang Berantakan

Aksal berjalan pulang dengan kepala yang penuh kebisingan. Pengakuannya kepada Dara di GOR terasa seperti luka terbuka. Ia membenci kerentanan itu, namun ia merasa sedikit lebih ringan karena beban itu terbagi. Saat Aksal mencapai rumahnya, ia bahkan tidak perlu memasukkan kunci. Suara-suara sudah terdengar keras dari dalam. Pintu baru terbuka sedikit, dan suara pertengkaran itu langsung menyerangnya: teriakan keras Bara—ayahnya bercampur dengan nada tinggi dan putus asa dari Risa—sang ibu.

"Kau tidak pernah memikirkan waktu yang harus aku habiskan untuk mengurus ini sendirian, Bara!" teriak suara Ibunya.

"Waktu? Kau yang membuang waktu bertahun-tahun!" balas suara Ayahnya, terdengar otoritatif namun marah. "Dan sekarang Aksal yang harus menanggung semua kekacauan yang kau buat, Risa!"

Aksal membeku di ambang pintu. Mereka bertengkar tentang waktu, kekacauan, dan, yang paling menyakitkan, tentang dirinya.

Ia menutup pintu perlahan, melangkah melintasi ruang tamu yang berantakan—semua bantal dan beberapa berkas terlempar tak tentu arah. Ini adalah chaos yang nyata, antitesis dari keteraturan yang ia sembah di GOR. Aksal tahu ia tidak bisa melerai; ia hanya bisa lari.

Ia berjalan cepat, hampir berlari menaiki tangga. Ia mencapai kamarnya, dan segera mengunci pintu. Suara pertengkaran itu masih menembus pintu, tetapi setidaknya, di sini, ia punya kendali atas ruangannya. Aksal menyalakan lampu kamar dan langsung menuju meja belajarnya. Ia mengambil binder jadwal harian dan papan tulis kecilnya. Ia mulai menuliskan kembali semua jadwal hari esok, setiap jam, setiap tugas. Ia harus menciptakan struktur yang sempurna di kamarnya karena ia tahu, di luar pintu ini, dunianya sedang runtuh. Kedisiplinan adalah satu-satunya pelampung. Ia harus fokus pada apa yang ia bisa kontrol: dirinya, dan timnya.

Aksal selesai menyusun jadwal. Tangannya berhenti di kotak kecil paling bawah di papan tulisnya, di mana ia biasanya menulis "Goal of the Day." Ia tidak menulis target latihan atau nilai ulangan. Ia hanya menulis satu kata: Dara.

Ia meraih ponselnya. lelaki itu melihat pesan yang ia terima di hari kelima, saat ia absen mengawasi Dara di GOR, yang kini terasa begitu lama:

 

Aldara Adelia: GOR sudah bersih 90% sesuai standar lo. Lo juga jangan buang-buang waktu lo buat hal yang nggak perlu. Take care.

 

Aksal menatap kata "Take care." Di tengah semua suara pertengkaran yang menuntut dan menyalahkan, pesan Dara adalah satu-satunya suara terstruktur dan baik yang ia terima. Dara adalah satu-satunya orang yang melihat kerapuhannya dan memberinya izin untuk beristirahat. Aksal tahu ia harus menjauhkan Dara. Tetapi ia juga tahu, ia tidak bisa lagi mengabaikannya. Ia harus bertindak.

***

Pagi itu, di SMA Cendrawasih, lorong utama dipenuhi keramaian. Para siswa bergegas ke kelas, tawa bercampur dengan suara gemerisik buku. Bagi Aldara Adelia, suasana itu terasa seperti kebisingan yang berlebihan.

Sejak Aksal menghilang di balik pintu GOR, dan terutama sejak pengakuannya yang menyakitkan tentang permasalahan orang tuanya, pikiran Dara dipenuhi chaos yang ia duga. Ia merasa khawatir, tetapi ia juga merasa harus menghormati jarak yang Aksal coba ciptakan. Ia memutuskan untuk kembali fokus pada rencananya: arsitektur, presisi, dan menghindari drama.

Ia berjalan di koridor, berpura-pura sangat fokus pada ponselnya—seolah-olah jadwal ulangan yang ia baca di layar jauh lebih menarik daripada segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Tiba-tiba, udara di sekitarnya menegang. Aksal berjalan dari arah berlawanan. Ia tidak mengenakan kaus training, melainkan seragam sekolah yang sangat rapi—kemeja disetrika kaku, rambut dipotong pendek dan teratur. Ia membawa tumpukan buku, wajahnya kembali ke ekspresi ‘Kapten Dingin’ yang tak tersentuh.

