Rumah Di Tengah Badai
Fase pertama adalah tentang konstruksi, tentang bagaimana dua fondasi yang berlawanan dipaksa untuk bersentuhan. Aksal adalah cetak biru yang kaku, hidupnya dirancang dari garis lurus yang presisi, dirangkai demi efisiensi tertinggi agar ia tidak mudah runtuh. Sementara Dara, adalah seniman yang memahami bahwa keindahan sejati sering kali lahir dari lekukan tak terduga, dari penolakan terhadap kesempurnaan yang membosankan.
Kini, persaingan telah mereda. Mereka telah memilih untuk memasuki fase pembangunan yang sebenarnya. Cinta, bagi mereka, bukanlah ledakan dramatis yang tak terstruktur; melainkan adalah sebuah proyek arsitektur jangka panjang. Aksal harus belajar melepaskan sebagian kontrolnya, membiarkan Dara menjadi insinyur yang memasukkan unsur fleksibilitas dan jiwa ke dalam dinding pertahanannya yang tebal. Ia harus menggeser fokusnya dari menghitung skor basket, menjadi menghitung detak jantungnya yang berdebar setiap kali Dara tersenyum.
Di tengah-tengah badai perceraian yang masih menggantung, di antara tumpukan dokumen pengacara dan suara-suara sumbang yang memanggilnya pulang ke rumah yang dingin, Dara Adelia menjadi anchor. Ia adalah satu-satunya struktur yang Aksal butuhkan, satu-satunya 'tempat pulang' yang tidak menuntut formalitas atau efisiensi. Mereka memulai kisah normal mereka, di tengah kekacauan yang paling tidak normal, membuktikan bahwa komitmen sejati adalah janji untuk saling melindungi, bukan untuk saling mengontrol.