INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #9

Komitmen dan Inefisiensi

Jumat sore, GOR SMA Cendrawasih penuh dengan suara decitan sepatu dan peluit. Aksal Danendra memimpin sesi latihan dengan fokus yang tajam, tetapi ia sudah tidak lagi memakai topeng robotnya. Ia lebih sering tersenyum, terutama saat melirik Dara di lapangan. Hubungan mereka berjalan normal, romantis dalam caranya sendiri yang unik—penuh kejujuran yang menenangkan.

Di tengah sesi drill, saat Aksal mengambil time out untuk memberikan instruksi, ponselnya yang ia letakkan di pinggir lapangan bergetar keras. Aksal mengabaikannya selama beberapa detik, tetapi kemudian, ia melihat sekilas nama pengacara Ibu Risa di layar. Ia tahu ia tidak bisa menundanya. Aksal melangkah menjauh, mengangkat telepon. Suaranya terdengar serius. Sesi mediasi final harus dilakukan mendadak pada sabtu sore, melibatkan penandatanganan dokumen penting dan kehadiran Aksal. Tidak bisa ditunda, ini adalah akhir dari chaos perceraian.

Wajah Aksal langsung memucat. Ia baru ingat, malam minggu yang akan datang adalah jadwal film yang Dara tunggu-tunggu.

Ia mengakhiri panggilan, wajahnya tegang. Ia berjalan kembali ke tim, memberikan instruksi penutup dengan nada sedikit terburu-buru.

Setelah latihan selesai dan para pemain mulai membubarkan diri, Aksal berjalan ke arah Dara yang sedang memasukkan bola ke dalam karung. Ia tidak mengirim pesan, ia menemuinya secara langsung.

"Dara, kita perlu bicara," kata Aksal, tanpa basa-basi.

Dara mendongak, melihat ketegangan di mata Aksal yang sangat familiar, tetapi kali ini, ia juga melihat penyesalan yang jujur.

"Urusan pengadilan?" tanya Dara, nadanya sudah mengerti.

Aksal mengangguk. "Mediasi final. Besok sore. Gue harus ada di sana untuk penandatanganan dokumen. Gue—gue harus membatalkan janji kita malam minggu."

Aksal menunggu reaksi marah Dara, atau setidaknya kekecewaan yang terstruktur. Tetapi Dara hanya tersenyum tipis.

"Gue tahu, Aksal," kata Dara. "Gue melihat lo panik saat telepon berdering. Itu yang penting."

"Penting?" Aksal mengerutkan dahi. "Tapi itu janji pertama kita untuk kencan film yang normal. Gue melanggarnya di minggu pertama kita pacaran. Itu foul yang besar, Dara."

"Dengar," kata Dara, ia mendekat dan menyentuh lengan Aksal. "Jujur, gue kecewa. Tapi gue lebih menghargai lo karena lo langsung bilang ke gue secara langsung, daripada lo menyembunyikannya atau membuat alasan yang efisien."

"Gue minta maaf," bisik Aksal, suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Gue janji ini yang terakhir. Setelah ini, chaos di rumah gue selesai."

Lihat selengkapnya