Jantung Dara berdebar tidak efisien. Ini adalah pertemuan pertama mereka di lingkungan sekolah yang normal sejak semua rahasia terungkap. Mereka berdua berjalan lurus, dan jarak di antara mereka menyusut cepat.

Aksal melihat Dara. Ekspresinya sesaat menunjukkan perjuangan internal yang hebat. Ia merasakan dorongan kuat untuk berhenti, meminta maaf atas kekacauan di rumahnya, atau bahkan bertanya tentang pameran arsitektur yang mungkin Dara kunjungi. Tetapi, ia segera mengendalikan diri. Ia tidak boleh menunjukkan kerentanan di lorong sekolah. Ia tidak boleh mengganggu rutinitas Dara. Aksal mengalihkan tatapannya ke dinding, seolah ia sedang menghitung jumlah ubin di sana.

Dara melihatnya. Ia melihat usaha Aksal untuk menjadi patung es lagi. Ia melihat ketegangan di rahang Aksal. Dara merasakan dorongan untuk bertanya tentang kondisi rumah dan orang tuanya, tetapi ia menahan diri. Ia tahu Aksal butuh ruang dan waktu. Jika Aksal ingin kembali ke perannya, Dara akan memenuhinya. Dara menarik napas dalam-dalam dan memiringkan kepalanya. Ia memasang tatapan jauh, seolah ia sedang membaca tulisan di papan pengumuman yang terletak jauh di ujung lorong. Ia bahkan sedikit mempercepat langkahnya.

Dalam jarak sepersekian detik, bahu mereka nyaris bersentuhan. Keheningan di antara mereka lebih bising daripada seluruh lorong.

Mereka melewatinya.

Dara terus berjalan, pura-pura tidak terpengaruh, tetapi ia merasakan telinganya memanas. Dia benar-benar kembali menjadi Kapten Robot, pikir Dara, antara kecewa dan lega. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali.

Aksal melanjutkan langkahnya, tangannya mencengkeram tumpukan buku begitu erat hingga buku-buku itu bergeser. Lo harus fokus, kata Aksal pada dirinya sendiri, mengulang mantra efisiensi. Jangan buang waktu lo buat hal yang nggak pasti.

Mereka berhasil melewati satu sama lain tanpa sepatah kata pun, tanpa kontak mata. Sebuah interaksi yang secara fisik efisien, tetapi secara emosional adalah pemborosan waktu yang sangat besar.

Pertemuan singkat dan penuh kebisuan itu hanya menegaskan satu hal: meskipun mereka sudah berbagi rahasia yang intim, dinding pertahanan Aksal masih berdiri, dan Dara menghormati batas yang ia ciptakan. Namun, di lorong yang sama, tak jauh dari sana, Rayyan muncul. Ia berjalan santai, mencari-cari Dara. Aksal, yang baru saja melewati Dara, menoleh dan melihat Rayyan tersenyum lebar ke arah Dara. Chaos yang Aksal hindari baru saja muncul di depannya. Aksal tahu, ia tidak bisa lagi bermain aman.

Saat jam makan siang, Dara duduk bersama Lia di kantin, tempat yang sama seperti saat Rayyan memberikan tawaran. Pikiran Dara masih dipenuhi kebisuan Aksal di lorong tadi pagi. Aksal telah memilih untuk kembali menjadi Kapten Dingin, dan Dara harus menganggap pengakuannya sebagai sebuah anomali emosional yang sudah lewat.

"Gue bilang juga apa, Ra," bisik Lia sambil menyantap bakso. "Aksal itu kayak matematika kuantum. Rumit, nggak efisien untuk kehidupan sehari-hari. Lo nggak butuh cowok yang bikin lo mikir keras cuma buat urusan senyum."

"Dia cuma sibuk," jawab Dara datar, meskipun ia tahu itu adalah sebuah kebohongan.

Tepat pada saat itu, Rayyan menghampiri meja mereka. Ia tersenyum ramah, membawa nampan berisi makan siangnya sendiri.

"Dara! Pas banget!" sapa Rayyan. "Gue mau follow up soal pameran arsitektur di museum kota sore ini. Lo nggak lupa kan?"

Dara tersenyum sopan. Rayyan adalah kebalikan mutlak dari drama yang baru saja ia alami. Rayyan adalah kepastian.

"Maaf ya waktu di lorong koridor tadi gue lagi buru-buru, jadi enggak sempat ngobrol," ucap Dara mengingat obrolan yang ia tinggalkan bersama Rayyan saat di koridor "Nggak lupa kok, Rayyan. Gue siap," jawab Dara.

Lihat selengkapnya